
Pabelan-online.com, UMS – Gerakan Kerakyatan menggelar kegiatan Advokasi Seni Tanggap Ing Sasmita bertajuk “Refleksi Lawu Lestari” di Alun-alun Kabupaten Karanganyar pada Minggu (1/3/2026) pukul 20.00 WIB. Kegiatan tersebut menghadirkan berbagai pertunjukan seni sebagai bentuk advokasi dan refleksi atas isu kelestarian lingkungan Lawu.
Rangkaian acara itu meliputi pembukaan, tari kontemporer, dance, geguritan, deklamasi puisi, monolog, pembacaan prasasti, serta penyampaian petisi terkait perlindungan kawasan Lawu dan ruang hidup masyarakat. Acara dibuka dengan sambutan perwakilan Gerakan Kerakyatan JagaLawu yang menegaskan bahwa tanda-tanda kerusakan alam tidak boleh lagi dipandang sebagai retorika semata.
“Ketika tanda-tanda alam hanya disikapi sebagai retorika, itu menjadi lubang yang mengecewakan,” ujarnya, Minggu, (1/3/2026).
Selain sebagai ruang advokasi, acara tersebut juga bertujuan untuk mempererat jejaring kebudayaan. Pembicara mengajak seluruh elemen untuk bersikap dewasa dalam menyikapi konflik yang berkembang.
“Ketika konflik mulai bertumbuh, kita harus menjadi orang yang lebih berani dalam kebijakan ke depan,” katanya.
Acara dilanjutkan dengan satu penampilan tari kontemporer yang merespons musikalitas dan kondisi alam sekitar. Tarian tersebut juga merepresentasikan alam sebagai sumber kehidupan. Penari menyebut keberadaan pohon beringin di lokasi pertunjukan menjadi simbol penting dalam koreografi mereka.

“Pohon beringin itu biasanya kita jaga sampai besar. Dari situ kita diselamatkan juga. Jadi, kami merespons pohon itu sebagai wujud alam yang memberi kehidupan,” katanya, Minggu, (1/3/2026).
Sementara itu, perwakilan penyelenggara yang akrab disapa Mas Bli menyebut acara tersebut sebagai peristiwa kebudayaan dengan nuansa advokasi sosial. Ia menjelaskan terdapat tiga poin utama yang diangkat pada acara ini.
“Satu untuk menandai peristiwa terjadinya tanah longsor di Tawangmangu, di Jenawi, di Ngargoyoso agar tidak lagi dijadikan sebagai tragedi. Kedua, untuk membicarakan geothermal, yang ketiga untuk mengumpulkan kembali lingkaran-lingkaran yang tersambung di JagaLawu,” ungkapnya, Minggu, (1/3/2026).
Bli berharap pendekatan kebudayaan dapat menjadi ruang dialog untuk menyampaikan aspirasi lingkungan secara terbuka. Mereka juga membuka kemungkinan kegiatan serupa digelar kembali, bergantung pada respons publik.
Reporter: Mutiara Aisyah Maharani
Editor: Aqnan Syandi Syahsena







