LPM Pabelan

Tim mahasiswa asal Universitas Gadjah Mada (UGM) dari jurusan Teknik Nuklir berhasil menjadi perwakilan Indonesia untuk bersanding dengan pembicara lain dari Amerika Serikat, Prancis, Uganda, dan Tunisia pada konferensi yang diadakan IAEA.

Pengajuan penelitian yang mereka bawa menghasilkan hal baik yang membanggakan Indonesia. Penelitian tersebut berjudul “Evaluating Physical Protection System for Radioactive Source at Universitas Gadjah Mada’s Nuclear Engineering Department Using Stochastic Approach” untuk mengetahui keandalan sistem proteksi fisik di ruang penyimpanan sumber radioaktif Laboratorium Teknologi Energi Nuklir UGM dengan metode Monte Carlo.

Kepada reporter Pabelan-online.com, Marchelino Chrisrichy Cosmo Hutama sebagai mahasiswa termuda dalam tim tersebut menceritakan awal mula perjalanannya hingga bisa mewakili Indonesia. Pada mulanya mereka menerapkan mata kuliah Pemrograman Dasar dan Komputasi Nuklir untuk simulasi pemrograman pada penelitian yang dilakukan.

“Dari hasil penelitian kami, diketahui bahwa sistem proteksi fisik Laboratorium TEN (Teknologi Energi Nuklir – red) DTNTF (Departemen Teknik Nuklir dan Teknik Fisika – red) UGM masih dapat diandalkan.” ungkapnya, Senin (01/07/2024).

Kunci untuk bisa berhasil dalam mengerjakan penelitian tersebut ialah membagi tugas pada masing-masing anggota tim. Tak lupa, mereka juga mempelajari dan melakukan riset artikel dari jurnal dan buku terkait dengan penelitian.

Selain adanya kerjasama tim yang baik, pihak departemen turut memberikan dukungan untuk menggunakan fasilitas laboratorium. Tidak adanya biaya yang dikeluarkan untuk penelitian tersebut membuat tim terbantu dengan baik.

“Penelitian ini juga tidak memerlukan biaya karena pengukuran dilakukan secara langsung dengan alat yang ada dan sisanya simulasi pemrograman,” ujarnya.

Marchelino menjelaskan proses submit di laman resmi IAEA hingga akhirnya berhasil mendapatkan pendanaan dan berangkat ke Austria. Mengenai sistematikanya, tim nya melakukan submit abstrak di laman resmi IAEA, lalu mereka menunggu pengumuman melalui email.

Setelah mendapatkan email, mereka diminta untuk mengumpulkan full paper yang kemudian akan diseleksi. Terakhir ia menjelaskan setelah melewati proses seleksi, mereka diinformasikan untuk pendanaan  dan keberangkatannya.

“Hal itu menjadi suatu kebanggaan bisa menjalin relasi dengan orang-orang hebat dari seluruh dunia karena dalam kegiatan ini, pembicara dari negara lain merupakan profesor, praktisi profesional, dan badan otoritas keamanan nuklir nasional dari berbagai negara,” ungkapnya.

Selain mendapatkan pengalaman untuk bisa mewakili Indonesia, mereka juga turut mengikuti pameran sains yang diselenggarakan oleh organisasi anti uji coba senjata nuklir internasional. Pada akhir wawancara, ia berharap jika penelitian yang mereka lakukan dapat dikembangkan khususnya di berbagai fasilitas yang memanfaatkan sumber radioaktif, seperti di rumah sakit dan industri.

“Saya juga berharap pengalaman saya dapat menginspirasi teman-teman mahasiswa, terutama untuk mengembangkan nuklir Indonesia dan dunia,” harapnya.

 

Reporter: Karima Nur Fadila

Editor: Hasbiatullah

Also Read

Tinggalkan komentar