
Menggantikan Sofyan Anif, rektor periode 2017–2025, Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) disambut angin segar setelah dilantiknya Harun Joko Prayitno sebagai rektor baru priode 2025-2029. Transisi kepemimpinan ini memunculkan pertanyaan-pertanyaan akan seperti apa kampus ini di tangannya.
Pasca Pelantikan, Harun pun susah ditemui. Setelah empat kali menjadwalkan ulang pertemuan lantaran gagal ditemui, pada Jumat, 2 Mei 2025, Rektor Harun Joko Prayitno akhirnya dapat ditemui untuk diwawancara.
Harun menjawab pertanyaan-pertanyaan yang meliputi Grand Design kepemimpinannya, kiat-kiatnya dalam menanggulangi kasus pelecehan seksual, krisis pengkaderan Ormawa, soal keamanan kampus khususnya FEB, pembangunan gedung dan fasilitas, pandangan UMS terhadap politik, hingga pemberian hadiah sepeda saat Masa Taaruf (Masta) untuk mahasiswa baru dengan pengikut media sosial terbanyak.
Berkaca dari kepemimpinan Sofyan Anif, pelajaran apa yang Anda dapatkan darinya?
“Apa yang sudah baik diteruskan dan yang belum baik ditingkatkan, yang belum muncul skala prioritasnya kita adakan. Jadi sifatnya itu transformasi berkelanjutan, dan yang dibenahi adalah apa yang belum tercapai, hal-hal skala prioritas yang belum ada disempurnakan. Seperti zaman legasinya Pak Djazman: apa yang belum tercapai akan kita munculkan.”
Berarti di UMS, setiap pembaruan bakal membawa keberlanjutan terus?
“Pembangunan negara begitu, jangan diubah. Kalau pembangunan negara diubah kapan sampainya?”
Dalam Grand Design Anda tertulis bakal menjadi teladan bagi seluruh civitas akademika. Teladan seperti apa yang Anda maksud?
“Ya teladan itu, kan, pelopor, pembaharu, penemu. Jadi saya sebagai dosen juga harus melakukan, dalam pendidikan saya juga mengajar, harus meneliti, harus melakukan pengabdian, harus melakukan publikasi, harus salat tepat waktu berjamaah.
Dalam hal akademik, jangan hanya mendorong dosen melakukan pengabdian tapi kita tidak. Kalau dalam ta’awun jangan hanya mendorong dosen untuk aktif di Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) tapi kita tidak. Saya juga harus bersama disitu, intinya membersamai.
Saya beritahu untuk di kampus, jangan sampai kita datang selalu naik mobil, motor, jangan. Kita beri contoh juga dengan jalan kaki kira-kira dapat dilakukan.”
Upaya konkret seperti apa yang akan Anda terapkan untuk menjaga kampus dari adanya pelecehan dan kekerasan seksual?
“Upayanya pertama nanti regulasi kebijakan, yang kedua sosialisasi kebijakan. Itu kan lebih ke upaya preventif. Sosialisasi kebijakan secara berkala Itu mungkin yang paling pas, saling mengajak berbuat baik dan selalu mengingatkan. Setiap orang itu kan punya khilaf Jadi harus diingatkan.”
Ormawa UKM kampus saat ini tengah mengalami krisis perkaderan. Bagaimana Anda mengatasi hal itu?
“Nanti mungkin saya rapat sesekali di kampus-kampusnya Organisasi Kemahasiswaan (Ormawa), sudah biasa kemarin rapat di perusahaan, masjid, Ormawa. Jadi teman-teman Ormawa juga bisa kritis tapi kritis yang memberi contoh. Berarti mengadakan rapat tidak hanya agar Ormawa itu jalannya aktif, tapi juga kritis yang solutif. Jadi mungkin nanti mendorong mahasiswa-mahasiswa kita yang aktif-aktif ini bagus.”
Pasca UMS menjadi kampus dengan terbitan jurnal terbanyak, apa fokusan yang ingin dicapai?
“Yang bagus, ya jurnalnya banyak dan papernya pun banyak. Jangan dibalik, jurnalnya banyak papernya sedikit. Mungkin kalau mengembangkan secara horizontal sebetulnya enggak, tapi mengembangkan secara vertikal, jadinya mutu. Misalnya, Pak Dekan Geografi profesi utamanya dekan, tapi punya hobi pengelolaan jurnal sehingga kan dia editor jurnal scopus bisa.”
Belakangan komputer di FEB digondol. Apa solusi Anda untuk meningkatkan keamanan di kampus khususnya FEB?
“Oh, baru tahu saya. Masukannya, ya pengawasannya ditingkatkan, pelibatan unsur semua komponen kampus untuk mengawasi. Dulu saya keliling-keliling di Ormawa, dan memang ada juga orang luar yang datang ke sini, bukan mahasiswa kita. Karena itu, ini harus sering disapa. Orang yang mengambil biasanya mereka tidak jauh. Kadang, pas orangnya tidak ada, orang itu bisa masuk begitu. Mirip seperti kejadian-kejadian yang ditangani kepolisian.”
Soal fasilitas kampus, akan fokus ke pembangunan atau perawatan?
“Keduanya. Gedung-gedung yang sudah ada belum bagus, kita dressing nilai kepatutan dan kepantasannya. Sambil jalan nanti pengembangannya, misalnya gedung ini, fakultas ini, kerusakannya nanti di-dressing.
Prinsipnya adalah holistik ya, dengan unsur yang merata. Misalnya, mengapa perpustakaan itu penting, karena kita bisa gunakan perpustakaan untuk rapatnya para dekan di situ bagus. Jadi, pengembangan itu secara vertikal dan horizontal. Vertikal, kan ke atas atau berkembang, kalau horizontal menambah.”
Tentara Nasional Indonesia (TNI) saat ini marak memasuki kampus-kampus tanah air. Jika masuk UMS, bagaimana Anda mengambil sikap?
“Kalau datang dalam konteks silaturahmi, atau dalam konteks sosialisasi kemungkinan besar tidak apa-apa, yang penting tidak militerisasi kampus. Jangan alergi karena posisi pertahanan keamanan di Indonesia kan kenyataannya masih berada di tangan pihak keamanan, yang penting tidak terjadi militarisasi kampus.
Kalau datang dalam konteks investigasi, ya, tidak bisa. Mungkin datang untuk berbagi, ya tidak masalah. Jadi militerisasi ditolak yang boleh dalam rangka diskusi kalau datang, yang penting tidak terjadi militerisasi.”
Selama ini, rektor Sofyan Anif tak terlalu vokal terhadap isu politik jika dibandingkan dengan rektor Universitas Islam Indonesia (UII) Fathul Wahid, misalnya. Di era anda akan seperti apa?
“Ya prinsipnya kontrol tetap diperlukan dalam koridor harus proporsional, jadi jangan sampai memberikan masukan tanpa dasar. Memilih masukan yang proporsional dilihat dulu hal-halnya seperti apa, dilihat dulu proporsionalnya seperti apa, jangan sampai kita memberikan kritik yang tidak matang, kalau tidak lurus diluruskan.
Mungkin istilahnya bukan vokal dan tidak vokal, kritik itu diperlukan tapi jangan sampai energinya habis untuk mengkritik yang kemarin tapi gunakan untuk mengkritik yang di depan. Saya berpandangan energinya lebih bagus untuk memperbaiki ke depan daripada untuk masa lalu.
Kita juga memfokuskan kepada agitasi, di sisi lain kita juga terhadap isu politik tetap proporsional. Kalau hanya semacam orasi kan tidak masalah, tapi kalau sampai anarkis kan buruk. Stabilitas sebuah negara dan stabilitas sebuah kampus itu, kan, juga perlu dijaga.”
Saat Masta, Pak Sofyan Anif menghadiahi sepeda untuk mahasiswa baru yang memiliki pengikut Tiktok terbanyak. Di kepemimpinan Anda, apakah Anda juga akan melakukan hal yang sama?
“Kan sifatnya baik itu maka diteruskan karena sifatnya baik, mengandung motivatif, sifatnya mendorong. Yang baik-baik ditingkatkan, diteruskan dan dikembangkan.”
Reporter : Farhat Abdillah To Ngili
Editor: Muhammad Farhan






