
Secangkir kopi di jam dua pagi
Ditemani secercah cahaya di tengah-tengah temaram
Ditemani suara dengkuran merpati di seberang jalan
Dan dikasihani oleh bintang yang hanya muncul ketika langit menggelap
Pun aku berpikir tentang mereka yang berseberangan namun berdampingan
Perjalanan dan pemberhentian yang ujungnya tak pernah terungkap
Pada saat langkah pertama tak pernah berhenti sebelum jantungnya berhenti
Dan saat pemberhentian tak boleh dijumpai
Lalu aku bertanya-tanya sampai kapan kopi ini harus aku isi?
Sampai kapan tamaram harus diiringi secercah cahaya bak pengabdian diri?
Dan kapan merpati itu bangun lalu mengepakkan kebebasan yang terkurung?
Aku sudah tak berharap sebuah pengasihan lagi
Katakan pada yang sudah membersamai saat tumbuhnya kesadaranku
Jika angka satu adalah langkah kananku
Maka langkah kiriku adalah tak terhingga
Hanya dicukupkan saat bayanganku mengudara
Rasa dan Kontradiksi
Ada sebuah jarak yang amat tak tergapai
Atas kepala yang berisikan kanan dan kiri
Atas jiwa yang menginginkan malam dan pagi
Keduanya bersatu namun bak berperang atas nama diri
Dini hari menjadi tempat berdampingan keduanya
Sesekali didominasi dan sesekali mendominasi
Berbaur bagai paradoks kehidupan
Tetap berjalan jika di atas tanah dan tetap mengalir jika di bawah air
Sungguh aku ikut bertanya-tanya dan menerka-nerka
Apakah periode waktu dapat menghentikan semuanya?
Jikalau iya maka habislah keduanya
Mereka tak pernah menang dan tak pernah kalah
Ujungnya tak benar-benar berujung
Usainya tak mungkin selesai
Lerainya tak sampai bercerai
Maka tetap biarkanlah keduanya berdampingan tanpa jeda dan menyelami kontradiksi rasa
Tuan Uang
Tuan Uang….
Kupanggil kau tuan karena kau yang berkuasa
Tapi tuan….
Saya ingin kau bertanggung jawab
Terhadap apa yang kau perbuat pada manusia dan hatinya
Terhadap tali yang terpisah
Terhadap piring yang terbelah
Tuan apa kau tidak tahu?
Saking manusia menghamba kepadamu
Mereka menjadi buta, tuli bahkan mati
Mereka sangat mencintai kau yang mematahkan nuraninya
Mereka sangat mencintai kau yang melumpuhkan akalnya
Karena kau mereka menentang kerabat, orang tua bahkan Tuhannya
Kericuhan dunia karena haus kehadiranmu
Kekacauan akal karena ingin merenggutmu
Sebanyak-banyaknya kau sampai memenuhi jiwanya
Tuan, saya tidak menyangkal saya pun tak bisa hidup tanpa kau
Tapi tuan…..
Seandainya hidup bisa hanya dengan napas
Tanpa ragu saya akan bersamanya saja
Seandainya semua tahu bahwa tuan hanyalah sebuah alat
Tak seharusnya menjadi sebuah kiblat
Penulis: Clarestaabella






