LPM Pabelan

DPD IMM Jawa Tengah. Foto: Dok. Pribadi

Aku pemuda, aku Muhammadiyah, dan aku IMM! Mengutip perkataan Tan Malaka dalam buku Menuju Merdeka 100%, idealisme adalah kemewahan terakhir yang dimiliki oleh seorang pemuda. Kutipan ini mengandung makna mendalam—di tengah berbagai keterbatasan dan tekanan kehidupan, pemuda tetap memiliki idealisme sebagai aset yang berharga. Idealisme inilah yang mendorong keberanian untuk memperjuangkan kebenaran, menegakkan keadilan, dan melakukan perubahan.

Aku mengungkapkan ini karena aku kader dan aku mencintai IMM—organisasi otonom Muhammadiyah yang begitu mendominasi kampus-kampus Muhammadiyah, termasuk di Universitas Muhammadiyah Surakarta. IMM lahir dengan membawa semangat perubahan, mencetak akademisi muslim yang berakhlak mulia dan berorientasi pada ilmu, amal, serta iman. 

Pertanyaannya, masihkah idealisme itu terjaga dalam tubuh IMM? Ataukah sudah mulai luntur, terkikis oleh kepentingan pragmatis dan seremonial semata?

IMM memiliki tujuan yang begitu mulia: mengusahakan terbentuknya akademisi muslim yang berakhlak mulia dalam rangka mencapai tujuan Muhammadiyah. Secara teori, IMM begitu manis, indah, dan menyegarkan. Namun, yang kualami bukan hanya teori, melainkan juga praktiknya—tetapi entah mengapa praktik itu sering kali terasa jauh dari teori.

Meminjam perkataan Zainal Arifin Mochtar, teori itu dibuat agar praktiknya tidak menyimpang jauh, itulah gunanya teori. Namun, mengapa IMM hari ini terasa semakin jauh dari idealismenya? Mungkin ini didasari kebiasaan kita yang sering kali tidak mengindahkan membaca manual book organisasi—entah itu AD/ART, SPI, atau dokumen dan literatur lainnya. Apakah makin ke sini kader IMM makin jarang membaca buku? 

Sebagai kader IMM, aku melihat ada beberapa faktor yang menyebabkan ketimpangan antara teori dan praktik dalam organisasi ini, dan ada beberapa masalah mendasar yang perlu kita soroti:

  1. Krisis intelektual dalam tubuh IMM

IMM lahir dari semangat keilmuan dan kritisisme. Kini, masihkah kita melihat IMM sebagai ruang yang menghidupkan budaya intelektual? Jujur saja, banyak kader IMM yang semakin jauh dari kebiasaan membaca, berdiskusi, dan menganalisis realitas sosial. IMM yang seharusnya menjadi gerakan keilmuan malah sibuk dengan aktivitas seremonial yang kian menjauh dari penguatan intelektual kader.

Diskusi yang digelar pun sering kali sekadar formalitas tanpa ada tindak lanjut nyata. IMM di kampus-kampus Muhammadiyah yang seharusnya menjadi pusat intelektual alternatif yang melahirkan pemikiran-pemikiran progresif, tetapi yang terjadi justru sebaliknya: sibuk dengan urusan administratif, politik internal, dan agenda-agenda praktis yang tidak berorientasi pada penguatan intelektual.

  1. IMM dan politik praktis: antara idealisme dan kepentingan

IMM adalah organisasi yang independen secara politik, tetapi kenyataan di lapangan sering kali berkata lain. Banyak kader IMM yang terjebak dalam tarik-menarik kepentingan politik—baik di level internal kampus maupun dalam jaringan eksternal yang lebih luas. Kini, IMM sering kali dijadikan alat bagi kepentingan individu atau kelompok tertentu, bukan lagi sebagai gerakan moral yang seharusnya menjadi penjaga idealisme mahasiswa.

Di sejumlah komisariat, IMM bahkan tak lebih dari sekadar alat perebutan kekuasaan. Persaingan untuk mendapatkan posisi dalam kepengurusan lebih dominan daripada upaya untuk memperjuangkan nilai-nilai IMM. Kaderisasi yang seharusnya menjadi ajang pembentukan karakter justru berubah menjadi alat legitimasi bagi mereka yang ingin berkuasa.

  1. Krisis kaderisasi dan regenerasi

Satu hal yang juga mengkhawatirkan yakni menurunnya kualitas kader IMM. Kaderisasi yang seharusnya menjadi jantung organisasi sering kali hanya berjalan secara administratif tanpa ada proses yang sungguh-sungguh membentuk karakter kader. Banyak dari IMM hanya sibuk merekrut banyak kader tanpa mempertimbangkan kualitas mereka.

Alhasil, banyak kader yang hanya sekadar “numpang nama” di IMM tanpa memahami nilai-nilai dasarnya. Mereka aktif di IMM bukan karena panggilan perjuangan, melainkan karena ingin mencari relasi, posisi, atau sekadar mengisi waktu luang. Belakangan, liputan pabelan-online.com malah sempat mengendus adanya pemalsu beasiswa BUMITA. Mereka masuk IMM hanya menggugurkan kewajiban berorganisasi, dan menjadi anggota ampas.

Baca juga: Dugaan Pemalsuan SK Aktif Organisasi untuk Beasiswa BUMITA

Jika pola ini terus berlanjut, IMM hanya akan menjadi organisasi yang besar secara kuantitas tetapi bapuk secara kualitas.

Refleksi 14 Maret IMM dan masa depannya

Setiap 14 Maret, kader-kader IMM di seluruh Indonesia memperingati hari lahir Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah. Hari itu bukan sekadar seremoni atau perayaan biasa, melainkan juga momentum refleksi bagi kita semua. IMM lahir pada 14 Maret 1964 dengan semangat membangun intelektualisme Islam di kalangan mahasiswa. Kini, setelah lebih dari enam dekade, pertanyaannya adalah: masihkah IMM berjalan di atas cita-cita awalnya?

Milad IMM seharusnya bukan hanya ajang perayaan dan seremonial belaka, melainkan juga momen muhasabah bagi setiap kader. Apa yang sudah kita capai? Sejauh mana IMM benar-benar mencetak akademisi muslim yang berakhlak mulia? Apakah IMM masih menjadi lokomotif gerakan intelektual, atau justru hanya menjadi organisasi yang sibuk dengan rutinitas tanpa arah?

Jika kita masih mencintai IMM, kita harus berani mengoreksi dan membangun kembali idealisme kita. IMM bukan milik satu generasi saja. IMM adalah estafet perjuangan yang harus dijaga oleh setiap kader di setiap zaman. Pada 14 Maret ini, mari kita renungkan: ke mana IMM akan kita bawa?

Sebagai kader IMM, kita tidak boleh hanya mengeluh. Kita harus melakukan otokritik dan mulai melakukan perubahan dari dalam. Berikut adalah upaya yang harus dilakukan IMM jika ingin kembali menjadi organisasi yang relevan:

  1. Menghidupkan budaya intelektual

IMM harus kembali ke akar intelektualnya, yakni budaya membaca, menulis, dan berdiskusi harus dihidupkan kembali. IMM tidak boleh hanya sibuk dengan acara seremonial tanpa substansi intelektual.

  1. Membersihkan IMM dari politik praktis

IMM harus benar-benar menjaga independensinya. Jangan sampai IMM menjadi alat bagi kepentingan politik tertentu. IMM harus tetap menjadi organisasi gerakan moral, bukan alat transaksi kekuasaan.

  1. Memperkuat kaderisasi yang berkualitas

IMM harus memastikan bahwa kaderisasi yang berjalan benar-benar membentuk karakter kader yang unggul secara intelektual dan moral, bukan sekadar formalitas administratif.

Meski IMM adalah organisasi besar dengan sejarah panjang dalam dunia gerakan mahasiswa Islam, bukan berarti IMM tidak mungkin melorot kualitasnya. Jika IMM ingin tetap senantiasa relevan dan berkualitas di era-era mendatang, maka ia harus segera berbenah. IMM tidak boleh terjebak dalam romantisme sejarahnya dan harus terus berefleksi dan melakukan perubahan nyata.

IMM harus kembali menjadi ruang bagi akademisi muslim yang berpikir kritis, berakhlak mulia, dan berani memperjuangkan nilai-nilai kebenaran. Jika IMM terus membiarkan dirinya berkubang dalam pragmatisme, politik praktis, dan kaderisasi yang lemah, maka IMM hanya akan menjadi organisasi yang kehilangan ruh perjuangannya.

Selamat Milad ke-61, IMM! Semoga tetap menjadi gerakan yang berpegang teguh pada ilmu, amal, dan iman. Sebagai kader, sudahkah kita mempraktikkan teori manis IMM? Hanya diri kita sendiri yang bisa menjawabnya.

Penulis: Fernanda Wahdani

Also Read

Tinggalkan komentar