LPM Pabelan

 Oleh : Aesna*

Kita boleh saja merasa superior dengan menambah daya tampung calon mahasiswa tahun ini, hal tersebut menunjukkan bahwa UMS dirasa lebih baik dari tahun ke tahun. Namun yang menjadi permasalahan, kenaikan daya tampung mahasiwa bukanlah menjadi patokan yang monumental terhadap tingkat signifikansi kebergunaan UMS terhadap Indonesia, bahkan dunia.

Saya tidak ingin terlalu jauh membahas masalah itu, saya akan mencoba dulu mengupas sedikit masalah laten yang terus bertambah seiring masuknya Mahasiswa Baru (Maba). Hal ini berkaitan dengan global warming, apalagi kalau bukan penggunaan kendaraan bermotor.

 Sedikit intermezzo, mari berkalkulasi. Jika penerimaan mahasiswa baru tiap tahunnya sejumlah 6.000 mahasiswa, maka dapat diprediksi secara umum bahwa UMS, saat ini mempunyai tidak kurang dari 24.000 mahasiswa –mohon maaf jika salah, karena ini hanya prediksi–, dan jika UMS mempunyai 4 periode wisuda yang masing-masing wisuda dapat meluluskan 1000 mahasiswa, maka UMS setiap tahunnya meluluskan sekitar 4000 mahasiswa bahkan lebih. Namun, yang menjadi momok menakutkannya, hitung-hitungan tersebut mengeliminir sejumlah pemakai kendaraan tetap: a.para dosen, para pegawai TU, BAA, LPJM, LPIDB dll, para anak SMK yang magang, dan para mahasiswa yang rendah hati untuk tidak lulus-lulus tahun ini dan tahun-tahun berikutnya. Jadi, anggap saja, saat ini secara keseluruhan UMS mempunyai 20.000 orang. Dan anggaplah, setengahnya adalah pengendara abadi.

Dapatkah kita bayangkan berapa banyak CO (g/Km) yang dihasilkan orang-orang UMS jika setiap harinya menempuh jarak 1KM hanya untuk bolak-balik kampus. Kalau saja tiap motor mengeluarkan emisi 10 g/Km (ini sedikit sekali!), berarti UMS menghasilkan 100.000 CO dan gas-gas beracun lainnya dalam setiap harinya –sekali lagi mohon maaf, jika salah–. SUPER! Dan yang lebih ‘menakjubkan’, pohon-pohon di UMS membuat kampus kita tercinta ini hanya menempati urutan 322 kampus hijau se-dunia dari 361 sampel yang dihimpun dari UIgreenmetric.

Kita boleh saja berkilah, “Ah jangan percaya itung-itungan begitu, Ngaco!” Atau, “Di dunia ini ada berapa banyak kampus bro! Peringkat 322 aja udah syukur kok.”

Baiklah, mari kita akui bahwa peringkat tersebut memang cukup membanggakan. Namun, apalah arti kebanggaan tersebut jika setiap harinya, para mahasiswa harus berdesak-desakan mengeluarkan dan memasukkan motor di lahan parkir, dan kadang, beberapa orang yang motornya tidak terima bergesekan satu sama lain malah marah-marah.

Ironi, ketika UMS terus menambah daya gedor universitas dengan menambah sumber daya manusia setiap tahunnya, namun mereka tidak menambah fasilitas yang membuat mahasiswanya berlega hati kuliah di UMS. Memangnya, sebegitu tidak pentingkah yang namanya bus kampus atau sepeda kampus, tidak sebegitu penting kah gerakan hijau dan penelitian demi mendapatkan kendaraan dengan penghematan emisi terbaik?

Alhasil, saya yang juga pengendara motor, hanya berharap, bahwa kampus kita tercinta ini menemukan solusi dari bahaya emisi yang berbanding lurus dengan bertambahnya para mahasiswa. Dan semoga, tidak hanya gedung rektorat saja yang pembangunannya giat dilaksanakan, tetapi juga dukungan yang lebih terhadap penelitian mahasiswa, fasilitas, dan tetek bengek yang membuat mahasiswa mampu mengganti kalimat Descartes, “Aku kuliah di UMS, maka aku ada.”

*Aesna, nama pena dari Ghiyats Ramadhan, mahasiswa farmasi semester tiga, pemerhati hal-hal tidak penting.

Also Read

Tags

Tinggalkan komentar