Stasiun Ingatan
Pada suatu hari yang ragu Puisi mempertemukan aku dengan kau Ke sebuah titik yang tidak lagi dapat dilalui “Apakah kau terlambat membuka diri?” Katamu padaku

Pada suatu hari yang ragu Puisi mempertemukan aku dengan kau Ke sebuah titik yang tidak lagi dapat dilalui “Apakah kau terlambat membuka diri?” Katamu padaku
Ribuan kata menggambarkan semesta Indah bintang menyelimut kabut malam mencinta Embun tak lagi memikat mata Guguran daun mati menggerang nyawa Kepada nestapa, ku bertanya
Keramaianku, mencabik sepi Dengan ribuan narasi yang membuatku mengerutkan dahi Melepas genggaman tawa Menyisakan datar merana di ujung mata Kamu siapa? Pertanyaan yang ribuan
Langkah demi langkah beriringan meninggalkan jejak di lorong-lorong sekolah yang sepi silih berganti datang dan pergi membawa cita-cita sejak pukul tujuh hingga lima sore, bersama
Telepon itu berdering lagi untuk kesekian kalinya. Setelah kuabaikan sejak deringan pertama itu berbunyi, akhirnya aku tidak tahan dan memutuskan untuk melihat siapa oknum di





