LPM Pabelan

Ketua Bidang Kajian Aksi Strategis dan Advokasi BEM Fakultas Psikologi Harisuddin Al Munawar bersama Pemateri Amadela Andra Dynalaida sedang memaparkan meteri dalam Sekolah Politik di Gedung Psikologi lantai 3. (8/11/2025) Foto: Pabelan Online/Teguh Kurniawan

Pabelan-online.com, UMS – Sekolah Politik bertajuk “Elan Politik Kontemporer: Membangun Politik Berkemajuan di Era Digital” diselenggarakan pada Sabtu, 8 November 2025 di Gedung Psikologi lantai 3. Pemateri Amadela Andra Dynalaida dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Semarang membahas Kepemimpinan Transformasional Berkemajuan.

Pemateri Amadela Andra Dynalaida yang juga merupakan alumni Fakultas Hukum (FH) Universitas Negeri Semarang (Unnes) mengungkapkan refleksinya bahwa mempelajari hukum di bangku perkuliahan tidak cukup untuk memahami hukum di Indonesia secara utuh.

“Aku pernah untuk kepoin mata kuliah teman aku yang ada di Fakultas Ilmu Politik, ternyata mereka tuh belajar berbagai politik dan soal kepemimpinan juga,” kata Amadela dalam pemaparan materinya, Sabtu, (08/11/2025).

Kepemimpinan itu, ujarnya, tidak sekadar berkaitan dengan kemampuan mempengaruhi orang lain dari luar, melainkan lebih dari jabatan yang dimiliki. Amadela menambahkan, kepemimpinan tidak didorong oleh keinginan menambah portofolio semata. Seorang pemimpin, menurutnya, harus mampu mendorong partisipasi tanpa paksaan serta menunjukkan keteladanan. Keteladanan tersebut bukan ditunjukkan untuk pencitraan atau sekadar untuk diabadikan melalui foto.

“Terus, mampu merumuskan tujuan pribadi, bukan ambisi pribadi,” ujarnya.

Ia juga menjelaskan sejumlah peran penting dalam pemimpin, yakni frontline, groundwork, dan supporting unit. Bagi Amadela, kepemimpinan sejati bukan tentang posisi, tetapi tentang kemampuan menginisiasi perubahan positif dalam masyarakat.

Bicara soal kepemimpinan transformasional, ia menekankan pentingnya inovasi, motivasi, inspirasi, dan empati sebagai dasar dalam menjalankan peran kepemimpinan. Model ini tidak hanya sekedar teori, tetapi juga dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari untuk menghasilkan perubahan nyata.

Di akhir pemaparan materi, Amadela menegaskan bahwa seorang pemimpin harus mampu merumuskan visi, tujuan, dan konteks yang jelas dalam setiap pengambilan keputusan. “Intinya kita harus bisa merumusin visi-visi tujuan dan ngasih frame diskusi,” jelasnya.

Salah satu peserta Sekolah Politik, Muhammad Rafi beranggapan bahwa materi yang disampaikan oleh Amadela sangat membuka wawasan karena memperlihatkan bahwa kepemimpinan lebih luas dari sekedar jabatan. Bahwa kepemimpinan itu tidak hanya soal posisi, tetapi kemampuan memberikan pengaruh positif kepada orang lain. 

“Belajar bahwa pemimpin yang baik bukan hanya merumuskan tujuan, tetapi juga mendorong partisipasi, memberi, dan mampu melakukan perubahan sosial,” kata Rafi, Minggu, (08/11/2025).

Rafi berharap agar ilmu yang didapat peserta Sekolah Politik, nantinya bisa diterapkan dalam aksi nyata. “Terkhusus untuk mahasiswa yang berani berpartisipasi, menyuarakan pikiran, serta tidak pasif terhadap isu sosial yang terjadi di lingkungan kampus maupun masyarakat,” ujarnya.

Reporter: Teguh Kurniawan

Editor: Fauziah Salma Anfihar

Also Read

Tinggalkan komentar