
UMS, Pabelan-Online.Com – Seperti yang dikutip dari laman Tempo.co, belakangan, makin banyak iklan yang bertema melindungi tubuh dari dehidrasi. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), dehidrasi adalah kehilangan cairan tubuh. Dehidrasi bisa dialami oleh setiap orang tanpa mandang usia.
Dokter spesialis gizi klinis dari lembaga Micronutrient Intiative, Elvina Karyadi memandang bahwa kebutuhuan cairan seseorang berbeda-beda, untuk mengetahuinya seseorang harus lebih dulu mengenali kondisi tubuhnya. Misalnya dengan melihat aktivitas yang dilakukannya. Contohnya, seseorang yang selesai berolahraga tentu lebih membutuhkan cairan lebih dibanding orang lain yang duduk-duduk saja.
Setiap orang dapat mengalami jenis dehidrasi, Elvina membaginya berdasarkan keluarnya cairan dan tingkat keparahan. Berdasarkan keluarnya cairan, dehidrasi terbagi menjadi hipotonik, yaitu air yang keluar lebih banyak daripada ion termasuk natrium, isotonik, yaitu air dan ion terbuang dalam jumlah sama, dan hipertonik, yaitu ion keluar lebih banyak ketimbang air. Klasifikasi ini yang dijadikan acuan dalam memilih rehidrasi alias cara mengatasi masalah dehidrasi.
Penyebab dehidrasi bermacam-macam, dari aktivitas fisik sampai diare. Selain merasa haus, orang yang mengalami dehidrasi bisa diketahui dari kantung mata yang cekung, gelisah, tidak berfokus, dan lemas.
Lain halnya menurut pakar kedokteran olahraga dari Rumah Sakit Pusat Pertamina, Grace Tumbelaka, membagi tingkat keparahan dehidrasi berdasarkan keluarnya cairan. Dehidrasi disebut ringan apabila jumlah cairan yang keluar di bawah 5 persen dari berat badan. Bila cairan yang keluar 5-10 persen, dehidrasi tergolong sedang. “Kalau sudah diatas 10 persen, itu dehidrasi berat,” kata Grace.
Kedua dokter tersebut sepakat, untuk mengatasi dehidrasi diperlukan analisis kondisi tubuh seseorang guna menentukan cairan yang diperlukan. Bila seseorang menderita dehidrasi hipotonik, diberikan cairan hipotonik yang lebih banyak mengandung air daripada natrium. Bila yang dialami dehidrasi isotonik, yang diberikan adalah cairan isotonik, karena cairan isotonik biasanya tidak terlalu banyak mengandung karbohidrat dan gula.
Sedangkan penderita dehidrasi hipertonik, diberikan cairan hipertonik yang biasanya lebih banyak mengandung gula dan karbohidrat. “Sebab, pada hipertonik, cairan yang keluar lebih banyak adalah glikogen, sehingga diperlukan karbohidrat dan gula untuk mengganti glikogen,” ujar Grace.
Penulis : Reporter Yusmi Dwi Putri
Editor : Ratih Kartika
Sumber : Tempo.co






