
Pabelan-online.com – Di depan Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD Surakarta), warga Kota Solo bersama Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) se-Solo Raya (SR) menggelar aksi yang bertajuk ‘Indonesia Gelap’ pada Rabu, 19 Februari 2025. Peserta aksi mendesak agar pemerintah menindaklanjuti tuntutan-tuntutan yang diajukan.
Hujan mengguyur jalanan depan Gedung DPRD Surakarta. Di jalanan itu, massa aksi yang terdiri dari mahasiswa, aktivis 98, hingga berbagai lapisan elemen masyarakat kota Solo, berkumpul dalam satu barisan.
Dua malam sebelumnya, diprakarsai oleh BEM SR bersama berbagai kalangan masyarakat, mereka berdebat alot soal persiapan dan tuntutan aksi Indonesia Gelap dalam konsolidasi di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta pada Senin, 17 Februari 2025. Kemudian, di hari selanjutnya, pada 18 Februari 2025, mereka melanjutkan pembahasan teknis lapangan (Teklap) di Universitas Veteran (Univet). Aksi itu pun disepakati bakal digelar pada Rabu, 19 Februari 2025, di Gedung DPRD Surakarta.
Bersama-sama, mereka menuntut pemerintah untuk mencabut Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 1 Tahun 2025, mengevaluasi total program Makan Bergizi Gratis (MBG), menolak Revisi Undang-Undang (RUU) tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) , Tentara Nasional Indonesia (TNI), dan Kejaksaan, mengesahkan RUU Masyarakat Adat, mendesak presiden Prabowo mengeluarkan Perpu Perampasan Aset, serta merealisasikan anggaran Tunjangan Kinerja (tukin) untuk dosen.
Saiful, Presiden BEM Institut Islam Mamba’ul ‘Ulum (IIM) Surakarta yang sekaligus menjadi Koordinator Umum aksi, mendesak agar tuntutan yang sudah disebutkan dapat segera dievaluasi dan ditindaklanjuti oleh pemerintah. Aksi ini, kata Saiful, merupakan suatu bentuk bahwasannya Solo Raya tidak diam saja ketika melihat adanya kebijakan yang dinilai merugikan masyarakat.
“Kita akan tetap terus melawan dan tetap akan terus bergerak ketika kita melihat aparat sudah seenaknya melakukan kebijakan dan membuat peraturan-peraturan yang menyeleweng daripada kebenaran.” ucapnya dengan tegas saat diwawancarai di tengah kerumunan massa, Rabu (19/2/2025).
Sebagaimana yang sudah disepakati dengan pihak DPRD, apabila tujuan dari tuntutan-tuntutan itu tidak tercapai dalam waktu tiga hari, pihaknya akan datang dan kembali menggelar aksi dengan jumlah massa yang lebih banyak. “Kita akan berkomitmen membawa massa lebih banyak semisal tuntutan kita tidak ditindaklanjuti oleh pemerintah!” kata Saiful dengan tegas.
Ridwan, salah seorang mahasiswa demonstran, mengatakan bahwa dirinya muak dengan kebijakan yang sejatinya tidak perlu ada dan diperuntukkan rakyat kecil. Hal tersebut juga menjadi alasannya mengikuti aksi Indonesia Gelap. Sejak dirinya menjadi mahasiswa, dirinya semakin gencar mengikuti aksi-aksi semacam ini.
“Saya terlibat dengan aksi-aksi ini sejak dari SMA” tambahnya, Rabu (19/2/2025).
Bagi Ridwan, aksi seperti ini merupakan salah satu cara untuk menyuarakan pendapat. Dengan membawa massa, seolah-olah menunjukkan kalau banyak orang juga menyepakati suara ini, sehingga menjadi suara mayoritas, dan dapat dijadikan senjata untuk mengubah suatu kebijakan publik.
Ridwan cukup optimis bila aksi semacam ini akan ditindaklanjuti oleh pemerintah. Sebab, menurutnya aksi semacam ini tidak hanya digelar di satu kota saja. Itu sebagai pertanda kalau ada banyak pihak yang tidak sepakat dengan kebijakan yang dikeluarkan. “Kalaupun tidak digubris pemerintah, saya pribadi, ya tetap dalam ranah-ranah edukasi.” ucapnya.
Di antara massa aksi itu, reporter pabelan-online.com juga mewawancarai seorang aktivis 1998. Alasannya menghadiri aksi tersebut, dirinya juga pernah terlibat menggulirkan reformasi, dan kini dirinya kecewa dengan reformasi sekarang karena sudah hancur sejak dipegang oleh satu dekade kepemimpinan Jokowi.
Dirinya begitu tersakiti oleh sebuah cuplikan video pidato Prabowo di acara ulang tahun Gerindra. Dalam video itu, Prabowo mengatakan “Hidup Jokowi!”, menurutnya ucapan seperti itu sungguh menyakiti rakyat Indonesia.
“Jokowi itu penjahat! Dia biang kerusakan di negeri ini!” kecam laki-laki bernama Ahmad Farid Umar Assegaf, Rabu (19/2/2025).
Harapan agar Prabowo memiliki nyali untuk mengadili Jokowi itu masih ada dalam benak Farid. Jika tidak, setidaknya Prabowo berani menurunkan Gibran dari jabatannya, sebagai Wakil Presiden (Wapres).
“Kalau tidak berani menangkap Jokowi atau menurunkan Gibran, buat apa dia jadi presiden?” ujar Farid berapi-api.
Pihaknya bersama Aliansi Rakyat Peduli Indonesia (ARPI) membuktikan bahwa gerakan masyarakat sipil dan mahasiswa sudah tidak bisa dibendung lagi. Itu berarti, gerakan di Solo ini sudah menjadi satu tujuan.
“Gelap kembali ke gelap!” pungkas Farid.
“Inilah awal titik dari Solo untuk Indonesia mengakhiri rezim gelap ini!” imbuh teman Farid yang turut berseru pada reporter.
Reporter: Fernanda Wahdani dan Muhammad Farhan
Editor: Bagas Pangestu
Fotografer: Aqil Adhitya








Satu pemikiran pada “Warga Solo dan BEM SR Gelar Aksi Bertajuk Indonesia Gelap”