
Perlahan, Jelita melepas pelukannya di tubuh Gilang, sang suami. Lalu menidurkan pria itu di tempatnya lagi. Gilang tak bereaksi apapun, ia hanya memandang Jelita dengan mata sayunya. “kalau begitu kau minum susu saja ya?”
“K—Ki—a—ra—m—ma—a—af—“Kata Gilang parau, matanya menatap iris Jelita. Di matanya saat ini sosok Kiara yang telah pergi itu kembali tersenyum padanya.
“Gilang, aku Jelita, bukan Kiara. Kiara sudah lama meninggal, ia sudah pergi ke surga dengan tenang.”Kata Jelita sambil memandang Gilang haru.
Prang…
Gilang menyambar gelas yang di genggam Jelita hingga jatuh ke lantai. Tubuhnya lalu terjatuh ke lantai sambil meremas-remas lantai dan berteriak-teriak. Kejadian itu terulang lagi, kejadian tiga tahun lalu.
“Arghhh…”Teriak Gilang frustasi. Ia mengerang terus-menerus tanpa henti, seolah-olah semua beban itu muncul lagi, semua kesakitan itu hadir kembali, dan luka yang masih menganga itu kian melebar.
.
.
.
“Kak Gilang, gimana udah jadian belum sama kak Jelita? Telat sukurin lho! Haha,”Ejek Kiara sambil senyum jail di depan Gilang.
Kiara pura-pura mengejek orang yang kini ada disampingnya itu. Padahal hatinya sudah sangat tersayat-sayat akan ucapan yang keluar dari mulutnya. Tapi ia tetap berusaha menutupinya dengan rapi, dari orang yang dikasihinya itu.
“Besok aku akan menembaknya.”Kata Gilang dengan bangganya.
“Benarkah?”Tanya Kiara penuh bahagia. “kalau begitu jangan lupa pajak jadiannya, haha.”Tambah Kiara. Satu jitakan mendarat di kedua pelipisnya. Gilang tertawa terbahak-bahak.
“Ahaha, makanya jangan nyuruh-nyuruh. Orang tua kok disuruh-suruh.”
“Berarti kakak sadar dong kalau udah tua?”
“Ah. Terserah kau saja lah,”
“Ahahaha…”
Dan sore itu, kisah cinta bertepuk sebelah tangan masih setia untuk dipertontonkan di depan Tuhan, malaikatnya, dan alam semesta dalam sebuah opera.
.
.
.
“Jelita, maukah kau menjadi kekasihku? Menjadi pendampingku, hingga tiba waktunya aku meminangmu nanti?”Tanya Gilang dengan senyum yang menghias wajahnya.
Jelita yang ditanya seperti itu hanya tersenyum malu-malu, “I—iya aku mau menjadi kekasihmu,”
Tubuh Gilang, lalu memeluk Jelita erat. Tanpa mereka sadari, seseorang dari balik pohon maple itu tengah tersenyum sambil meneteskan air matanya.
“Semoga kalian langgeng dan bahagia. Untukmu aku akan mengikhlaskannya…”
.
.
.
Kiara berjalan berjingkat-jingkat menuju ke ruang UKM Sastra. Ia melihat ke sekeliling ruangan, nampak orang terkasihnya tengah tertidur di kursi dengan bersandar tembok, dengan kepalanya yang ditopang satu tangannya di belakang. Hatinya mencelos tak karuan, wajah tampan itu membuatnya hampir meneteskan air matanya. Ia rindu pada pria di depannya ini. Sudah beberapa hari ini mereka tak saling bertemu pandang, dan bertegur sapa. Kiara berusaha merelakan orang yang dicintainya itu memilih orang lain daripada dirinya itu, sahabatnya. Tanpa sadar, kakinya membimbingnya menuju ke kursi ke tempat Gilang terlelap.
“Apa kabar kak?”
“Apakah kau bahagia bersama kak Jelita?”
“Tentu saja, kau pasti bahagia bersamanya. Kalian saling mencintai, bukan?”
“Dan aku, aku hanya memandang penuh luka saat kalian tertawa bahagia, bercanda bersama,”
“Tapi, aku akan berusaha merelakanmu, kak. Aku bersumpah akan mengikhlaskanmu bersama kak Jelita, aku berjanji.”
Satu air mata itu menetes dari balik matanya. Tangan mungil itu tanpa sengaja menyentuh pipi Gilang lembut, seolah takut kehilangannya selamanya. Dan tanpa sengaja juga bibir itu menyentuh kening Gilang, cukup singkat, namun menimbulkan debaran yang sangat dihati Kiara.
“Semoga kalian bahagia, aku tak apa terluka untuk ini, asal kak Gilang tak kesepian lagi.”
Dan langkah kaki itu perlahan menjauhi ruangan UKM Sastra. Membawa luka sayatan dalam hatinya yang paling dalam bersama suara debaman pintu yang terdengar nyaring.
Tanpa diketahui Kiara, Gilang sudah sejak tadi mendengar apa yang diucapkan Kiara, dari awal hingga selesai, “Kiara—“
.
.
.
Jelita lalu mengangkat tubuh Gilang ke atas ranjang dengan memapahnya. Tak perlu kesusahan bagi Kiara karena tubuh Gilang yang semakin lama semakin kurus. Air hangat itu terus membasahi kedua pipinya yang terlihat sangat terluka itu.
“Gilang kumohon jangan seperti ini lagi. Kau bisa membunuh dirimu sendiri,”Kata Jelita parau. Gilang tak menjawab perkataan Kiara, ia hanya terus menatap meja nakas disampingnya. “Oh ini milikmu, peganglah lagi. Aku akan membersihkan pecahan-pecahan gelas itu,”Tambah Jelita sambil memberikan buku harian itu kepada Gilang lagi.
Dengan hati-hati dan perlahan-lahan, Jelita membersihkan pecahan-pecahan gelas dan membawanya keluar kamar. Dari tempat tidurnya, Gilang masih terus memandangi langit siang yang terhampar di depannya. Seolah mengerti akan maksud awan yang berarak rapi itu.
“K—Ki—a—a—r—ra—“Bisik Gilang pelan, suaranya hampir tak terdengar.
.
.
.
Kiara nampak terburu-buru memasuki sebuah toko kue. Ia lupa untuk membelikan mamanya kue pesanannya, jadi Kiara kembali lagi kesini. Tanpa ia duga, sepasang kekasih itu terlihat dari balik kaca toko. Kiara memicingkan mata saat mengamati siapa mereka, dan matanya mulai memanas saat ternyata dugaannya benar.
“…Kak Gilang?”Ucap Kiara pelan. Tubuhnya lalu menyuruhnya untuk mengikuti sosok pasangan kekasih itu.
Dan dari balik mata hazel itu, sebilah pedang sukses menancap di dadanya. Tepat di ulu hatinya. Orang yang dicintai sebelah tangannya bermesraan di depan mata kepalanya sendiri. Bahkan kini mereka sibuk memeluk satu sama lain sambil bercanda di trotoar jalan. Tubuh Kiara menegang, dan tanpa sadar langkah kakinya membawanya ke tepi jalanan yang ramai akan kendaraan bermotor yang sedang berlalu-lalang.
Brak…
Tubuh itu terjatuh setelah terpental di aspalan yang panas. Darah keluar dengan cepat dari pelipis dan beberapa anggota badan lain. Namun sang pengendara mobil hanya menatap sebentar, lalu meluncur dengan kecepatan tinggi. Saat matanya hampir tak tertahankan, semua orang berteriak-teriak memanggilnya dan nampak sangat khawatir. Ternyata sepasang kekasih itu tadi melihat kejadiannya, dan sang pria segera berlari dengan kecepatan tinggi untuk melihat Kiara dalam keadaan sangat lemah.
“KIARAAAAAAA…”Teriak Gilang putus asa. Suaranya hampir habis saat meneriakkan nama Kiara. Samar-samar Kiara mendengar suara Gilang dan tersenyum samar.
“K—kak D—dic—k—ky—“Kata Kiara dengan sangat lirih. Dan kedua mata itu lalu terpejam untuk selamanya di pangkuan Gilang.
Gilang yang melihat kejadian di depannya tanpa sadar menangis. Meski suaranya tak terdengar, namun sepertinya hatinya terasa sangat sakit saat Kiara tak kunjung membuka kedua kelopak matanya lagi. “Tidakkkkk, Kiaraaaa…”
Pria ini lalu memeluk kepala Kiara di dadanya. Seolah mencari kehidupan di dalamnya. Dengan mencium aroma tubuhnya yang bercampur bau anyir itu, Gilang baru menyadari satu hal dalam hidupnya. Ia salah, karena lebih memilih Jelita daripada Kiara. Tanpa sadar, buku harian Kiara terjatuh dari dalam tas selempangnya. Gilang segera memungutnya cepat-cepat dan membuka isinya, memilah-milah halamannya. Hingga ia tepat pada satu halaman paling tengah, yang ditandai dengan sebuah tali berwana merah.
Kak Gilang,
Kata orang cinta itu pasti punya pasangan.
Ya, semacam jodoh begitu.
Tapi, apakah aku juga punya jodoh?
Kurasa aku tak berhak punya jodoh.
Benang merah sudah terputus bagiku.
Dan, Aku terlalu banyak berharap sepertinya.
Jadi, biarlah aku terus memendam perasaan ini.
Tak apalah aku tak bisa milikimu
Asal kau bahagia, aku sudah cukup.
Gilang meremas buku harian milik Kiara, dia yang bodoh. Hingga tubuh Kiara dibawa ke rumah sakit, Gilang lalu pingsan.
Bukankah aku yang pertama kali mengenalmu?
Tapi mengapa dia yang kini berada disampingmu.
Kata orang ini ‘cinta bertepuk sebelah tangan’.
Dan menurutku ini batas antara cinta dan benci.
Tapi…
Aku tak bisa membencimu, sejujurnya itu yang aku rasakan.
Hati ini juga masih tetap untukmu, disetiap baitannya hanya ku-ukir namamu.
Gilang Prasetya, pria paling sombong, namun baik hati menurutku.
.
.
.
“Kak Gilang…”
Gilang dengan ajaib bangun dari tempatnya tertidur berbulan-bulan lamanya. Ia lalu melihat arah suara itu dari balik jendela balkon kamarnya. Gilang lalu mengikuti suara itu, tanpa disadarinya, batas lantai kamarnya telah berakhir.
Bruk…
“Kak Gilang? ”
“Kenapa kau tak bilang kalau kau menyukaiku?
“Entahlah. Kau terlalu bahagia dengan kak Jelita.”
“Lalu kau pikir ini enak? Aku meringkuk bersama luka yang kau beri.”
“Salah siapa tak melupakanku?”
“Aku terlalu mencintaimu, Kiara. Dan aku baru menyadarinya setelah kepergianmu,”
Kiara tersenyum. Ia lalu berbalik badan. Dan Gilang mengikutinya dari belakang, dengan senyum mengembang mereka pergi bersama.
SELESAI…
–fy,
Penulis adalah mahasiswa berinisial FY.
Yuk nulis!
Cerpen atau puisi maks. 5000 karakter, bukan plagiat atau mengandung sara dan tidak ada unsur kekerasan ataupun pornograf, belum pernah dipublikasikan dimanapuni. Cerpen atau puisi yang masuk hak milik perusahaan.
Kirim cerpen ataupun puisi ke Koran@pabelan-online.com






