
UMS, pabelan-online.com – Sosialisasi program Pengenalan Lapangan Persekolahan II (PLP II) Fakultas Keguruan dan Keilmuan Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) telah dilaksanakan pada Senin, 3 Maret 2021 melalui platform Zoom Meeting. Melalui sosialisasi tersebut mahasiswa FKIP hanya diberikan dua pilihan untuk program PLP II yang akan dilaksanakan bulan Juli mendatang.
PLP II adalah tahap lanjutan dalam pengenalan lapangan persekolahan, sekaligus bentuk perwujudan dari berbagai teori yang didapat dari bangku perkuliahan, agar bisa dimplementasikan ke dalam aktivitas sekolah. Dengan tema “Pengembangan perangkat sekolan dan asistensi Guru”, PLP II tahun ini diharapkan bisa membuat mahasiswa merasakan proses pembelajaran secara langsung.
“Serta dapat menjadi pemantapan jati diri calon pendidik,” harap Harun Joko Prayitno, selaku Dekan FKIP UMS dalam sambutannya melalui Zoom Meeting, Senin (3/5/2021).
Koesoeme Ratih, selaku Kepala Laboratorium Pembelajaran Terpadu menyampaikan, bahwa PLP II akan dilaksanakan 26 Juli sampai 4 September 2021. Calon peserta mendaftar dan memilih salah satu dari dua bentuk, seperti Program Mengajar Perintis (PMP) atau Program Calon Guru Penggerak (PCGP).
Ratih menjelaskan, PMP diusulkan pada yang terdampak pandemi dan rintisan, dengan memperdayakan mahasiswa yang berdomisili di sekitar wilayah terdampak agar bisa membantu para guru, juga perangkat sekolah atau disebut school visit. Sedangkan pada PCGP akan diberikan solusi layaknya home schooling.
“Dimana mahasiswa hadir untuk membantu mendampingi siswa selama proses belajar agar siswa juga dapat maksimal dalam penyerapan ilmunya” jelasnya, Senin (3/5/2021).
Beti Kurniawan, selaku mahasiswa Program Studi (Prodi) Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI), juga sebagai calon peserta PLP II mengungkapkan bahwa PLP II cukup menbuatnya bingung karena mahasiswa hanya dapat memilih salah satu antara PMP atau PCGP.
Menurutnya akan lebih memuaskan jika proses tersebut langsung terjun ke sekolah, tetapi karena pandemi yang tak terkendali ini menjadikan beberapa sekolah masih belum bisa melaksanakan kegiatan luring tatap muka.
“Sehingga membuat mahasiswa harus rela memilih proses belajar home schooling,” ucapnya, Senin (3/5/2021).
Reporter : Achmad Yusuf Prasetyo
Editor : Rifqah






