
Diksi-diksi penuh ilusi
Dia berucap seolah tak akan memperdayai
Menyeruak bau pahit ucapannya dari ujung kaki sampai ujung kepala
Buruk penciumanku dibuatnya
Hampir saja aku mati karena frasa tak bernyawa
Kau
Lalu aku bertanya pada kau
Yang punya nyawa tapi tak punya jiwa
Yang punya akal tapi tak punya hati
Hanya saat kau di dasar tanah kau berlutut
Melewati satu dua anak tangga
Lalu terlepas antara tangan dan mulutmu
Air dalam sumurku itu
Kusimpan untuk anak-cucuku
Lalu kau buat sumurku terbelenggu oleh syairmu
Tak kau izinkan aku menyentuh air yang kusimpan
Lalu kau ucap aku yang tak sopan?
Kau
Pembuat syair-syair palsu
Langkahku berat karena kau yang kutuntun, kuberi jalan, dan kuberi makan
Kau bukan tikus tapi menggerogoti tiap celah yang bukan milikmu
Mengais seribu lumbung untuk mengisi satu perut
Tapi tetaplah aku yang menjadi binatang
Dan kau, tak pernah mengenali dirimu sendiri
Semarang, 22 Maret 2025
Penulis : Bella Cindy ClarestaIni






