
Tertuju Ibu
Aku melangkah sekali lagi,
Masuk menembus penghubung jiwamu
Kau tak bisa pahami
Aku mendung disisimu
Namun aku hujan
saat aku dilepasmu
Ada masa, khawatir aku terus ditemu bayangmu
Sadar! Sungguh sadar,
Kau bernaung dalam ruang jiwa
Semenjak awal aku di rantau sampai lanjut,
Rasa tenangku bermuara padamu
Cukupnya hariku, karena engkau menemaniku dengan doamu
Tak terasa, satu tahun terlepas
Dan kau tetap menungguku pulang
Disini aku menjumpa ribuan problem
Sampai sempat berdiri getir
Banyak hal yang terpapas begitu saja
Banyak pula persoalan yang memacu teguh sang jiwa
Sampai kadang tanpa sadar, pelupuk mata kita saling menemu derai air mata
Puan di Perantauan
Oh… Puan di tanah rantau
Merapal doa meski berbalut sepi yang melingkari diri
Mati-matian kau bergelut dengan kemandirian
Kebahagiaan yang latah memang susah mencari jati diri
Hasrat dan cita-cita di tanah rantau menjadi saksi bisu dari fajar hingga senja
Oh puan kau ingin menjadi manusia yang dimanusiakan bukan?
Yang ingin melangkah hingga jejaknya mampu dikenang,
Harum seperti mawar walau berduri
Atau kau ingin menjadi teratai?
Menampung air bulat-bulat tanpa memaksa air untuk memuai,
Namun mewadahi tanpa melekat
Puan kau sedang menunggu buah di tanah rantauan,
Seperti apa hasilnya?
Semoga menjadi puan yang beruntung
Penyair: Cindi Ameliyana Wulandari






