LPM Pabelan

Menjadi Tidak Untuk Kita

Sebelum pergi dipisah pagi
Kusesap kopi hingga tandas
Asap yang mengepul berhembus
Meramu rasa dalam sayup-sayup anila

Ibarat kenang; nampaknya kita
Hanyalah serpihan duka dan lara
Dalam bimbang yang terasa hampa
Dan akan beranjak tuk saling melupa

Di batas bibirmu
Usai meramu pilu
Sebelum ego kita menggebu
Kemudian menyaru sebagai sembilu

Sepertinya waktu; barangkali kita
Punya sesal yang tak bisa diungkapkan
Mari kita kembali berjumpa
Berpeluk rindu; merengkuh luka

Jejak Kata

Kata-kata mengilhami perbincangan dikala senja melanda
Ada kata yang rela kita tertawakan
Ada kata terbawa dalam setiap rasa
Dan ada pula, yang layu hingga terbunuh di daun telinga

Memang terkadang kita tak mengerti
Mengapa kata-kata itu menari sendiri
Memenuhi atma dengan warna-warni
Saling memandang, bertatap mata dan membakar sukma

Nampaknya memang kita
Telah terlanjur jauh dan kusut
Diburu waktu dalam gejolak rasa yang kelabu
Entah berapa lukanya yang digenggam membiru

Sederet jejak kata
Menyulap setiap jengkal demi jengkal
Menjadikan daksa sebagai pelipur lara
Hingga rubuh tak berdaya; tiada

Temaram Senja

Senja mulai temaram
Dan pohon rimbun tertegun
Atma mulai ku rebahkan dalam lamunan
Biar onak duri dan daksa bercengkrama dengan sendu

Semoga sebelum malam tiba
Pertanyaan yang tak berujung ini
Bisa perlahan ku semai
Ku cari tahu, bahwa tak ada jawaban yang pasti

Bahkan sebelum senja terpejam
Ilalang-ilalang dalam kenang
Alunan gemercik air terasa jenuh
Perlahan sedikit terbuai dalam mimpi

Walau tetap kembali menjadi harapan
Menengadah atma menatap cakrawala
Dengan daksa yang mulai melayu
Biarlah semuanya hancur dan berserakan

Penulis: Bagas Pangestu

Mahasiswa Aktif Universitas Muhammadiyah Surakarta Fakultas Agama Islam

Editor: Rifaa Husnul Khotimah

Also Read

Tinggalkan komentar