
Pabelan-online.com, UMS – Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IQT) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) luncurkan inovasi platform berbasis kecerdasan buatan bernama KitabAI. Platform tersebut dikenalkan kepada mahasiswa saat semester baru dimulai.
Platform ini digagas oleh Kepala Prodi IQT, Kharis Nugroho, sebagai jawaban atas persoalan validitas data yang kerap muncul ketika mahasiswa memanfaatkan AI generik seperti ChatGPT dalam proses riset dan penafsiran Al-Qur’an.
Kharis menjelaskan, ide pengembangan Tafsir Artificial Intelligence (AI) bermula dari keresahannya melihat tren mahasiswa yang melakukan riset dengan bantuan ChatGPT, namun hasilnya tidak terukur validitasnya. Ia mencontohkan, ketika AI diminta menjelaskan tafsir suatu ayat menurut ulama tertentu, sistem kerap memberikan jawaban yang terdengar meyakinkan namun ternyata tidak memiliki dasar rujukan yang benar.
“Ini ketika kita cuma seperti ini, nanti tanpa dimasukkan, tanpa kita kasih knowledge, bahkan dikasih knowledge saja, dia masih bisa kayak ngawur gitu,” ungkapnya saat ditemui oleh reporter pabelan-online.com pada Kamis (17/9/2026).
Ia menambahkan, bahkan pada layanan AI berbayar sekalipun, hasil rujukan yang diberikan terkadang tidak dapat dipertanggungjawabkan setelah dicek ulang. “Ternyata setelah dicek, nggak ada. Cuma ngarang saja. Atau dalam istilah lain, halusinasi,” katanya.
Menurut Kharis, persoalan ini menjadi krusial karena objek yang ditafsirkan adalah Al-Qur’an, sehingga tidak bisa ditoleransi jika rujukan yang disampaikan ternyata keliru atau fiktif.
“Karena ini kan nggak main-main, karena Al-Qur’an yang ditafsirkan, makanya nggak main-main. Marja’-nya harus jelas, artinya ketika misalnya dia bilang menurut Ibnu Katsir, ternyata kok nggak dicek, kok nggak ada Ibnu Katsir, berarti kan dia bohong,” tegasnya.
Kharis menjelaskan bahwa Tafsir AI sendiri merupakan pengembangan dari penelitian pribadinya dengan pendekatan Hybrid Retrieval Automated Generation, yakni metode yang memadukan sistem pencarian data dari sumber primer dengan kemampuan generatif AI, sehingga jawaban yang dihasilkan tetap merujuk pada teks asli kitab, bukan sekadar karangan model bahasa. Dalam pengembangannya, Kharis dibantu oleh rekannya dari Yogyakarta yang berpengalaman menangani infrastruktur server dan lonjakan trafik pengguna.
Saat ini, kata Kharis, sistem sedang menghimpun empat kitab tafsir sebagai basis data uji coba, terdiri dari dua kitab tafsir klasik yakni Tafsir Ath-Thabari dan Tafsir Ibnu Katsir, serta dua kitab tafsir kontemporer yakni Tafsir Asy-Sya’rawi dan Tafsir Ibnu Asyur. Seluruh data yang diinput mencakup teks Arab asli secara utuh, bukan hanya ringkasan atau terjemahan. Basis data tersebut, menurut Kharis, telah mencapai ratusan ribu blok teks meskipun baru berasal dari empat kitab.
Kharis mengatakan bahwa setiap jawaban yang dihasilkan Tafsir AI dilengkapi dengan sitasi lengkap, mulai dari nama kitab, jilid, hingga nomor halaman rujukan. Selain itu, kata Kharis, sistem ini juga dilengkapi fitur pendukung dakwah, di antaranya draf kultum singkat, materi khutbah Jumat lengkap dengan rukun khutbah pertama dan kedua, caption untuk media sosial dengan tagar pendukung, hingga peta konsep visual yang dapat disusun ulang sesuai kebutuhan pengguna.
Dari sisi teknis, Kharis menyebut Tafsir AI sengaja tidak dihosting di server kampus UMS, melainkan menggunakan server independen. Pertimbangannya adalah menjaga stabilitas layanan, mengingat server kampus rawan mengalami gangguan saat trafik pengguna melonjak. “Kalau UMS servernya gak down, kalau down nanti saya ikut kena juga. Makanya saya ini server sendiri,” ujarnya.
Terkait status penggunaan, Kharis menjelaskan Tafsir AI saat ini masih bersifat internal dan dalam tahap pengembangan, meski sistemnya sudah dapat diakses dan digunakan. Ia berencana menambahkan mekanisme login untuk memantau penggunaan, serta skema token guna mengatur beban akses. Ke depan, dimungkinkan pula adanya opsi layanan premium berbayar bagi pengguna yang membutuhkan kapasitas pertanyaan lebih banyak, serupa dengan model bisnis layanan AI komersial pada umumnya.
“Karena tarif ini untuk dia dapat fasilitas lebih, kayak ChatGPT itu kalau gratis kan kita dapatnya sekian, tapi premium bisa unlimited,” katanya.
Salah satu mahasiswa IQT, Muhammad Mahira Haqiqi, menyambut positif kehadiran inovasi ini. Ia menilai kehadiran Tafsir AI cukup relevan dengan kebutuhan mahasiswa IQT, mengingat banyak di antara mereka yang belum bisa mengoperasikan aplikasi Maktabah Syamilah, padahal riset tafsir menuntut penelusuran referensi dalam jumlah besar.
“Kita tuh butuh banyak referensi. Jadi itu membantu, soalnya di situ langsung ada elemen berapa, kitab apa,” ujarnya melalui pesan suara pada Jumat (25/9/2026).
Ia berharap, apabila nantinya diterapkan skema berbayar, biaya yang dikenakan tidak terlalu tinggi agar tetap dapat dijangkau oleh mahasiswa.
Reporter: Muhammad Syukron
Editor: Fauziah Salma Anfihar






