
Mahasiswa semester 6 Fakultas Farmasi, asal Ngawi, Jawa Timur, bernama Melshanda Intan Monica itu, belakangan ini namanya sedang disebut-sebut. Bagaimana tidak? Ia berhasil memenangi Juara 2 Pemilihan Mahasiswa Berprestasi (Pilmapres) di tahun ini.
Di tengah kesibukannya menjadi mahasiswa farmasi, saat masih di bangku semester 3 hingga 4, ia sudah mulai gencar mengikuti lomba-lomba dan berbagai kegiatan. Sejak Februari 2024 lalu, ia diajak oleh Labib, kakak tingkatnya yang juga menjuarai tingkat nasional, untuk bergabung ke dalam proyek Mapres. “Makanya waktu itu diajak buat ikut penelitiannya,” ujar Melshanda, Jumat (27/6/2025).
Di bulan yang sama, ia juga mengikuti kegiatan International Youth Student Fair di Malang dan membawa pulang Gold Medal. Di sepanjang Februari, ia sungguh-sungguh meneliti bersama kakak tingkatnya itu, dan berkatnya, dari situlah semangat Melshanda terpantik untuk terus mengikuti lomba-lomba. “Aku mencoba ikut lomba yang ada di sekitar dulu,” ucapnya.
Misalnya, mengikuti PHARSMART, lomba yang diselenggarakan oleh fakultasnya, yang lingkupnya hanya se-Solo Raya. Dari lomba itu, ia mendapat juara ke-3. Adapun lomba Pesta Ilmiah Sriwijaya, yang merupakan Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI). Namanya sempat masuk dalam daftar semi final 10 besar. Sayangnya, karena presentasi finalnya harus dilakukan di Sriwijaya, Palembang, Sumatera Selatan, juga sedang ada keterbatasan dana, ia terpaksa mengundurkan diri.
Saat lomba esai di Lampung, lagi-lagi ia juga masuk dalam 10 besar. Bedanya, kali itu ia tidak sendirian, tetapi bersama teman timnya. Namun, karena keterbatasan pendanaan, hanya ia seorang diri yang diberangkatkan untuk presentasi di sana. Pulang-pulang, ia membawa oleh-oleh berupa juara 3 tingkat nasional.
Di tahun ini, ia mengikuti international competition untuk membuat paper, dan kembali memperoleh Gold Medal. Belum lama, ia juga diajak oleh teman-teman luar fakultasnya untuk menggarap proyek, bersama-sama berangkat ke Malaysia dalam ajang World Young Inventors Exhibition (WYIE) yang juga membawa pulang Gold Medal. Papernya yang dilombakan di Stikes Surakarta sukses mendapat juara 1 sekaligus kategori paper terbaik.
Bagi Melshanda, yang paling berkesan dari pengalamannya sejauh ini adalah kali pertamanya ia berkolaborasi dengan mahasiswa di luar fakultas dan jurusannya. Itu merupakan tantangan yang menguras pikiran dan tenaganya. Sebab, ia harus membagi fokusnya antara lomba dan organisasi, juga tugas utamanya sebagai mahasiswa, yakni berkuliah. “Jadi bener-bener butuh effort, sih.” kata Melshanda.
Keikutsertaannya dalam international student fair juga menjadi momen pertama kali lainnya yang berkesan. Ia pernah menyebut jika hanya ingin menjadi mahasiswa pada umumnya, yang biasa-biasa saja. Namun, takdir berkata lain: ia diajak kakak tingkatnya, lalu tertarik, dan dari situlah ia mulai memutuskan untuk melanjutkan peluang yang menghampirinya.
Di keorganisasian, ia hanya aktif di Badan Eksekutif Mahasiwa (BEM) fakultasnya saja. Alasannya masuk BEM yakni, di sana, ia senang bisa mengikuti banyak kepanitiaan, juga pengalaman pelatihan dan kaderisasi. Poin yang diambil di Mapres terletak pada gagasan kreatif seperti perlombaan, kompetisi, lalu kemampuan berbahasa Inggris, dan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK).
Menurut riwayat prestasinya, Melshanda mengaku jika dirinya hanya pernah menjadi lulusan terbaik di Sekolah Menengah Kejuruannya. Kini, faktor lingkungan sekitarnya yang kompetitif dan teman-temannya yang ambisius membuatnya terbawa arus sehingga ingin menjadi versi terbaiknya yang dimulai dari aktif berorganisasi, penelitian, kompetisi, dan seterusnya.
Soal idola, mahasiswi farmasi itu sejatinya tak pernah mengidolakan siapa pun. Ia hanya terinspirasi dengan sosok seperti Maudy Ayunda yang pintar dari segi intelektual maupun rasionalitasnya. Selain itu, Maudy Ayunda juga multitalenta yang merupakan penulis, aktris bahkan juga pebisnis. Ia ingin mewujudkan Maudy Ayunda versi dirinya. “Itu sih, kalo figur media, ya, yang jadi inspirasiku.” kata gubernur BEM Farmasi itu.
Cara Melshanda memanajemen waktunya adalah dengan menghitung skala prioritas. Baginya, skala prioritas itu bukan berbentuk layaknya piramida, melainkan lingkaran—lingkaran prioritas dan memiliki beberapa spesifikasi. Antara lain, ia benar-benar hanya memprioritaskan mana yang genting, mana yang penting, mana yang urgen, dan mana yang bisa ditunda atau dijeda lebih dulu. “Memang bener tujuan utama kita kuliah, kan, ya memang kuliah dan harus paham terkait pelajaran,” ujarnya menjelaskan.
Saat di kelas, misalnya, ia memang sungguh-sungguh memperhatikan dosen, mencatat, dan bertanya jika belum tahu, sehingga waktunya di luar kelas bisa digunakan untuk hal lain. Ia menaruh banyak fokusnya ke organisasi di malam hari saja. Sisanya ia fokuskan untuk urusan akademik seperti di kelas, tugas, atau diskusi dengan teman dan konsultasi dengan
“Mungkin kadang mengorbankan waktu tidur. Kadang mungkin cuma tidur sehari itu bisa tiga atau empat jam,” tuturnya.
Dalam menjaga semangatnya, ia diuntungkan oleh kepribadiannya yang terbilang ekstrover. Bertemu dengan banyak orang dan bersosialisasi menjadikan semangat dan energinya tetap terisi penuh, bahkan bisa menyenangkan suasana hatinya. Sebaliknya, saat terlalu lama di rumah atau kos, ia merasa tak berguna karena tidak produktif.
Maka, ia menjaga staminanya dengan bertemu teman-temannya dan selalu berupaya untuk bisa berguna, terlebih jika bertemu dengan seseorang yang ambisius. “Karena untuk memahami pelajaran itu aku lebih jadi gampang gitu loh, karena kita sering berdiskusi dan nanya-nanya gitu,” ujarnya.
Namun, bukan berarti Melshanda tak punya kekurangan. Ada kalanya ia kelelahan dan kesal. Sebagai seorang perfeksionis, ia justru kurang bisa mengandalkan orang lain. Hal itu membuatnya berpikir bahwa segalanya harus ia bereskan karena khawatir kalau-kalau ketika orang lain yang mengerjakan urusannya, hasilnya malah tidak memuaskan.
Padahal, posisinya sebagai Gubernur BEM mengharuskannya menaruh kepercayaan pada jajaran kabinetnya, memberikan kesempatan serta ruang tanggung jawab kepada mereka. Meskipun di sisi lain, ia juga tak suka merepotkan orang lain seperti dalam hal membonceng motor saat memiliki urusan di suatu tempat untuk keperluan BEM.
Seorang Melshanda tidak sependapat dengan doktrin bahwa jika ikut berorganisasi, maka artinya akan menghambat perkuliahan. Sebab, mau bagaimanapun, baginya organisasi adalah wadah yang positif dan tergantung pada bagaimana cara pikir seseorang terhadapnya. Jika berorganisasi justru menjadi hambatan, maka masalahnya terletak pada inkompetensi dalam mengatur dan memanajemen waktu.
Baginya, berorganisasi memang tidak memberi penghasilan, tetapi dari situ, ia bisa mempelajari hal-hal di luar kurikulum, terutama soft skills seperti berpikir kritis, kerja sama, penyelesaian masalah, dan kepemimpinan—yang tak selalu diperoleh di bangku kuliah. Menurutnya, pernyataan bahwa organisasi itu tidak penting karena toksik, tergantung pada kompetensi masing-masing individu dalam membuat organisasi itu menjadi nyaman.
“Jadi banyak sebenarnya manfaat ikut berorganisasi, tinggal dirinya sendiri dan pribadinya,” tegasnya.
Insentif kejuaraan dan dukungan universitas bukanlah satu-satunya sumber semangat Melshanda. Teman-temannya yang antusias belajar darinya serta dosen-dosen yang memfasilitasi dan menyubsidi biaya lomba juga turut membangun dukungan moral dan material yang kuat. Di balik itu, tak jarang, ia berkonsultasi dan meminta bantuan kepada kakak tingkatnya saat mengobrol dan berdiskusi, bahkan dengan Wakil Dekannya.
Lomba yang teranyar, bulan ini, ia sedang mengikuti lomba esai tingkat nasional bertemakan kesehatan, inovasi pengobatan pernapasan bawah seperti asma dan sesak napas. “Asalkan niat itu pasti bisa! Pokoknya selama ada kesempatan dan dirasa mampu dicoba aja. Tidak ada salahnya mencoba!” katanya dengan penuh semangat.
Reporter: Nadia Kusuma Ningrum
Editor: Muhammad Farhan






