Moderator membuka sesi diskusi setelah nonton bersama di GOR Kampus 2 UMS. (22/5) Foto: Najwa Putri Zaliyanti

Pabelan-online.com, UMS – Forum diskusi dan acara nonton bareng (nobar) film dokumenter Pesta Babi kolaborasi sejumlah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) yang digelar di gedung Gelanggang Olahraga (GOR) kampus 2 Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) pada Jumat malam, 22 Mei 2026.

Diskusi dan pemutaran film dokumenter bertajuk “Pesta Babi” yang dihadiri mahasiswa dan aktivis membahas dampak Proyek Strategis Nasional (PSN) terhadap masyarakat adat Papua, mulai dari perspektif hukum, kebudayaan, hingga ekonomi.

Cak Ghofur, pegiat hukum sekaligus pemantik diskusi pertama membagikan perspektifnya dari segi hukum, ia menyoroti bagaimana instrumen hukum kerap kali bertolak belakang dengan sebagaimana mestinya. Menurutnya, negara menjadikannya senjata kekuasaan lewat rumitnya administrasi negara, bukan sebagai payung hukum.

“Makanya sekali lagi, bicara tentang hukum itu bukan lagi bicara benar atau salah, tetapi berbicara legal atau tidak legal,” ucapnya pada sesi diskusi, Jumat (22/5/2026).

Pemantik kedua, Bli Misbah, seorang aktivis yang memberikan pandangannya lewat kebudayaan. Ia mengusulkan untuk melakukan revolusi dinamit dengan 3 jalur: intelektual, spiritual, dan kultural.

“Aktivis bergerak sendiri, politik bergerak sendiri, kebudayaan bergerak sendiri. Nah menurut saya ruang intelektual itu punya tanggung jawab yang cukup berat untuk merekonsiliasi silaturahmi ini,” ujarnya jumat (22/5/26).

Pembicara terakhir, Rian Pratama, mahasiswa S2 Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) yang membuka sesinya dengan puisi, membagikan korelasi konflik Papua dengan sudut pandang ekonomi. Ia memaparkan program food estate lintas rezim, mulai dari rezim Soeharto, SBY, Jokowi, hingga Prabowo yang telah menggelontorkan anggaran negara senilai 116 hingga 246 triliun rupiah.

“Dengan uang kurang lebih 200 triliun itu bisa lah kita beli alat buku, benih, kita memaksimalkan petani lokal dulu seperti yang dilakukan di Belanda dan Australia,” katanya, Jumat (22/5/26).

Salah satu pengunjung, Salsa mengaku pengalaman pertamanya mengikuti nobar dan diskusi “Pesta Babi” telah membuka wawasannya.

“Lebih bisa memandang Indonesia itu kayak gimana, harus melek politik lah, jangan cuma terima apa yang pemerintah lakuin itu kita harus tau transparansinya kayak gimana,” ujarnya Jumat (22/5/26).

Reporter: Najwa Putri Zaliyanti

Editor: Fauziah Salma Anfihar

Penulis

Also Read

Tinggalkan komentar