
Kentut
Mencintaimu … seperti gumpalan kentut yang memaksa keluar dari belahan di tengah simposium raksasa.
Ambivalen.
Pernahkah kau membayangkan rasanya dilempari batu-batu yang dibungkus puisi?
Aku jatuh cinta bukan pada rupa, tetapi frekuensi jiwa
Kau … adalah bentuk nyata dari idealisme rapuh yang dikeluarkan dari kepala. Validasi pertama dari doa-doa yang nyaris kubatalkan sendiri
Tapi realitas sering kali menjadi bajingan untuk rasa yang tulus. Memaksaku untuk menjalani ritual sakral bagi setiap yang memiliki roh di bumi:
Patah hati.
Membuat untaian doa-doaku menangis mencari jalan pulang.
Mantra Rahasia
Aku memang bukan penyihir yang malam-malam mengaduk kuali raksasa berisi cairan magis
Aku memang bukan tukang tenung yang merapal untaian ramalan
Aku memang bukan dukun yang duduk di belakang asap dupa
Namun aku memiliki mantra rahasia: namamu
Cintaku hanyalah catatan kaki di surat Kafka
Aku menulismu hidup-hidup
Engkau … yang dilahirkan untuk dipanggil dengan jarak
Siluet
Hatiku sempurna perawan sebelum kedatanganmu.
Engkau menumpang siluet, bukan kehidupan
Aku tak bisa memakamkan mayat ini sembarangan, di dagunya masih tertaut sisa-sisa senyummu. Di pipinya masih ada jejak-jejakmu, di matanya … masih tertinggal sorotmu.
Di mana aku harus mengebumikannya?
Aku takut ia masih akan menyimpan sisa-sisa residu yang akan meracuni dadaku.
Jenazah ini … masih bayi. Bayi cinta yang tercipta dari frekuensi satu arah dan mengharuskanku merawatnya.
Dia lapar, dia menangis, dan aku tak tahu harus memberikannya susu dari mana.
Pada akhirnya dia mati dan butuh tanah untuk memeluknya.
Aku menggelar upacara yang agung untuk melepas kepergiannya.
Dan tugas terakhirku, adalah memastikan bahwa dirku tak ikut terkubur.
Cara Paling Sunyi
Semesta membuka kanal nadiku
Di notes aplikasi pesan yang tak pernah terkirim
Di larik-larik puisi yang menggurat di kertas
Di penggal-penggal sajak yang hidup lewat napas
Di situlah cintaku padamu
Aku mampu melukis jiwamu di kepalaku tanpa menyentuh sedikitpun tanganmu. Karena hanya dari situlah aku bisa menggapaimu tanpa protokol.
Angan yang kubangun diam-diam, bata demi bata, dari idealisme, tuntunan semesta, dan kesengsaraan eksistensial yang minta dimengerti.
Aku merindukan rengkuhmu, tapi yang bisa kugenggam hanyalah onggokan huruf.
Penulis: Abril Nabila Taufik








