Sumber: Canva.com

    Kentut

    Mencintaimu … seperti gumpalan kentut yang memaksa keluar dari belahan di  tengah simposium raksasa.       

    Ambivalen.

    Pernahkah kau membayangkan rasanya dilempari batu-batu yang dibungkus puisi?

    Aku jatuh cinta bukan pada rupa, tetapi frekuensi jiwa

    Kau … adalah bentuk nyata dari idealisme rapuh yang dikeluarkan dari kepala. Validasi pertama dari doa-doa yang nyaris kubatalkan sendiri

    Tapi realitas sering kali menjadi bajingan untuk rasa yang tulus. Memaksaku untuk menjalani ritual sakral bagi setiap yang memiliki roh di bumi:

    Patah hati.

    Membuat untaian doa-doaku menangis mencari jalan pulang.

    Mantra Rahasia

    Aku memang bukan penyihir yang malam-malam mengaduk kuali raksasa berisi cairan magis

    Aku memang bukan tukang tenung yang merapal untaian ramalan

    Aku memang bukan dukun yang duduk di belakang asap dupa

    Namun aku memiliki mantra rahasia: namamu

    Cintaku hanyalah catatan kaki di surat Kafka

     Aku menulismu hidup-hidup

    Engkau … yang dilahirkan untuk dipanggil dengan jarak

    Siluet

    Hatiku sempurna perawan sebelum kedatanganmu.

    Engkau menumpang siluet, bukan kehidupan

    Aku tak bisa memakamkan mayat ini sembarangan, di dagunya masih tertaut sisa-sisa senyummu. Di pipinya masih ada jejak-jejakmu, di matanya … masih tertinggal sorotmu.

    Di mana aku harus mengebumikannya?
    Aku takut ia masih akan menyimpan sisa-sisa residu yang akan meracuni dadaku.

    Jenazah ini … masih bayi. Bayi cinta yang tercipta dari frekuensi satu arah dan mengharuskanku merawatnya. 

    Dia lapar, dia menangis, dan aku tak tahu harus memberikannya susu dari mana.

    Pada akhirnya dia mati dan butuh tanah untuk memeluknya.

    Aku menggelar upacara yang agung untuk melepas kepergiannya.

    Dan tugas terakhirku, adalah memastikan bahwa dirku tak ikut terkubur.

    Cara Paling Sunyi

    Semesta membuka kanal nadiku

    Di notes aplikasi pesan yang tak pernah terkirim

    Di larik-larik puisi yang menggurat di kertas

    Di penggal-penggal sajak yang hidup lewat napas

    Di situlah cintaku padamu

    Aku mampu melukis jiwamu di kepalaku tanpa menyentuh sedikitpun tanganmu. Karena hanya dari situlah aku bisa menggapaimu tanpa protokol.

    Angan yang kubangun diam-diam, bata demi bata, dari idealisme, tuntunan semesta, dan kesengsaraan eksistensial yang minta dimengerti.

    Aku merindukan rengkuhmu, tapi yang bisa kugenggam hanyalah onggokan huruf.

    Penulis: Abril Nabila Taufik

    Penulis

    • Saya mahasisiwi kelahiran 21 April 2004 yang sedang menempuh pendidikan semester 6 di UIN Raden Mas Said Surakarta. Saat ini saya menjabat sebagai Redaksi Pelaksana Buletin di LPM Locus UIN Raden Mas Said Surakarta.

    Also Read

    Tinggalkan komentar