LPM Pabelan

Sumber: Pinterest

Aku sepasang kaki yang tinggal di dalam sepatu koyak, berjalan di atas tanah sengketa

Tanah yang basah, licin, partikelnya menyusup masuk ke sela-sela

Aku dibawa berjalan oleh seorang raga, melewati orang-orang tergeletak tak berdaya

Sadrah dibantai siksaan, merintih kesakitan, tersedan-sedan menahan derita

Aku dibawa berjalan oleh seorang raga, menyusuri gubuk-gubuk kesengsaraan

Suara tangis bersahut-sahutan, wajah-wajah keputusasaan terekam dalam ingatan 

Orang-orang sangsai itu bak onggok yang pantas diinjak-injak tanpa perasaan

Raga ini membawaku semakin jauh, melangkah semakin lebar, bergesekan dengan kerikil tajam

Aku bertanya-tanya, ke mana raga ini akan bermuara?

Sol sepatu sudah sangat rapuh, sebentar lagi terlepas dari jiwanya

Dan aku akan menyentuh tanah, terancam kotor, tertusuk duri, ternoda darah pribumi

Aku dibawa berjalan oleh seorang raga, peluh bercampur air mata membanjiri wajahnya

Menyatu dengan rinai hujan yang turun membasahi tubuhnya, juga tubuhku

Arkian, raga ini membawaku berlari mencari tempat berteduh

Perlahan-lahan sol mulai terlepas dari badan sepatu 

Tidak, gubukku! Terlepaslah sepasang sol sepatu

Tenggelam dalam kubangan air keruh

Gubukku tak lagi utuh, tersisa atap yang sebentar lagi runtuh

Pula badanku sepenuhnya terselimuti tanah, mencium aroma petrikor yang menyeruak

Sedang raga ini tak peduli, ia terus berlari mencapai tempat berlabuh

Sial, aku dibawa oleh raga yang payah

Raga yang tega meninggalkan alas pelindungnya

Sial, aku dibawa oleh raga yang payah

Raga yang tak berani membebaskan Ibu Pertiwi dari rantai penjajah

Semarang, 2025

Penulis: Nurhasanah, Mahasiswi Sastra Indonesia Universitas Diponegoro

Also Read

Tags

Tinggalkan komentar