
Mamak lantas keluar dari kamarku. Perkataan mamak tiba-tiba membuatku kaget, kecewa dan pedih. Ingat betul perjuanganku dan mimpiku mengeyam pendidikan di tempat tersebut. Les hingga malam, kehujanan, tak tidur. Ketika cita-cita yang sudah di depan mata kemudian dibabat dengan cara yang menyakitkan. Hatiku serasa disayat belati.
Aku tak kuasa membendung air mataku. Segera ku matikan lampu dan kurebahkan tubuhku ke kasur. Kutumpahkan kepedihanku ditemani gelap yang mendekap dan dingin yang menusuk tulang dan batinku. Aku tak bisa menerima semua ini. Hal ini yang membuatku tidak ingin berada di rumah ini dan aku ingin pulang lebih malam lagi, amat malam hingga aku tak tahu batasan malam itu seberapa waktu. Karena di luar sana aku bisa tertawa dan melupakan kepedihan ini. Terbesit untuk pergi dari sompok ini tapi aku sangat menyayangi keluarga kecilku namun aku juga sangat membenci keluarga besarku.
Kepedihan ini beruntun. Sudah sejak lama mengendap dan mungkin ini adalah puncaknya. Tidak adil, sangat marah, sangat kecewa, sangat bingung dan entahlah hanya perasaan itu yang bisa kujabarkan dengan kata, lebih banyak perasaan yang tak bisa kulukiskan dengan kata-kata dan hanya aku dan Tuhan yang tahu.
Bersambung…
Penulis adalah Ayu Purwaningsih.






