
Belakangan ini, banyak media yang memberitakan adanya perilaku abusive dalam hubungan, khususnya di kalangan mahasiswa. Padahal idealnya, dalam sebuah hubungan, kedua belah pihak pasangan semestinya saling menunjukkan kasih sayang antara satu sama lain.
Istilah “abusive”, dalam sebuah hubungan merujuk pada perilaku kekerasan fisik, emosional, maupun seksual yang digunakan untuk membentuk kuasa dan kendali terhadap pasangan. Abusive relationship adalah situasi di mana salah satu pihak menggunakan kekuatan dan manipulasi untuk mengendalikan dan merendahkan pihak lainnya secara fisik, emosi, atau psikologis dalam hubungannya terhadap pasangan.
Sudah kita ketahui bersama, adanya perilaku abusive dalam sebuah hubungan jelas tak dapat dibenarkan karena dapat merugikan seseorang. Maka dari itu, untuk mengetahui lebih lanjut mengenai fenomena abusive dalam sebuah hubungan, pabelan-online.com berkesempatan mewawancarai Wiwien Dinar Pratisti selaku dosen Psikologi di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) pada Jumat, 11 Oktober 2024.
Apakah abusive dalam sebuah hubungan dapat dikatakan toxic relationship?
“Idealnya relationship atau hubungan adalah hubungan yang nyaman, penuh kasih sayang, kepercayaan, ada penghargaan, dan ada pengertian dari kedua belah pihak. Ketika sudah mulai ada kejadian yang sifatnya abusive, itu bisa jadi sudah mengarah ke toxic relationship.
Biasanya itu terjadi karena istilahnya ada power distance, gap, dan kekuasaan. Jika seperti itu, sangat mungkin terjadi abusive dan itu menjadi toxic.
Hal itu merugikan kedua belah pihak, yang pasti korban jelas, ya. Namun, pelaku juga dirugikan karena pelaku itu sendiri belajar, jika nanti menjalin relationship lain, ia akan berkepanjangan.”
Apa penyebab seseorang dapat memiliki perilaku abusive?
“Misalnya orang yang sama-sama pendiam, ketika ketemu itu biasanya ada salah satu yang menjadi lebih aktif, orang yang sama-sama cerewet tu biasanya akan ada salah satu yang berkurang. Maka bukan karena keturunan ataupun watak, tetapi karena situasi yang membuat seseorang itu berubah menjadi dominan dan berkuasa.”
Apa penyebab seseorang tidak bisa keluar dari hubungan toxic tersebut?
“Bisa jadi karena sudah terlanjur dan mempertimbangkan banyak hal. Seseorang tidak berani untuk memutus hubungan karena di lingkungan teman-temannya sudah dikenal siapa pacarnya, sudah dikenalkan keluarganya. Sehingga ketika (hubungannya – red) putus, seseorang itu harus bertanggung jawab dengan teman-temannya. Ia harus bercerita, akan banyak hal yang digali, dan itu sebenarnya adalah luka.
Sehingga banyak yang melakukan ialah bertahan sendiri tanpa memberitahu teman ataupun keluarga, bahkan orang lain tidak tahu jika hubungannya sedang dalam masalah.”
Apa dampak yang diterima korban setelah menerima tindakan abusive?
“Yang jelas luka psikologis, karena sudah diotak-atik oleh pikirannya. Kemudian secara fisik menjadi sering sakit-sakitan, atau mungkin prestasi akademiknya menjadi menurun karena terlalu banyak overthinking.
Maka hal yang semula optimal kemudian menjadi turun. Kemudian yang paling parah adanya perubahan kepribadian, seperti stres dan depresi, sampai kemudian self harm.”
Adakah penelitian tentang abusive itu sendiri?
“Penelitian ada tapi tidak di blow up karena ada privasi yang harus dijaga, kemudian abusive juga adalah masalah yang seksi yang mana akan mudah menimbulkan banyak reaksi pro dan kontra, sehingga orang memilih untuk tidak banyak meneliti.”
Adakah tips supaya tidak masuk dalam hubungan toxic relationship?
“Harus jelas di awal, maunya apa dan mau menjalin kerja sama seperti apa. Ada komitmen yang harus disepakati bersama, dan jika ada salah satu pihak sudah merasa yang tidak nyaman maka harus speak up.
Tetap ada komunikasi yang terjaga. Jika tidak nyaman, speak up! Maka akan terjalin hubungan yang aman, nyaman, dan sejahtera.”
Bagaimana cara agar terlepas dari hubungan yang toxic itu?
“Dalam hubungan berpacaran kemudian memutuskan untuk menikah, maka pernikahan bukanlah sebuah akhir, karena setelah itu masing-masing individu akan bertumbuh.
Maka idealnya, adalah saling belajar memahami, bisa juga ketika suasana santai dapat dikomunikasikan supaya tersampaikan dan mendapat jawaban apakah dapat berubah, atau seandainya tidak dapat berubah maka korban yang dapat berubah. Maka harapannya mau berubah. Namun seandainya agak sulit, sifat dan sikap kita juga harus adaptif sehingga hubungan itu bisa tetap bertahan.”
Reporter: Ivana Sarah Azaria
Editor: Muhammad Farhan






