
Judul film : Miracle in Cell No.7
Sutradara : Lee Hwan Kyung
Produser : Kim Min-ki, Lee Sang-hun
Penulis : Lee Hwan-kyung, Yu Young-a, Kim Hwan-sung, Kim Young-seok
Pemeran : Ryu Seung-ryong (Lee Yong-gu), Kal So-won (Yea Seung kecil), Park Shin-hye (Yea Seung dewasa), Jung Man-shik (Shin Bong-Shik), Park Won-san (Choi Chun-ho), Kim Jung-tae (Kang Man-beom), Oh Dal-su (So Yang-ho), Kim Gi-cheon (Kakek Seo), Jung Jin-young (Jang Min-hwan).
Durasi : 127 menit
Tanggal rilis : 8 maret 2013
Ketika menjadi seorang ayah pasti akan melakukan apapun yang bisa membuat anaknya bahagia meskipun harus kehilangan nyawanya sendiri. Seorang ayah akan selalu melindungi anaknya dari segala macam bahaya yang menghampirinya. Pengorbanan yang dilakukan oleh seorang ayah menunjukan bukti cinta dan kasih sayang kepada putrinya.
Miracle in Cell No.7 diartikan sebagai keajaiban di sel nomor 7. Film ini menceritakan kehidupan seorang ayah yang mengalami gangguan mental dan putrinya yang berusia 6 tahun. Mereka berdua dipisahkan akibat tuduhan pembunuhan hingga hukuman mati yang harus dijalani sang ayah.
Yea Seung dewasa adalah seorang pengacara, dimana dia akan membuka kebenaran tentang kasus yang menjerat sang ayah. Yea Seung hadir di pengadilan sebagai pembela untuk sang ayah yang sudah meninggal. Ia meminta kepada hakim agar diadakan penyelidikan ulang terkait kasus yang menimpa sang ayah. Yea Seung mulai berdiri di tengah ruang sidang dan menceritakan kronologi yang sebenarnya.
Penyajian cerita dengan alur mundur, membuat saya terkejut dengan kehidupan Yea Seung di masa kecil. Kehidupan Yea Seung di masa kecil sangat menyedihkan dan membuat haru. Yea Seung harus kehilangan sang ayah di usia yang masih kecil karena terjadi kesalahpahaman dalam kasus yang menjerat ayahnya.
Kejadian bermula ketika Yea Seung menginginkan sebuah tas bergambar sailor moon di sebuah toko, tetapi tas itu sudah dibeli oleh seorang anak komisaris polisi. Ayah Yea Seung menghampiri anak tersebut bermaksud ingin mengatakan bahwa jangan membeli tas itu karena Yea Seung sangat menginginkannya, tetapi tiba-tiba sang komisaris langsung memukul sang ayah.
Pada siang hari anak komisaris polisi datang ke tempat kerja Lee Yong-gu memberitahu bahwa ada toko lain yang menjual tas bergambar sailor moon. Akhirnya Lee Yong-gu mengikuti anak tersebut dari belakang. Ketika sedang berjalan tiba-tiba anak itu jatuh dan meninggal.
Disinilah kesalahpahaman bermula, Lee Yong-gu yang hendak menolong anak tersebut dengan memberikan PCR dan pertolongan pertama disalahartikan oleh pihak kepolisian. Polisi mengira bahwa Lee Yong-gu telah menculik, memperkosa hingga membunuh anak tersebut. Lee Yong-gu yang memiliki gangguan mental tidak mengerti apa yang terjadi pada dirinya, ia hanya menginginkan untuk pulang dan bertemu dengan Yea Seung.
Di film ini diceritakan bahwa kesalahpahaman masih terus berlanjut. Lee Yong-gu akhirnya ditahan di sel nomor 7 bersama lima narapida lainnya. Sampai saat itupun Lee Yong-gu tidak mengerti keadaan yang sebenarnya, ia hanya memikirkan putrinya yang sendirian di rumah.
Sebuah keajaiban dihadirkan di film ini dengan kedatangan Yea Seung di sel nomor 7. Pada saat itu di penjara akan diadakan acara keagamaan dan ternyata Yea Seung ikut didalamnya. Lee Yong-gu sangat bahagia dengan kehadiran putrinya dan napi lainnya ikut merasakan kebahagian yang dialaminya.
Perpisahan Yea Seung dengan sang ayah menimbulkan kesedihan bagi keduanya. Hingga pada suatu hari Yea Seung harus dirawat di rumah sakit. Kepala sipir penjara menemui Yea Seung yang dirawat. Yea Seung dengan polosnya meminta kepada kepala sipir agar dia dimasukan di penjara saja agar bisa hidup bersama sang ayah.
Hingga pada akhirnya, mereka berdua dapat hidup bersama lagi di dalam sel. Kepala sipir membolehkan Yea Seung untuk tinggal dalam sel bersama ayahnya. Disinilah sebuah keajaiban kembali datang di dalam sel nomor 7. Yea Seung membuat semua orang merasakan kebahagiaan walaupun berada dalam penjara.
Persidangan terakhir sang ayah segera digelar dan seketika membuat suasana sedih. Kemudian munculah ide dari teman-teman napi (Bong-Shik, Chun-Ho, Man-Beom, Leader, dan Kakek Seo ) untuk mengetahui kejadiaan sebenarnya pada saat anak komisaris meninggal. Mereka melakukan reka ulang adegan dan dari reka ulang diketahui bahwa penyebab anak komisaris polisi meninggal karena jatuh terpeleset air es di jalan, dahinya luka karena tertimpa bata, dan Lee Yong-gu hanya ingin memberikan bantuan pertolongan pertama pada anak tersebut.
Film ini membuat perasaan penonton menjadi kesal saat komisaris polisi bertemu dengan Lee Yong-gu dan meminta Lee Yong-gu untuk mengakui kesalahannya, jika ia tidak mengakui kesalahannya maka Yea Seung akan dibuat senasib dengan putri komisaris tersebut. Lee Yong-gu yang gangguan mental mulai memikirkan nasib putrinya.
Film ini kembali membuat perasaan menjadi sedih saat Lee Yong-gu harus mengakui kesalahan yang tidak pernah dibuatnya demi keselamatan putrinya. Dalam persidangan diputuskan bahwa Lee Yong-gu dinyatakan bersalah dan dijatuhi hukuman mati.
Hari demi hari dilewati Yea Seung bersama ayahnya didalam sel. Yea Seung merayakan ulang tahunnya di dalam sel bersama napi lainnya. Akhirnya ia mendapat hadiah tas sailor moon yang ia impikan selama ini. Tanpa disadari keduanya, itulah terakhir kalinya mereka bisa bertemu.
Tibalah saatnya sang ayah menerima hukuman mati, Yea Seung bersama kepala sipir penjara (Jang Min-hwan) mengantarkan sang ayah ke tempat eksekusi. Dengan polosnya keduanya saling mengucapkan salam perpisahan yang membuat perasaan menjadi haru. Setelah kepergian sang ayah, Yea Seung diadopsi oleh kepala sipir dan istrinya.
Film ini benar-benar membuat penonton seolah olah terlibat di dalamnya. Perasaan haru, sedih, canda, dan sedikit kesal silih berganti ditampilkan dalam cerita yang berdurasi 127 menit. Perasaan sedih yang ditampilkan membuat penonton hanyut di dalamnya hingga meneteskan air mata.
Pada akhir film, cerita kembali pada proses persidangan. Yea Seung menjelaskan kepada hakim bahwa cerita yang diceritakan adalah cerita yang sebenarnya karena ia melihat langsung apa yang sebenarnya terjadi. Setelah mendengarkan penjelasan dari Yea Seung, selaku pembela (Lee Yong-gu) pada kasus tersebut akhirnya hakim memutuskan bahwa Lee Yong-gu tidak bersalah.
Perasaan bahagia bercampur sedih menyelimuti suasana persidangan itu, teman teman ayahnya dan kepala sipir penjara bahagia mendengar keputusan hakim. Yea Seung hanya memandangi foto sang ayah sambil tersenyum manis dan meneteskan air mata. Akhirnya usaha Yea Seung untuk membersihkan nama ayahnya dan membuktikan kepada semua orang bahwa ayahnya tidak bersalah membuahkan hasil yang bahagia.
Meskipun konflik dari film ini pada awalnya sulit untuk dipahami namun cerita yang disajikan bisa sampai kepada penonton bahkan sampai membuat penonton meneteskan air mata. Ditambah lagi dengan soundtrack pada film ini yang sangat sesuai dengan suasana yang disajikan dalam cerita.
Penulis : Jannah Arrum Sari
Mahasiswa Aktif Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS)
Editor : Mulyani Adi Astutiatmaja
Baca Juga : Korporatisme Menjegal Perjuangan Kolektif Mahasiswa







