
Reporter : Mayaningtyas E. Utami
UMS-Bedah Film “Senyap” yang direncanakan Departemen Luar Negeri, Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas (BEM-U) pada peringatan tragedi 30 September PKI (G-30S/PKI) dibatalkan oleh Presiden Mahasiswa (Presma), Amna Atho’illah. Selang beberapa menit sesudah pembatalan, Laskar Umat Islam Solo (LUIS) mendatangi BEM-U guna melakukan mediasi.
Seperti disampaikan Presma, Amna Atho’illah bahwa pembatalan bedah film dilakukan pada pukul 18.00 WIB. Hal ini dilakukan lantaran pihak BEM-U belum melakukan konfirmasi pada beberapa instansi, salah satunya LUIS. “Jadi saya katakan bahwa pembatalan acara bedah film Senyap dilakukan pada pukul 18.00 di kantor Satpam, jadi setelah itu Satpam konfirmasi pada LUIS jika ingin silaturahmi ke UMS kami terima. Disini anggapannya bukan LUIS yang membubarkan acaranya. Karena sebelum mereka datang, kita (BEM-U) sudah membatalkan acaranya dahulu pada forum hanya menyelenggarakan diskusi, karena alasan tadi, ada beberapa instansi yang belum kita konfirmasi, ya seperti LUIS,” terangnya, Sabtu (3/10).
Ditemui usai mengunjungi BEM pada Kamis malam, Sekretaris Jenderal LUIS, Yusuf Suparno menyampaikan bahwa pihaknya sendiri menghormati apapun agenda yang diselenggarakan mahasiswa UMS jika tema yang diangkat relevan. Seperti tema dan judul acara yang langsung mengarah kepada negatifnya Partai Komunis Indonesia (PKI) dan lebih mengkritisi. “Jika menyudutkan itu bagus, saya bersama lascar akan mendukung tetapi ada indikasi PKI dalam temanya, di brosur kan judulnya Serangkaian Acara G-30S/PKI, Mengenang Sejarah Gerakan 30 September,“ terangnya, Rabu (30/9).
“Esensinya pada film ini kan menyudutkan TNI (Tentara Nasional Indonesia), ulama, dan umat islam. Makanya akan kita sikapi dengan tegas dimanapun film ini nanti diputar. Pesannya pada mahasiswa karena gerakan PKI sudah masuk ke berbagai lini seperti lembaga eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Dikhawatirkan kalau nanti masuk ke kalangan mahasiswa, kasusnya akan seperti SDI, ada yang merah dan putih. Kami merasa mahasiswa UMS ada yang kemasukan invinteran PKI,” jelasnya.
Suparno menginginkan agenda yang berbau PKI diusahakan tidak diselenggarakan di lingkungan kampus. ”Kalau kegiatan dijamin selesai, tidak mengundang pembicara yang termasuk PKI, nanti kita anggap clear dan sudah selesai. Sesudah ini selesai dan agenda yang lain tidak diselenggarakan kita akan menarik teman-teman LUIS dan menganggap ini jalan silaturahmi sebagai saudara,” tambahnya.
Editor : [PWDR]






