LPM Pabelan

UMS, pabelan-online.com – Program-program prioritas Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbud Ristek) terancam tidak berjalan optimal pada tahun 2025. Hal itu terjadi akibat ada wacana pengurangan anggaran yang akan berpengaruh pada beberapa program seperti Program Indonesia Pintar (PIP), Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah, tunjangan guru, dan Bantuan Operasional Perguruan Tinggi Negeri (BOPTN).

Melansir dari Kompas.com, wacana tersebut diungkapkan oleh Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Nadiem Makarim, dalam Rapat Kerja dengan Komisi X DPR RI pada Kamis (29/8/2024) lalu.

“Ini (pengurangan anggaran – red) menyebabkan beberapa ketidakoptimalan dalam pembiayaan program-program wajib dan prioritas kami seperti PIP, KIP Kuliah, tunjangan guru, dan lain-lain. Termasuk BOPTN,” kata Nadiem, seperti dikutip dari akun YouTube TV Parlemen, Jumat (30/8/2024).

Nadiem mengatakan, pada Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2025 Kemendikbud mendapatkan porsi anggaran pendidikan sebesar 83,19 triliun.

“Pagu anggaran Kemendikbud ditetapkan di Rp 83,19 triliun dan ini lebih rendah Rp 14,51 triliun dibanding pagu anggaran 2024 dan lebih rendah Rp 15,8 triliun dibanding Dipa tahun anggaran 2024,” ujarnya. Nadiem menjelaskan, secara keseluruhan anggaran pendidikan memang meningkat dari Rp 665 triliun di tahun 2024 ke Rp 722 triliun di tahun 2025.

Namun, anggaran Kemendikbud menurun secara absolut dan proporsional hingga menyebabkan alokasi anggaran untuk program di Kemendikbud tidak optimal.

Menanggapi wacana pengurangan anggaran pendidikan ini, dihubungi oleh reporter pabelan-online.com, Muhammad Bahrul Widad salah satu mahasiswa penerima Beasiswa Kartu Indonesia Pintar (KIP) dari Universitas Negeri Semarang (UNNES) turut memberikan tanggapannya.

Widad mengungkapkan bahwa, dengan adanya Program beasiswa pemerintah seperti KIP sangat membantu mahasiswa dalam keperluan hidupnya.

“Alhamdulilah terbantu ya dengan KIP ini. Tentunya wacana ini membuat saya agak kaget ya, dan semoga tidak terjadi,” ujarnya, Minggu (08/09/2024).

Sebagai penerima KIP, Widad merasa khawatir jika terjadi pengurangan jumlah dana bantuan yang diterima. Menurutnya itu akan berpengaruh pada kebutuhan hidup dan biaya kuliah yang nantinya tidak akan cukup.

“KIP ini cukup untuk membantu meringankan beban kedua orang tua juga pastinya. Mungkin kalau kebutuhan tidak mencukupi, mau tidak mau saya harus mencari penghasilan tambahan dan tentunya itu dapat mengganggu perkuliahan” ungkapnya.

Widad mengungkapkan harapannya agar pemerintah dan universitas tetap berupaya agar bantuan pendidikan seperti KIP tetap optimal meskipun anggaran berkurang. Ia menyatakan bahwa KIP tersebut telah membantunya dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari hari serta beberapa tugas kuliah yang memerlukan biaya yang lumayan

“Pesan saya terus dimaksimalkan dalam hal seperti pencairan dana kip, survei pengguna KIP, dsb. Karena bantuan pendidikan tersebut sangatlah membantu dan insyaallah akan menghasilkan SDM yg hebat dan berpotensi,” harapnya.

Reporter: M.Bayu

Editor: Ferisa Salwa Adhisti

 

Also Read

Tags

Tinggalkan komentar