
Aku sepasang kaki yang tinggal di dalam sepatu koyak, berjalan di atas tanah sengketa
Tanah yang basah, licin, partikelnya menyusup masuk ke sela-sela
Aku dibawa berjalan oleh seorang raga, melewati orang-orang tergeletak tak berdaya
Sadrah dibantai siksaan, merintih kesakitan, tersedan-sedan menahan derita
Aku dibawa berjalan oleh seorang raga, menyusuri gubuk-gubuk kesengsaraan
Suara tangis bersahut-sahutan, wajah-wajah keputusasaan terekam dalam ingatan
Orang-orang sangsai itu bak onggok yang pantas diinjak-injak tanpa perasaan
Raga ini membawaku semakin jauh, melangkah semakin lebar, bergesekan dengan kerikil tajam
Aku bertanya-tanya, ke mana raga ini akan bermuara?
Sol sepatu sudah sangat rapuh, sebentar lagi terlepas dari jiwanya
Dan aku akan menyentuh tanah, terancam kotor, tertusuk duri, ternoda darah pribumi
Aku dibawa berjalan oleh seorang raga, peluh bercampur air mata membanjiri wajahnya
Menyatu dengan rinai hujan yang turun membasahi tubuhnya, juga tubuhku
Arkian, raga ini membawaku berlari mencari tempat berteduh
Perlahan-lahan sol mulai terlepas dari badan sepatu
Tidak, gubukku! Terlepaslah sepasang sol sepatu
Tenggelam dalam kubangan air keruh
Gubukku tak lagi utuh, tersisa atap yang sebentar lagi runtuh
Pula badanku sepenuhnya terselimuti tanah, mencium aroma petrikor yang menyeruak
Sedang raga ini tak peduli, ia terus berlari mencapai tempat berlabuh
Sial, aku dibawa oleh raga yang payah
Raga yang tega meninggalkan alas pelindungnya
Sial, aku dibawa oleh raga yang payah
Raga yang tak berani membebaskan Ibu Pertiwi dari rantai penjajah
Semarang, 2025
Penulis: Nurhasanah, Mahasiswi Sastra Indonesia Universitas Diponegoro






