LPM Pabelan

Tirai jendela di kamar tersebut—masih terbuka lebar. Seolah tak mau menghalangi sang matahari menampakkan pias cahayanya. Namun, keindahan sang mentari yang menerangi siang, tak akan pernah bisa menerangi hati sosok pria yang kini tengah menatap jendela dari atas ranjangnya. Tubuhnya menyiratkan keringkihan, kerapuhannya yang semakin kentara. Kenangan itu, adalah kenangan yang akan tetap membuat hatinya tersayat— cukup dalam.

 

Mata oniks itu akan tetap setia terbuka, namun sisi bawah matanya, tercetak jelas lingkaran hitam yang sangat kentara, oniks itu terlihat sangat sayu, seolah tak pernah ada waktu untuk sedetikpun menutup. Kulit tan miliknya, kini berubah menjadi pucat, dengan beberapa tonjolan-tonjolan otot-otot yang terlihat mencuat keluar. Dan jangan lupakan satu hal, pipi yang dulunya—sangat manis itu kini berubah tirus—bahkan sangat tirus untuk ukuran pipi pria sepertinya.

 

Tok..

Tok..

Tok..

 

Pujaan hati—yang dulunya mengisi relung hatinya, masuk kedalam kamarnya perlahan. Takut membuatnya terkaget, padahal TIDAK. TIDAK AKAN PERNAH—LAGI. Ia membawakan semangkuk sup kentang yang masih mengepul dengan asap diatasnya, bersama segelas susu segar hangat yang dibuatnya. Sang gadis lalu duduk disampingnya. Disamping pria yang sampai saat ini masih tetap mengisi relung hatinya yang terdalam. Ia Mengambil sup yang masih mengepul dengan sendok alumunium, dan perlahan mendekatkannya sesuap.

 

“Gilang makanlah, kau pasti sudah lapar siang ini,” Perintah gadis ini—Jelita—namanya dengan halus. Sesekali Jelita memandang sebuah buku yang sampai sekarang masih di genggamnya, buku yang tak begitu tebal itu, dengan sampul berwarna merah dan beberapa kotak-kotak di sisi-sisinya. “Sini, ku pegang dulu bukunya,” Tambah Jelita lagi. Ia lalu mengambil buku dalam genggaman Gilang dengan perlahan.

 

Dicky tak menjawab, mulutnya hanya terbuka sedikit. Seolah ingin berkata ‘jangan’ pada Jelita. Namun sepertinya sia-sia saja. Dan buku itu kini sudah berada di dekat meja nakas.

 

“Liat ada pesawat akan masuk, ayo buka mulutnya. Aaa…” Kata Jelita sambil menyodorkan sesendok sup kearah Gilang. Tanpa memandangnya, Gilang menelan sup itu, dengan mulut yang terbuka sedikit—sangat bahkan.

Bersambung…

 

 

Penulis adalah mahasiswa berinisial FY.

Pengen kayak FY?

Yuk nulis!

Cerpen atau puisi maks. 5000 karakter, bukan plagiat atau mengandung sara dan tidak ada unsur kekerasan ataupun pornograf, belum pernah dipublikasikan dimanapuni. Cerpen atau puisi yang masuk hak milik perusahaan.

Kirim cerpen ataupun puisi ke Koran@pabelan-online.com

Also Read

Tags

Tinggalkan komentar