LPM Pabelan

Seminar - Dalam rangka memperingati milad ke-61, IMM FKI mengadakan seminar keperempuanan dihadiri oleh Dr. Choiriyah Widyasari, S.Psi., M.Psi. (kiri) sebagai narasumber dan Kurnia Fil Ardhani (kanan) sebagai moderator di Gedung JSem 2 FKI UMS pada hari Sabtu, (08/03/25). Foto: Dok. IMM

UMS, Pabelan-online.com — Dalam rangka memperingati milad ke-61, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Fakultas Komunikasi dan Informasi (FKI) Ahmad Dahlan berinisiatif mengadakan seminar bertajuk “Is Marriage that Scary? Haruskah kita berhenti berkarir setelah menikah?” di Gedung Jsem 2 Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Seminar ini sekaligus guna memperingati International Women’s Day pada Sabtu, 8 Maret 2025.

Choiriyah Widyasari, selaku Kepala Pusat Studi Gender Lembaga Riset dan Inovasi (LRI) UMS yang sekaligus menjadi pembicara dalam seminar itu, menerangkan bahwa karir adalah tahap eksistensi diri jika ditinjau dari teori psikologi Abraham Maslow. Untuk menjawab pertanyaan di atas adalah bagaimana kita mampu meregulasi kebutuhan itu tadi. Bukan sesuatu yang bijaksana jika pilihan tersebut melibatkan orang luar. 

“Kita harus memahami diri kita ini. ‘Kalau saya tidak bekerja eksistensi saya seperti apa?’ Oh, iya, saya akan eksis menjadi ibu rumah tangga yang baik. Itu juga bentuk aktualisasi diri,” kata Choiriyah dalam seminarnya, Sabtu (08/03/2025).

Ia menyoroti pandangan keliru mengenai emansipasi yaitu anggapan bahwa perempuan harus disamakan dengan laki-laki, sedangkan inti dari emansipasi dan kesetaraan gender adalah tidak adanya kekerasan dari pihak yang dominan terhadap yang lain. 

“Aku dan kamu itu berbeda. Kamu laki-laki, aku perempuan. Kita tidak sama, tetapi kita bisa berjalan bersama-sama. Jadi bukan lelaki itu lebih mendominasi atau kuat,” ujarnya dengan tegas.

Ketua Panitia Seminar Keperempuanan itu, Sintia Nafisa mengungkapkan bahwa seminar ini mengangkat fenomena Marriage Is Scary yang sedang ramai dibicarakan di media sosial. Tren ini seolah menggambarkan bahwa perempuan akan sangat dirugikan dalam dunia pasca menikah, mulai dari kekerasan hingga sulitnya mendapatkan hak perempuan setelah menikah. 

“Di sini kami ingin membuat teman-teman untuk tidak takut menikah dengan cara pencerdasan kenapa sih ada fenomena ‘Marriage is Scary’ ?” katanya saat diwawancarai, Sabtu (08/03/2025).

Menurutnya, seminar ini diharapkan bisa membuka wawasan para hadirin bahwa pernikahan itu menggabungkan dua pola pikir yang berbeda. Bahwa pernikahan adalah bagaimana dua pasangan bisa saling menghormati pola pikir satu dengan yang lain. “Aku harap baik pihak perempuan maupun laki-laki terutama perempuan yang sepertinya banyak ditindas itu bisa lebih sadar dan  aware (berkesadaran –red), kenapa sih perempuan sangat mendambakan atau menyuarakan keinginan mereka untuk berkarir?” ujar Sintia. 

Aleyda, salah satu hadirin menyatakan bahwa alasan ia mengikuti seminar ini untuk membekali diri dengan ilmu dan pengalaman. Usianya yang masih mahasiswa tidak menutup kemungkinan untuk segera masuk ke dunia pernikahan setelah lulus kuliah. “Sebelum masuk dunia pernikahan banyak banget yang harus kita persiapkan selain ilmu dan pengetahuan dari orang yang sudah menikah.” ujarnya, Sabtu (08/03/2025)

Ia menambahkan bahwa, selain itu banyak alasan yang munculnya dari lingkungannya sendiri. Menurutnya, masih banyak pernikahan yang menganut patriarki sehingga membatasi seorang perempuan untuk mengejar mimpinya. “Semoga ilmu yang diberikan bisa kita implementasikan dan juga kita jadikan bekal buat nanti pernikahan kita sendiri,” harap Aleyda di akhir wawancara.

Reporter: Yesi Aprilia & Shafina Novelia Aryanti (magang)

Editor: Tsabita Inas Fathina Rahma

Also Read

Tinggalkan komentar