Sumber: Canva

Kamis, 26 Februari 2026 lalu Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim (Riau) seorang mahasiswa berinisial R menganiaya F karena patah hati. Melansir dari kompas.id  pelaku tidak mengalami gangguan jiwa. Namun, pelaku memang sosok pendiam, dari patah hati yang ia alami berubah menjadi motivasi utama pelaku menganiaya korban. 

Insiden ini menimbulkan banyak pertanyaan bagaimana hal tersebut bisa terjadi hingga mendorong seseorang melakukan tindakan agresif. Peristiwa yang terjadi dapat dilihat dalam perspektif psikologis, khususnya individu, seperti kemampuan dalam mengelola emosi, pengalaman masa lalu, dan bagaimana individu dapat menerima penolakan. 

Menanggapi peristiwa tersebut, reporter pabelan-online.com mewawancarai Ketua Student Mental Health and Wellbeing Suppport (SMHWS) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Partini pada Kamis, 5 Maret 2026 untuk mengetahui dari perspektif psikologi. 

Apa yang melatarbelakangi seseorang melakukan femisida?

Bisa ditinjau dari berbagai faktor. Tapi kalau sebagai orang yang belajar tentang psikologi, tentu saya akan melihat dari faktor psikologi seseorang sehingga melakukan perbuatan yang seperti itu. Jadi, masing-masing diri kita itu memiliki karakter, dan banyak sekali tipe karakter itu, mau dilihat dari perspektif apa. Namun, secara umum, kalau dikaitkan sama kasus yang seperti ini, ada tipe karakter yang sumbu pendek, ada yang sumbunya panjang. Sumbu pendek itu cepat bereaksi terhadap stimulus yang mengenainya. Semakin kuat stimulusnya, semakin cepat bereaksi. 

Jadi, secara tinjauan psikologis dari setiap individu itu ada tiga komponen. Ada komponen kognitif, ini kekuatan manusia ada di akal, pikiran. Jadi, organ otak kita itu fungsinya sebagai berpikir. Itu yang menyebabkan manusia itu bisa melakukan berbagai inovasi.

Kedua, komponen emosi, perasaan, afeksi yang secara fisiologis itu bersemayam di dada. Jadi, jantung itu sangat-sangat dipengaruhi oleh kehidupan emosi. Jadi, emosi kira itu naik turunnya itu membuat jantung menjadi naik turun percepatannya, itu emosi. Semakin tinggi, kuat emosinya, detak jantungnya menjadi semakin kencang. Semakin melemah, mengecil, semakin lemah. Dua-duanya, selalu tidak baik untuk manusia. Semua yang berlebihan itu tidak baik.

Kemudian yang ketiga, komponen tindakan atau konatif itu kinerja dari otot-otot tubuh, sehingga manusia bebas melakukan manipulasi terhadap dirinya sendiri maupun kepada orang lain. Ketiganya itu tidak bisa terpisah, satu kesatuan dan akan dibimbing oleh komponen atau aspek besar faktor spiritual atau religius. 

Biasanya, bagaimana masa kecil pelaku femisida?  

Sumbu pendek itu sangat dipengaruhi oleh kehidupan masa lalu. Yang lebih ke setiap dia menghadapi persoalan, unfinished business jadi gak selesai. Tidak selesai itu ditandai dengan kalau menghadapi persoalan itu dia cenderung diam. Kemudian bahasa yang biasa dipakai oleh masyarakat umum itu ditekan, dan dilupakan. 

Nah, ditekan dan dilupakan itu tak hilang. Itu tersimpan di dalam diri orang yang tak menyelesaikan tadi. Memilih untuk melupakannya, memilih untuk menekan gitu ya. Mungkin dia lupa tapi itu gak hilang. Tapi kalau menyelesaikan itu bisa hilang, bersih. Nah tumpukan-tumpukan peristiwa masa lalu yang tidak menyenangkan itu kan menjadi semakin besar. Jadi kayak gunung gitu. Dan gunungnya ini hidup, nggak mati, sehingga nanti kalau ada trigger, ya. Ada trigger, meskipun triggernya itu sangat sederhana, ini bisa meledak.

Apa saja yang mempengaruhinya?

Semua faktor itu selalu ada dua, internal dan eksternal. Setiap saat kita kan punya masalah ya. Nah, bagi pola asuh yang demokratis atau yang orang tuanya itu selalu mengajarkan kepada anaknya, bahwa setiap persoalan harus selesai. Pola pengasuhannya, orang tua, gurunya, temennya, lingkungannya, bahkan cuaca aja bisa juga mempengaruhi kan? Jadi itu eksternal. Sedangkan yang internal itu satu genetik. 

Kadang, kita tuh punya tipe-tipe atau pola-pola kepribadian atau karakter yang berasal dari keturunan gitu ya, dari bapak ibu kita gitu. Faktor internal jelas kepribadiannya, karakternya tadi yang dari awal sudah saya bicarakan itu sangat internal sekali. Dan sebenarnya setiap karakter seseorang, selama dia memiliki kemauan untuk mengembangkan diri ke arah yang ideal gitu, selalu ada peluang sebenarnya. Itu pilihan.

Apakah percintaan anak zaman sekarang memang separah ini?

Kalau yang kasus itu dari zaman ke zaman selalu ada ya. Mungkin hanya sekarang seakan-akan banyak karena terekspos. Dulu juga banyak. Jadi, semenjak manusia ada persoalan-persoalan sosial, persoalan pelecehan, persoalan hubungan laki-laki perempuan, yang di luar, yang melanggar norma, nilai, dan seterusnya. Itu selalu ada dari zaman ke zaman. 

Isu pembacokan mahasiswa ini akankah mendampak kampus atau hanya internal saja?

Sebagai dosen saya selalu upayakan maksimal untuk saya sosialisasikan, saya sampaikan kepada mahasiswa. Nah, upaya sebagai dosen ya menjadi bagian dari komponen warga kampus yang turut menyosialisasikan dari pacaran. Silakan jatuh cinta, enggak apa-apa. Ekspresikan jatuh cinta itu dalam aktivitas yang positif. Jatuh cinta itu sesuatu yang alamiah terjadi pada setiap individu gitu. Tapi diubah energi, energi cinta gitu. Cinta pada seseorang yang nanti kalau cinta lawan jenis itu setan akan senang banget. Akan masuk gitu, senang banget dia akan menjadi supporter utama untuk melakukan itu. Dan kalau melihat dari kasus itu memang sebaiknya sebagai perempuan itu tahu batasan perilaku yang ini memberi harapan, dan ini wajar itu harus dipelajari ya.

Dari kasus tersebut tentu saja berdampak, karena sosial media itu memang efeknya sangat luar biasa. Maka tentu saja pihak lembaga akan melakukan upaya-upaya untuk mengeliminir supaya viralnya itu jangan lama-lama dengan menghadirkan isu baru yang lebih positif. Karena sesuatu keburukan itu selalu ada kebaikan di dalamnya kalau kita memahami. Semua yang sudah terjadi itu kan takdir, dan setiap takdir itu ada kebaikan di dalamnya. Meskipun itu sangat buruk kejadiannya, tapi di balik itu pasti ada pelajaran untuk ke depannya menjadi lebih baik. Apapun jadi pelajaran, itulah kebaikan dari sesuatu yang tidak kita inginkan.

Mengapa pelaku bisa sampai seberani itu melakukan di tempat umum?

Ya, orang kalau sudah buta, nggak ada pertimbangan. Di mana saja. Kita kadang-kadang di tempat umum kita observasi, mengamati ada orang yang “Kok nggak ada malu-malu?” Kalau orang sudah dikuasai oleh hawa nafsu, suhu pendeknya meledak karena dikuasai oleh hawa nafsu, dia bisa melakukan apa saja, di mana saja. Nggak peduli. 

Apa yang bisa kampus lakukan untuk pencegahan kasus serupa agar tidak terulang kembali?

Itu berarti semua komponen, semua warga kampus harus kembali kepada tugas-tugas. Tugas-tugas utamanya di kampus. Karena setiap diri itu punya misi dakwah. Dan dakwah itu tidak harus menjadi ustaz atau ustazah, atau menjadi juru dakwah yang legitimate atau status gitu. Siapapun bisa menjadi pendakwah lewat perilakunya. Jadi masing-masing diri menjadi model bagaimana kita mengelola emosi. Makanya di SMHWS itu kalau klien datang, saya selalu ajarkan gimana ketika marah itu dirasa. Sadari dulu marah itu, terima marah itu. Karena kalau dia nggak sadar bahwa dirinya marah, kemudian melakukan tindakan pada saat marah, kayak gitu.

Menurut Anda, pada bagian mana pemerintah bisa menempatkan perannya dalam kasus seperti ini?

Pemerintah itu kan levelnya kebijakan ya. Ya kebijakannya mungkin sudah bagus. Implementasinya. Sumpah dievaluasi. Evaluasinya sudah jalan lho. Implementasinya itu dengan cara apa. Kemudian hasilnya bagaimana, itu yang membuat kita selalu belajar dari pengalaman gitu.

Apa yang bisa mahasiswa lakukan untuk mencegah hal seperti ini?

Setiap orang diberi Allah emosi. Dan emosi ini kan memberi energi sebenarnya di dalam tubuh kita. Dan supaya energinya selalu positif, maka kelola emosinya secara benar. Jangan sampai destruktif, merusak. Sumbu pendek tadi merusak, pasti. Karena ininya lepas. Hanya emosi saja yang mengendalikan perilaku.

Dalam perspektif psikologis, apakah rasa penolakan dapat memicu respon agresif pada individu?

Karena kan dia kecewa. Dia, si laki-laki, si mahasiswa ini sudah mengeksekusi di dalam pikirannya, ini orang senang sama aku. Bahwa kalau aku ngomong sama dia, aku pasti diterima, sehingga ketika dia melakukan itu, kecewa sangat berat karena harapannya tinggi banget. Yakin banget gitu.

Dan sekarang kan dia kecewa banget lah, gue seakan-akan ngapusi (membohongi -red) aku, kamu memberi harapan padaku, gitu. Tapi ternyata harusnya kamu sudah punya pacar, jangan kayak gitu sama aku kan gitu. Jadi antara kecewa, marah, gitu suhunya kena dia, suhu pendeknya. Ya, gitulah dinamika psikologisnya. Karena ketika marah itu, energinya itu sangat dahsyat gitu. Orang yang lagi marah itu kadang-kadang amazing gitu, aku bisa melakukan kayak gitu ketika dia sadar.

Reporter: Tsabita Inas Fathina Rahma

Editor: Fauziah Salma Anfihar

Penulis

Also Read

Tinggalkan komentar