LPM Pabelan

Ilustrasi: Pabelan Online/Aqnansean

Secangkir kopi di jam dua pagi

Ditemani secercah cahaya di tengah-tengah temaram 

Ditemani suara dengkuran merpati di seberang jalan

Dan dikasihani oleh bintang yang hanya muncul ketika langit menggelap

Pun aku berpikir tentang mereka yang berseberangan namun berdampingan 

Perjalanan dan pemberhentian yang ujungnya tak pernah terungkap

Pada saat langkah pertama tak pernah berhenti sebelum jantungnya berhenti 

Dan saat pemberhentian tak boleh dijumpai

Lalu aku bertanya-tanya sampai kapan kopi ini harus aku isi?

Sampai kapan tamaram harus diiringi secercah cahaya bak pengabdian diri? 

Dan kapan merpati itu bangun lalu mengepakkan kebebasan yang terkurung? 

Aku sudah tak berharap sebuah pengasihan lagi

Katakan pada yang sudah membersamai saat tumbuhnya kesadaranku

Jika angka satu adalah langkah kananku

Maka langkah kiriku adalah tak terhingga

Hanya dicukupkan saat bayanganku mengudara

Rasa dan Kontradiksi

Ada sebuah jarak yang amat tak tergapai

Atas kepala yang berisikan kanan dan kiri

Atas jiwa yang menginginkan malam dan pagi

Keduanya bersatu namun bak berperang atas nama diri

Dini hari menjadi tempat berdampingan keduanya

Sesekali didominasi dan sesekali mendominasi

Berbaur bagai paradoks kehidupan

Tetap berjalan jika di atas tanah dan tetap mengalir jika di bawah air

Sungguh aku ikut bertanya-tanya dan menerka-nerka 

Apakah periode waktu dapat menghentikan semuanya? 

Jikalau iya maka habislah keduanya

Mereka tak pernah menang dan tak pernah kalah

Ujungnya tak benar-benar berujung 

Usainya tak mungkin selesai

Lerainya tak sampai bercerai

Maka tetap biarkanlah keduanya berdampingan tanpa jeda dan menyelami kontradiksi rasa

Tuan Uang

Tuan Uang….

Kupanggil kau tuan karena kau yang berkuasa 

Tapi tuan….

Saya ingin kau bertanggung jawab

Terhadap apa yang kau perbuat pada manusia dan hatinya

Terhadap tali yang terpisah

Terhadap piring yang terbelah

Tuan apa kau tidak tahu?

Saking manusia menghamba kepadamu

Mereka menjadi buta, tuli bahkan mati

Mereka sangat mencintai kau yang mematahkan nuraninya

Mereka sangat mencintai kau yang melumpuhkan akalnya

Karena kau mereka menentang kerabat, orang tua bahkan Tuhannya

Kericuhan dunia karena haus kehadiranmu

Kekacauan akal karena ingin merenggutmu

Sebanyak-banyaknya kau sampai memenuhi jiwanya

Tuan, saya tidak menyangkal saya pun tak bisa hidup tanpa kau 

Tapi tuan…..

Seandainya hidup bisa hanya dengan napas

Tanpa ragu saya akan bersamanya saja

Seandainya semua tahu bahwa tuan hanyalah sebuah alat 

Tak seharusnya menjadi sebuah kiblat

Penulis: Clarestaabella

Also Read

Tinggalkan komentar