LPM Pabelan

Suasana sore hari bersama para peserta aksi Kamisan di depan Tugu Gladak Surakarta yang bertajuk "Wujudkan Pendidikan Berbasis Kerakyatan". (15/5) Foto: Pabelan Online/Aqill Adhitya

Satu per satu muda-mudi berpakaian hitam-hitam mengendarai motor menepi ke bahu jalan sekitar Gladak pada pukul 16.46. Sejumlah dari mereka menenteng salon dan mikrofon, payung hitam, spanduk, dan membawanya persis ke bawah monumen Brigadir Jenderal Anumerta (Brigjen Anm.) Ignatius Slamet Riyadi. 

Dua orang dari mereka mulai membentangkan spanduk bertuliskan “Aksi Kamisan Solo”. Sore itu, Kamis, 19 Juni 2025, (meski sempat bolong sekali karena ada bersamaan dengan Hari Kenaikan Yesus Kristus 29 Mei 2025) adalah yang kesebelas kalinya mereka mengadakan Aksi Kamisan di Solo Raya.

Topik yang diangkat pada sore itu adalah “Merawat Ingat! Dosa-Dosa Negara”. Aksi Kamisan pekan itu dimulai oleh seorang perempuan yang membacakan puisi berjudul “Narasi ‘Sejarah Resmi’: Pelurusan atau Penghapusan?”

“Negara harus minta maaf, bukan malah bilang itu cuma rumor! Kita harus terus desak negara untuk bertanggung jawab. Karena jika penghilangan dilakukan agar tak ada yang mengingat, maka mengingat adalah bentuk perlawanan!” Perempuan berbaju hitam itu berseru lantang membacakan puisinya di depan massa aksi.

Jumlah mereka memang tidak sampai seratus orang. Paling banyak, mereka cuma bisa membuat tengah jalan penuh dan membuat pengemudi mobil dan pengendara motor membunyikan klaksonnya karena membuat jalanan macet. 

Sepasang pejalan kaki pengunjung dari luar Solo yang lewat trotoar kiri jalan menyempatkan untuk bertanya, “Ini ada apa, ya, Mas?” lalu ber-oh ketika tahu jika mereka yang di tengah jalan itu adalah peserta Aksi Kamisan. Pasangan itu kemudian menimpali, “Wah, bagus, tuh. Di Jogja saja kadang masih timbul-tenggelam” kata salah satu dari mereka. Mereka memuji dan menyemangati sambil berlalu.

Sejarah Aksi Kamisan Solo

Menunggu setengah jam di sebuah Warmindo daerah Mendungan, Kartasura, dua orang aktivis Aksi Kamisan pun tiba, dan langsung memesan mi goreng serta mencomot ayam goreng bagian paha di atasnya. Di sore yang mendung itu, salah satu dari mereka, yang mengaku sebagai Totok (bukan nama sebenarnya) mengenakan kaus hitam tanpa lengan dan celana pendek.

Sedangkan satunya lagi, teman Totok itu mengaku sebagai guru honorer, mengenakan kaus coklat dan sandal jepit, duduk di sebelahnya. Saat ditanya soal identitas, mereka enggan disebut sebagai inisiator atau pun penggerak Aksi Kamisan. 

Totok membenarkan jika dulu, Aksi Kamisan di Solo memang pernah digulirkan sejak tahun 2017 an, tetapi vakum karena pandemi Covid-19. “Banyak faktor juga. Ketika pandemi itu kan, kita gak bisa berkegiatan di luar ya.” kata Totok sambil menyeruput es teh, Jumat (25/4/2025).

Di awal-awal aksi Kamisan, kala itu inisiatornya terbilang mirip dengan aksi Kamisan saat ini. Ada sejumlah individu maupun kolektif yang tergabung di situ, serta beberapa tamu-tamu dari organisasi lain. Totok, yang masih di masa awal-awal kuliah, sudah tergabung dalam Aksi Kamisan meski tidak masuk dalam anggota inti. “Ya membersamai-lah” kata Totok.

Si guru honorer menyahut, bedanya dengan organisasi, Aksi Kamisan adalah forum terbuka, sehingga di situ tidak ada ketua, keanggotaan, maupun koordinator lapangan. Aksi Kamisan, ujarnya, bukanlah milik si A, si B atau pun si C. “Siapa pun yang punya keresahan, ya gabung ayo, gabung saja!” kata si guru honorer mantap.

Bahkan, inisiator Aksi Kamisan yang sebenarnya justru dari luar negeri, yakni di Argentina. Kala itu, gerakan Las Madres de Plaza de Mayo yang bermula pada 30 April 1977, sekitar 14 ibu korban “desaparecidos” berkumpul di Plaza de Mayo, Buenos Aires, mengenakan selendang putih dan membawa foto anak-anak mereka untuk mengepung Pirámide de Mayo setiap hari Kamis. 

Mereka menuntut kejelasan nasib sanak keluarga yang hilang di bawah rezim militer. Sejak saat itu, aksi damai mingguan ini menjadi simbol perlawanan terhadap penghilangan paksa dan pelanggaran HAM di seluruh dunia.

Di Indonesia, Aksi Kamisan pertama dicetuskan di Jakarta, yakni delapan belas tahun lalu di depan Istana Merdeka. Di Solo, ada sejumlah alasan kembali bangkitnya gerakan Aksi Kamisan. Di antaranya, kata si guru honorer, nyaris tiga tahun terakhir, gerakan kota ini sudah tak lagi terdengar suaranya. Padahal, gerakan itu baik untuk pendidikan politik bagi masyarakat.

Ia menilai, di Solo, pergerakan mahasiswa itu hanya ada dalam internal mereka sendiri, sehingga belum ada yang benar-benar terbuka untuk semua kalangan. “Ada kesan eksklusivitas pada gerakan yang diinisiasi mereka,” ujarnya. 

Sementara Totok menyahut, bangkitnya Aksi Kamisan di Solo difungsikan sebagai wadah gerakan alternatif di luar gerakan mahasiswa. Ia membayangkan, Aksi Kamisan bisa menjadi melting point atau titik lebur berbagai elemen masyarakat di Solo Raya. Tempat yang mewadahi mereka berkumpul tanpa larut dalam konflik horizontal, menanggalkan identitas, dan tak peduli apa pun latar belakangnya.

“Jadi kita memang benar-benar sudah selesailah sama identitas mahasiswa,” kata Totok menimpali. Kini, aksi itu juga sudah terkoneksi dengan lingkup nasional untuk menyoal isu-isu seperti pelanggaran HAM dan impunitas.

Skema Baru Konsolidasi Tengah Jalan

Biasanya, setelah aksi usai ketika matahari telah terbenam separuh, mereka duduk melingkar di tengah jalan, persis di bawah monumen Brigjen Anm. Ignatius Slamet Riyadi itu, untuk mengonsolidasikan kajian untuk aksi pekan berikutnya. Dalam konsolidasi rutinan itu, mereka mendiskusikan isu-isu lokal yang bisa diangkat, dan masih luput dari sorotan media. 

Para peserta aksi sedang berkonsolidasi rutinan pasca aksi menjelang malam, di depan Balai Kota Surakarta. Aksi Kamisan pekan itu bertepatan dengan Hari Buruh atau May Day. (1/5) Foto: Pabelan Online/Aqnan Syandi Syahsena

Misalnya, isu proyek Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) Putri Cempo yang dipaksakan dan penolakan pabrik semen di Pracimantoro, Wonogiri. “Ada beberapa tim yang melakukan kajian tersebut,” ujar Totok.

Si guru honorer menimpali, misalnya, saat bertepatan dengan Hari Kartini atau Hari Perempuan, maka tema pada aksi pekan selanjutnya akan didorong untuk mengangkat isu feminisme. Namun, itu bukan berarti peserta lain tak boleh menganulir atau berusul isu lainnya, karena bagaimanapun, pengangkatan tema itu adalah hasil keputusan bersama.

Skema konsolidasi ini, tuturnya, berbeda dengan konsolidasi pra-aksi demonstrasi yang dilakukan secara saklek oleh para mahasiswa di malam sebelum demo yang digelar di keesokan harinya. Aksi Kamisan ini, karena merupakan gerakan alternatif, konsolidasi bisa terjadi seperti mengalir. Bagi mereka, konsolidasi bisa saja terjadi di tongkrongan, tak harus di forum resmi dan formal. “Tidak saklek, harus begini begitu.” 

Konsolidasi itu juga melibatkan pihak yang berwenang. Misalnya saat membahas isu melawan patriarki, dari sejumlah peserta yang merupakan bagian dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) juga turut membantu sesuai bidangnya, seperti menyosialisasikan pencegahan memberi perlindungan hukum. Selanjutnya, selebaran tentang edukasi itu disebarluaskan lewat unggahan akun Instagram @aksikamisansolo_ dan grup-grup WhatsApp.

Dana Kolektif dari Topi Keliling

Semua itu mereka lakukan semata atas pro bono. Namun, bukan berarti tak ada sumber dana—ada dana kolektif yang dikumpulkan ketika konsolidasi pasca aksi, yakni dengan menggunakan topi yang diputar keliling ke seluruh peserta aksi untuk mengantongi sumbangsih para peserta aksi yang berbaik hati. Rencananya, mereka akan menyediakan pembayaran secara cashless agar yang tak membawa sangu uang fisik, bisa tetap menyumbang lewat ponsel genggamnya.

Dari dana kolektif yang terkumpul itu, ujar Totok, ada tim logistik yang mengatur pengalokasian dana. Nantinya, dana kolektif itu akan disalurkan untuk membeli sejumlah dus air minum, kudapan, spanduk, hingga X banner, dan cat semprot. 

Memang, dibanding aksi “Indonesia Gelap” ataupun aksi-aksi demonstrasi lainnya, jumlah peserta Aksi Kamisan masih tak seberapa. Hanya, kata Totok, karena aksi itu diadakan di setiap pekannya, mereka bukan mengejar kuantitas peserta aksi, melainkan konsistensi agar Aksi Kamisan dapat tetap hidup lestari. “Bahkan kalau Aksi Kamisan dulu itu, mau empat orang mau lima orang akan tetap kita lakukan,” ujar Totok.

Meski demikian, menurut si guru honorer, eskalasi peserta Aksi Kamisan di Solo terbilang sudah banyak. Mengingat Aksi Kamisan di kota-kota lainnya yang masih sayup-sayup timbul tenggelam. “Kita tidak mengejar kualitas, kita mengejar konsistensi,” ucap si guru honorer itu.

Tak Banyak Mahasiswa yang Peduli 

Adapun tingkat kesadaran para mahasiswa di Solo, menurut si guru honorer, masih kurang. Sebab, mereka masih sangat terpaut oleh waktu, jabatan organisasi, yang membuat para mahasiswa hanya berkutik dalam program kerja (proker) saja. 

Ia juga lebih merasakan adanya ketulusan pada diri mereka yang lebih kuat dalam pergerakan kolektifnya itu ketimbang para mahasiswa sendiri. “Sebenarnya ini mahasiswa organisasi atau EO (Event Organizer)?” tanyanya.

Namun, Totok menimpali, “tugas-tugas kayak gitu tidak melulu dilimpahkan pada mahasiswa semua. Menurutku, tidak ada kesadaran kelas, mereka masih kayak, ‘kenapa sih aku harus ikut seperti ini? Toh, nggak ngaruh juga di aku.’” ujarnya seraya menirukan mahasiswa yang apatis.

Totok melanjutkan, “Mungkin karena mereka belum merasakan bagaimana jam kerja yang ugal-ugalan, gaji yang tak seberapa, tunjangan dan cuti yang dipersulit, karena pada dasarnya manusia itu begitu, tidak mungkin resisten jika belum merasakan dampaknya secara langsung.”

Sementara itu, Totok dan si guru honorer bersama dengan yang lainnya berupaya membangun budaya penyadaran kelas dengan menggelar diskusi-diskusi. Harapannya, hasil diskusi itu nantinya akan menjadi perbincangan di kalangan mahasiswa lainnya dalam lingkup yang lebih kecil. 

Padahal, kata Totok, bahkan sejumlah band di Surakarta justru sudah melirik Aksi Kamisan yang mulai bergulir di kotanya itu. “Mereka terbatas oleh jabatan dan disibukkan oleh proker-proker. Ya sibuk itu soal prioritas, lha kami sibuk kuliah, sibuk kerja juga.”

“Kami lebih senang dengan gerakan alternatif seperti ini, yang tidak harus terlibat langsung dengan mereka. Yang penting berjejaring, membahas isu-isu di tongkrongan, tidak masalah.” Totok melanjutkan, “Kita malahan dapat informasi seperti ini karena mendengarkan obrolan orang dagang di pasar, dan lain-lain.” 

Terkadang Totok melihat mahasiswa seperti berada di tempat yang tinggi dan jauh menapak dari realitas. “Tidak menapak,” ucapnya. Malahan, ia kadang risih dengan gerakan mahasiswa yang hanya menuntut ini itu, kemudian tanda tangan dan selesai. “Ra ngubah opo-opo.” kata Totok setengah tertawa.

Memerangi Patronase Gerakan

Tandas menyantap sepiring nasi dan menyulut rokoknya, Totok bilang kalau ia pun tak bisa memberi banyak saran kepada para mahasiswa. Sebab, ia bukanlah sosok yang aktif terlibat dalam ekosistem mereka. Di sisi lain, jika terus mengandalkan mahasiswa, itu hanya akan menyulitkan pergerakannya. “Ini akan menjadi sulit,” sahut teman Totok itu.

Totok juga menilai bahwa para mahasiswa masih terikat dengan identitasnya sebagai mahasiswa itu sendiri. Hal itu membuat mereka rentan terlibat konflik horizontal, dengan organisasi mahasiswa eksternal (ormek) lain, serta senioritas. Sebab, tuturnya, banyak ormek yang masih dikendalikan oleh leluhur-leluhurnya, tak peduli meski telah menjadi alumni. “Kayak cawe-cawe,” katanya sambil menghembuskan asap rokok.

Menurut Totok dan si guru honorer, cara agar gerakan ini dapat kompak dan konsisten adalah dengan kesadaran kolektif, “Kehendak kolektif, datang dari kesadaran individu. Kalau dari atas menghendaki, ‘kita harus kompak kita harus kompak’, itu malah seperti paksaan menurut saya, seperti mengomando. Lain halnya jika masing-masing individu punya semangat. Capek boleh menyerah jangan.” kata Totok memberi nasihat.

Di akhir wawancara Totok menekankan satu hal, bahwa mereka tengah berupaya memerangi patronase alias penokohan. Alasannya, dengan adanya penokohan semacam itu, adanya satu dua orang yang ditokohkan akan rentan memunculkan fanatisme di kalangan mereka. Kasusnya, peserta lain akan enggan mengikuti aksi, semata karena si tokoh ini tidak muncul di sana. 

Di sisi lain, patronase juga akan menjadikan gerakan amat mudah diidentifikasi. Jika sudah diketahui siapa pentolannya, maka si tokoh ini akan rentan dipengaruhi, entah dengan diajak bertemu, ngopi, diagitasi, dikooptasi, hingga disogok duit.

“Kita sama-sama tahu kalau penokohan itu benar-benar menghancurkan gerakan. Kehancuran sebuah gerakan diawali dari penokohan, karena watak elitis dan kompromis itu diawali dari penokohan” kata Totok. Si guru honorer melanjutkan, “Kita sepakat meniadakan penokohan—patronase. Termasuk label inisiator,” tegasnya tak sudi disebut sebagai inisiator.

Saat ditanyai soal respons pemerintah Kota Solo, Totok mengatakan kalau gerakan Aksi Kamisan ini tidak lagi ke arah sana. Alasannya, mereka sudah tak berharap lagi kepada pemerintah. Urusannya hanya sebatas membangun kesadaran kelas dan pendidikan politik. “Makanya, kalau diperhatikan, sebenarnya di aksi kita tidak ada tuntutan-tuntutan. Yang penting kita jalan terus,” ujarnya.

Menjelang magrib, usai acara “Wedangan Bareng Mas Respati dan Mbak Astrid” untuk refleksi 100 hari kinerja wali kota dan wakil wali kota yang digelar di Amphitheater Balekambang Kota Surakarta pada Selasa, 3 Juni 2025 itu, Respati Ardi dikerubungi oleh warga Kota Solo dan wartawan dari berbagai media. Ia menjawabi satu per satu pertanyaan para wartawan.

Refleksi 100 hari kerja menjadi Wali Kota dan Wakil Wali Kota Solo, Respati Ardi serta Astrid Widayani mengadakan wedangan bareng warga di Taman Balekambang. (3/6) Foto: RRI/ Humas Pemkot Solo

“Kami sudah terbuka, lewat Pemkot, Lapor Mas Wali. Saya tunggu, silakan. Kita diskusi, ngobrol, wedangan bareng,” tutur Wali Kota Surakarta itu. Soal Aksi Kamisan, ia menyebut, pihaknya terbuka untuk menyampaikan aspirasi. Namun, ia malah mengajak para aktivis untuk bisa menurunkan angka kemiskinan. “Asal tidak mengganggu ketertiban masyarakat.” ucap Respati tersenyum ramah.

Sumarsih Maria, ibu dari Wawan, korban kebiadaban Orde Baru, hanya menanggapi pendek soal Aksi Kamisan di Solo. Baginya, konsisten atau tidaknya sebuah gerakan itu tergantung pada niatnya. “Semoga ke depan dari Kamis ke Kamis ada yang bisa meluangkan waktu untuk menjaga rutinitas.” kata Sumarsih lewat pesan WhatsApp, Sabtu (10/5/2025).

Para aktivis HAM yang dimotori oleh Jaringan Solidaritas Korban untuk Keadilan (JSKK) mengikuti Aksi Kamisan ke-626 di depan Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (16/1/2020). Mereka terus menyuarakan keadilan bagi para korban dan keluarga Tragedi 1965, Semanggi I, Semanggi II, Trisakti, Tragedi 13-15 Mei 1998, Talangsari, Tanjung Priok, dan korban pelanggaran HAM lainnya. Foto: KOMPAS/WAWAN H

Wakil Koordinator Bidang Eksternal Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) Andrie Yunus memandang bahwa Aksi Kamisan di Solo merupakan angin segar bagi gerakan masyarakat sipil di kota itu. Ia menyambut baik aksi tersebut dan menegaskan kalau aksi itu harus terus dilakukan.

Andrie menilai, Aksi Kamisan adalah mimbar terbuka untuk seluruh kalangan dengan berbagai latar belakangnya. Aksi kamisan di berbagai kota menjadi titik episentrum pertemuan gerakan dengan beragam isu yang bisa menjadi ruang untuk mahasiswa, akademisi, hingga petani. Mahasiswa, kata Andrie, harus peduli adalah satu hal, tetapi yang perlu ditekankan adalah bagaimana mahasiswa memosisikan diri untuk tidak hanya menjadi penyuara kebenaran dan ketidakadilan.

“Misalnya, menjadi katalisator dalam Aksi Kamisan dengan memberikan ruang serta kesempatan yang sama kepada entitas baik orang atau organisasi yang hendak menyuarakan aspirasinya.” Andrie melanjutkan, “Dalam konteks ini, kepedulian mahasiswa terhadap keberlanjutan Aksi Kamisan di Solo menjadi amat penting dan krusial.” jelasnya pada Kamis, (15/5/2025).

Ia juga menanggapi soal pertukaran informasi mengenai isu yang akan diangkat di setiap aksi dengan cara konsolidasi rutin itu akan dapat memperpanjang nafas pergerakan. Titik tekannya terdapat pada ruang pertemuan yang dibangun pra aksi Kamisan. “Selain itu, koneksi dengan entitas masyarakat sipil seperti misal organisasi masyarakat sipil, jaringan korban pelanggaran HAM hingga akademisi menjadi opsi yang dapat dilakukan.” ujarnya menambahkan.

Di akhir wawancara, ia berharap supaya pelaksanaan Aksi Kamisan harus terus berlanjut. Sebab, bagi Andrie, ini semacam keharusan zaman bagi setiap anak muda asal atau pun di luar Kota Solo untuk terlibat dan tidak apolitis terhadap isu-isu sosial. “Kamisan adalah ruangnya.” tegas Andrie.

Reporter: Muhammad Farhan

Editor: Aqill Adhitya

Also Read

Tinggalkan komentar