
Berawal dari obrolan sepulang kuliah yang awalnya terdengar biasa, tentang tugas yang terasa menumpuk, masa depan yang belum jelas, dan juga pertanyaan klasik mahasiswa semester tengah. “Setelah ini mau jadi apa?” juga keresahan sederhana itulah, lahir sebuah gagasan yang kini dikenal sebagai Arkon Impact.
Arkon Impact bukan organisasi formal dengan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART), mereka tumbuh dari tongkrongan mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Sejak awal masuk, mereka memang sudah sering bersama. Hampir dua tahun bersama sebagai teman nongkrong, muncullah gagasan untuk menjadikan kebersamaan yang lebih bermakna dan positif.
“Sebenarnya pada dasarnya, semuanya itu pengen kayak nggak cuma jadi mahasiswa yang biasa. Kita pengen kayak jadi mahasiswa yang extraordinary,” ujar Ali selaku Vision Manager (jabatan yang selalu digulirkan tiap tiga bulan sekali), Senin (02/03/2026).
Nama Arkon sendiri merupakan singkatan dari “Arek Kondang”, yang kedengarannya seperti “memaksakan” kepercayaan diri dari bocah tongkrongan yang ingin dikenal luas. Namun, di balik itu tersimpan makna yang lebih dalam. Bagi mereka, “kondang” bukan sekadar populer, melainkan dikenal karena dampak yang diberikannya.
“Mungkin orang luar itu ngeliatnya kita pengen berdampak kepada orang lain. Tapi, sebenarnya kita juga egois juga pengen berdampak buat diri kita sendiri, dengan hal-hal positif” tutur Ali.
Arkon mempunyai tiga pilar utama yang sudah berjalan: Sport (olahraga), Social Impact (dampak sosial), dan Life Development (pengembangan diri). Sport, yaitu dengan mengadakan kegiatan futsal rutin, hampir di setiap pekannya, hingga badminton dan jogging. Bagi mereka, olahraga menjadi ruang untuk menjaga kebersamaan sekaligus kesehatan. Lalu, pilar kegiatan Sosial Impact meliputi kunjungan ke panti asuhan, sahur on the road, dan berbagi makanan. Hal itu menjadi cara mereka belajar tentang empati.
Arkon juga mulai merintis sesi pengembangan diri melalui pilar Self Development. Dalam waktu dekat, mereka merencanakan sharing session untuk membangun portofolio dan memperkuat personal branding, termasuk membuat akun LinkedIn bersama. Portofolio merupakan langkah awal untuk mempersiapkan masa depan.
Dalam aktivitasnya, ada salah satu momen yang paling membekas, yaitu ketika mereka mengunjungi panti asuhan dengan anak-anak pengidap Human Immunodeficiency Virus (HIV). Dari sana, mereka pulang dengan perspektif baru.
“Ternyata konsep pedulinya itu bukan kita yang peduli sama mereka. Kita malah pulang dari situ banyak belajar. Kita masih seberuntung itu,” ungkapnya.
Sistem kepemimpinan menjadi pembeda antara Arkon impact dengan komunitas yang lain. Uniknya, mereka tidak memiliki ketua tetap. Semua anggota adalah founder. Posisi pemimpin berganti setiap tiga bulan sekali melalui sistem rotational leader.
“Kalau kekuatannya di satu orang, mungkin sistem ini lemah. Tapi kalau kolektif dan semua tahu tujuannya, tanpa satu orang pun tetap bisa jalan,” jelasnya.
Dalam menjalankan komunitas bersama, pasti ada tantangannya, mulai dari perbedaan pendapat spontanitas program, hingga penilaian dari luar yang pernah mereka rasakan. Namun, mereka memilih untuk berpegang pada pola pikir bertumbuh.
“Kalau nemu masalah, jangan cuma bawa problemnya. Bawa juga solusinya,” tegasnya.
Meski baru berjalan resmi sekitar tiga bulan, Arkon merasa bahwa capaian terbesar mereka adalah diterima oleh lingkungan sekitar. Meski banyak yang ingin bergabung, mereka masih berhati-hati dan berkembang secara bertahap.
Ke depan, mereka bakal merutinkan program tanpa mengganggu tanggung jawab mereka sebagai mahasiswa. Dalam jangka panjang, Arkon berharap bisa terus meregenerasi dan menjadi ruang inkubasi kecil bagi generasi berikutnya. Harapan mereka sederhana: menjadikan tongkrongan sebagai ruang untuk lebih bertumbuh.
“Kita cuma mau jadi wadah improve sama upgrade. Jadi kita nggak menggurui, kita juga nggak saling lebih tahu. Kita di sini saling bener-bener transfer knowledge sama-sama belajar,” tutupnya.
Reporter: Nafisah Salma
Editor: Fauziah Salma Anfihar





