
(Tulisan ini pernah dimuat di Tabloid Pabelan Pos edisi 111 rubrik Gaya Hidup tahun 2016, ditulis oleh Ummu Azka Amalia dan ditulis ulang oleh Izzul Haq)
Mahasiswa sebagai bagian dari sekelompok yang belajar di jenjang perguruan tinggi setelah menyelesaikan seragam putih abu-abu. Belajar, berkumpul dengan banyak kalangan diberbagai ajang untuk mencari jati diri dan mengembangkan bakat minat yang dimiliki. Perlahan tapi pasti, berbagai macam karakter pun terbentuk sesuai dengan siapa dan dimana ia bergaul untuk berproses.
Mahasiswa yang pandai mengatur waktu akan mudah menjalani dinamika kehidupan kampus. Sebaliknya, jika mahasiswa tidak bisa mengendalikan diri dan menyeimbangkan kebutuhan antara tugas akademik dan non akademik, maka akan terjangkit virus akademik seperti “prokrastinasi”.
Prokrastinasi merupakan perilaku yang tidak efesien dalam penggunaan waktu. Ada kecenderungan menunda-nunda pekerjaan dan lebih memilih aktivitas yang lebih menyenangkan. Ada beberapa ciri prokrastinasi lain yang disebutkan Gufrun dalam jurnalnya, antara lain penundaan baik untuk memulai maupun menyelesaikan kerja pada tugas yang dihadapi, keterlambatan dalam mengerjakan tugas, kesenjangan waktu antara rencana dan kinerja aktual.
Muordiningsih menjelaskan bahwa pelaku prokrastinasi sering menghindari tanggungjawab dan tidak mudah dalam membuat suatu keputusan. Kepribadian yang terbentuk dari sikap menunda-nunda berawal dari kurang adanya motivasi internal individu atau komitmen yang kuat untuk mengerjakan tugas.
Faktor eksternal individu juga sangat berpengaruh dalam perkembangan gejala ini. Seorang “prokrastinator” (orang yang melakukan prokrastinasi) akan semakin sulit untuk mengelola dan mengontrol diri. Pengerjaan tugas yang selalu tidak tepat waktu akan mempengaruhi proses penyelesaian tugas, seperti perasaan tertekan yang muncul karena terburu-buru dengan deadline yang semakin dekat.
Menurut Ackernsan dan Gross, penundaan pekerjaan berhubungan dengan faktor perilaku pribadi, seperti kurangnya motivasi, kekurangan dalam self regulation, focus of control eksternal, perfeksionisme, disorganisasi dan manajemen waktu yang buruk. Setidaknya terdapat enam area akademik untuk melihat jenis-jenis tugas yang sering di-prokrastinasi-kan mahasiswa menurut Soloman dan Rothblum, di antaranya adalah tugas mengarang, belajar mengahadapi ujian, membaca kinerja administratif, menghadiri pertemuan dan kinerja secara keselurahan.
Banyak dari prokrastinator yang mengatakan “Ngerjain tugas enaknya kalau mepet. Idenya bisa keluar, jadi tugasnya bisa cepet selesai,” tutur Mourdiningsih. Sejatinya, kalimat tersebut hanya dorongan untuk menunda pekerjaan dan misal sudah di akhir, akan terjadi sistem kebut semalam. Merelakan waktu istirahat demi menyelesaikan tugas yang harus dikumpulkan pagi harinya.
Berbeda dengan mahasiswa yang bisa mengerjakan tugas lebih cepat sehingga tidak merasakan beban yang mendalam. Mahasiswa yang memforsir kerja otak untuk menyelesaikan tugas supaya cepat selesai bisa menyebabkan stres akibat pikiran yang berlebih.
Mahasiswa yang membiasakan diri dengan sifat menunda-nunda tidak jauh berbeda dari seorang yang kecanduan obat-obatan. Semakin lama dirasakan, semakin nikmat karena belum ada rasa penyesalan di awal dan misal ingin berubah, itu membutuhkan tekad yang kuat dari kenyamanan dalam zona tersebut. Apabila kebiasaan menunda ini muncul pada mahasiswa tentu akan memberikan dampak negatif pada bidang akademik. Bertambah lamanya masa studi merupakan salah satu indikasi dari prokrastinasi akademik.
Mengambil ibrah dari pengalaman-pengalaman orang lain adalah salah satu cara untuk memperbaiki diri sendiri agar tidak terperangkap ke dalam hal serupa. Semakin mendarah dagingnya virus prokrastinasi dapat membahayakan kondisi jiwa dan raga, sehingga motivasi yang kuat dari dalam diri juga dibutuhkan untuk mengalahkan virus tersebut. Segala penyakit ada obatnya, kecuali umur tua. Kemampuan manajemen diri, membuat skala prioritas pekerjaan, dan fokus pada tujuan merupakan upaya untuk meminimalkan prokrastinasi.
Editor : Akhdan Muhammad Alfawwaz
Baca Juga: Huru-hara Perkuliahan Daring VS Luring






