
Sorak-sorai mahasiswa memecah keheningan Sabtu malam di Lapangan Basket Fakultas Psikologi, Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Bukan karena menonton timnas sepak bola atau film, mereka tengah menonton dua orang berkelahi pada malam Minggu ketiga di akhir tahun 2025.
Tidak ada panggung ring, maupun alat pengaman khusus di pertandingan itu, yang ada hanya garis polisi kuning-hitam yang melintang untuk membentuk gelanggang tinju sebagai tempat sang petinju beraksi bak Tyler Durden di film ‘Fight Club’. Belum lama setelah gedebak-gedebuk pertarungan dimulai, satpam kampus 2 datang dan membubarkan pagelaran baku hantam yang dihadiri sekitar 60 orang.
Beberapa hari sebelumnya, beredar pamflet undangan menonton tinju di kalangan mahasiswa. Pada bagian atas selebaran itu tertera nama event “Rumble of Sora”. Rumble of Sora merupakan bagian dari komunitas Bocah Boxing UMS. Meski demikian, komunitas itu belum memiliki legalitas di UMS.
Bisa dibilang, acara itu sebetulnya merupakan ajang latihan untuk anggota komunitas itu. “Jadi kita sudah latihan selama beberapa bulan, lalu kita semacam sparing fun match gitu lah,” ujar Alpha (bukan nama sebenarnya) dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) sebagai pihak penyelenggara acara baku hantam.

Adapun regulasi dari pertandingan itu, komunitas Bocah Boxing UMS mengacu pada aturan-aturan yang sudah ditetapkan di Persatuan Tinju Amatir Indonesia (Pertina). Hal itu sudah mencakup aturan pertandingan, penilaian, hingga format pertandingan yang ditetapkan Pertina. “Jadi kita nggak asal-asal bikin acara gitu. Kita tetap ada acuan utamanya. Di mana regulasinya itu langsung di bawah Pertina,” jelasnya.
Ceritanya, Alpha ingin membikin event sekaligus mengembangkan branding dari komunitas tersebut, agar nantinya bisa menjadi Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) resmi dan mengembangkan anggota agar lebih banyak. Ide membangun komunitas itu, kata Alpha, terinspirasi ketika dirinya mengikuti semester pendek, turut menonton event boxing yang diselenggarakan oleh mahasiswa UNS.
Berangkat dari situ, ia pun mencari tahu seputar komunitas tersebut dan berencana mengembangkannya. Awalnya, Bocah Boxing dipelopori oleh empat orang: M, G, D, dan dirinya sendiri. Mereka memiliki passion yang sama: bertarung. Meski sudah beranggotakan sekitar 40 orang, struktural dari komunitas Bocah Boxing belum tersistematis.
“Lingkupnya belum ada ketua, atau belum ada ketua struktural yang jelas banget. Tapi disitu emang ruang untuk discuss dan juga latihan bareng-bareng sama teman-teman,” katanya. Dari latihan-latihan itu, muncullah ide untuk membangun komunitas tinju. Meskipun, ia mengaku pada awalnya komunitas yang dibentuk itu masih sepi peminat.
Alasannya bersemangat merealisasikan ide itu adalah ia melihat belum adanya wadah untuk peminat tinju di kawasan Solo Raya, khususnya UMS. “Kalau aku lihat akhir-akhir ini tuh rame banget gitu tentang combat sport, terutama boxing,” tuturnya.
Komunitas itu juga terbuka untuk mahasiswa umum bahkan mereka yang awam sekalipun. “Untuk yang bisa bertanding di event kami itu tidak perlu menjadi anggota, tapi dia diwajibkan yaitu pemula,”. Sementara untuk sistem pertarungannya, karena masih sebatas latihan sehingga belum ada semacam asuransi yang ditawarkan dalam pertarungan itu, tetapi tetap ada kontrak perjanjian yang ditandatangani oleh seluruh peserta di situ.
Jika ada calon peserta tinju merupakan atlet alias buka pemula, maka akan dicarikan yang atlet pula agar lawannya sepadan. “Musuhnya tuh harus sebanding sama skill-nya agar tidak berat sebelah gitu. Tidak mukulin orang doang gitu loh jadi kita sama-sama adu skill,” tuturnya.
Sebelum bertanding, Alpha menegaskan, pihaknya sudah mengecek riwayat kesehatan calon peserta lebih dulu. “Kita menanyakan apakah sebelumnya peserta sudah memiliki riwayat penyakit dan juga kita sebelum pertandingan lakukan pengecekan fisik luar untuk para pemain dari anak-anak fisio setelah ronde pertama juga kita lakukan pengecekan lagi jadi kita setiap ronde berakhir kita lakukan pengecekan selalu untuk memonitoring,” jelasnya.
Skemanya, pertandingan dibuat 3 ronde × 2 menit. Bagi kelas pemula akan diwajibkan menggunakan glove dan head guard.
Untuk menghindari cedera dan kejadian yang tak diinginkan, mereka mengantisipasinya dengan cara mengandalkan wasit pertandingan. Sang wasit harus benar-benar siap dalam mengawasi jalannya pertandingan. “Apabila sudah berlebihan, maka kita hentikan. Apabila lawan tidak imbang, tentu saja juga dihentikan. Karena itu bakal merugikan salah satu pihak,” ujarnya.
Sebagai tim medisnya, ada mahasiswa fisioterapi dan keperawatan yang bersedia menjadi relawan di Rumble of Sora. “Jadi bisa minimal pressure cedera,” kata Alpha.
Ia berharap agar komunitas ini dapat menjadi UKM resmi untuk ke depannya. “Tentu saja buat kedepannya karena acaranya bakalan legal,” ucap Alpha.
Reporter: Arlinda Putri Kusumaningtyas
Editor: Muhammad Farhan






