LPM Pabelan

(Tulisan ini pernah dimuat di Tabloid Pabelan Pos edisi 124 rubrik Gaya Hidup pada tahun 2019, ditulis oleh Tias Nur Aini dan ditulis ulang oleh Rhamadhani Nisa Alhanifa)

Setiap orang memiliki banyak cara untuk membuat dirinya bahagia, salah satunya mahasiswa. Mahasiswa masa kini cenderung memuaskan kesenangannya melalui materi dan hal ini memunculkan perubahan gaya hidup yang didorong oleh budaya konsumtif. Agar dipandang tidak ketinggalan zaman dan demi mendapatkan pengakuan sosial, mahasiswa cenderung mengikuti tren, perilaku ini merupakan ciri hidup hedonis.

Hedonisme merupakan pandangan yang menganggap kesenangan dan kenikmatan materi sebagai tujuan utama dalam hidup. Mahasiswa dengan gaya hidup hedonis cenderung memiliki perilaku berlebihan dalam menikmati kebebasan. Perilaku itu dapat muncul dari diri mahasiswa yang bimbang dalam proses pencarian jati diri sehingga mudah terbawa arus modernisasi; dapat juga muncul dari lingkungan pertemanan yang sering menghabiskan waktu bersama dan memiliki hobi yang sama.

Mahasiswa menemui banyak pergaulan baik dari dalam maupun luar kampus. Mahasiswa yang memiliki kecenderungan gaya hidup hedonis tentu ada sebabnya, seperti karakteristik kepribadian dari mahasiswa itu sendiri. Kurangnya kontrol diri dalam mengatur, meyusun, dan membatasi diri dari hal-hal yang tidak bermanfaat menjadi salah satu penyebab mahasiswa tidak kuat membendung keinginan dan gejolak pada dirinya.

Selain dari karakter kepribadian mahasiswa, ada faktor eksternal lain yang mempengaruhi gaya hidup hedonis. Seperti yang ditulis Novita Trimartati (2014) dalam skripsinya, faktor eksternal yang dimaksud adalah keluarga dan teman pergaulan. Ketidakharmonisan di dalam keluarga, kurangnya perhatian & kasih sayang, bujukan teman, serta adanya tuntutan baik dalam lingkup keluarga maupun masyarakat membuat tekanan bagi individu, sehingga sulit lepas dari hidup hedonisme.

Gaya hidup hedonisme ini tidak dapat dilepaskan begitu saja karena budaya ini diciptakan secara sengaja oleh media massa dengan menyampaikan segala sesuatu yang diadopsi dari budaya barat yang sedang tren. Budaya populer seperti ini dapat cepat diterima karena sifatnya yang pragmatis dan terus bergerak menyesuaikan kondisi di masyarakat.

Dewi Nur Ambadra dalam penelitiannya menyebutkan ada dua faktor yang dapat memengaruhi gaya hidup hedonis pada mahasiswa, yaitu faktor internal dan eksternal. Faktor internal meliputi cara mahasiswa meyikapi suatu hal, seperti pengalaman, pengamatan sosial dalam tingkah laku, presepsi dalam memilih, kebutuhan akan popularitas, dan keinginan atau dorongan untuk tampil beda. Sedangkan faktor eksternal meliputi kelompok referensi, rasa nyaman dan kecocokan, keluarga, durasi penggunaan, fesyen, uang, dan pacar.

Setiap individu sejatinya memiliki gaya hidup hedonism, yang membedakan hanya tingkatannya saja. Ada yang dinamakan hedonis sedang yaitu mereka yang sekadar memuaskan keinginannya, jadi masih dapat mengontrolnya. Sedangkan, hedonis berat adalah yang sudah menganggap bahwa kesenangan sebagai tujuan hidupnya.

Inilah masalah yang banyak meracuni mahasiswa sekarang ini. Wajar saja bagi mahasiswa untuk mencari kesenangan sebagai kebutuhan dan haknya, tetapi yang terpenting adalah mengukur seberapa batas dari kesenangan yang dibutuhkan tersebut.

 

Editor             : Akhdan Muhammad Alfawwaz

Baca Juga: Mahasiswa Gelar Aksi Mimbar Bebas Kawal Kasus Dosen Cabul Unej

Also Read

Tinggalkan komentar