LPM Pabelan

Judul film: How to Make Millions Before Grandma Dies

Sutradara: Pat Boonnitipat

Prosedur: Jira Maligool, Vanridee Pongsittisak

Penulis: Pat Boonnitipat, Thodsapon Thiptinnakorn

Durasi: 127 menit

Tanggal Rilis: 15 Mei 2024

Baru-baru ini, sutradara Pat Boonnitipat telah melahirkan film “How to Make Millions Before Grandma Dies” atau Lahn Mah (dalam bahasa Thailand) yang berhasil menguras air mata penontonnya di tanah air. Film produksi GDH yang dirilis pada 15 Mei lalu itu berhasil meraup lebih dari 3 juta penonton di Indonesia dalam kurun waktu kurang dari sebulan semenjak hari pertama tayang.

Tak seperti film bergenre drama keluarga yang sering kali bernuansa sedih dan sendu lainnya, How to Make Millions Before Grandma Dies justru membalut rangkaian alur cerita dengan bumbu-bumbu komedi. Sehingga, penonton tak melulu disuguhkan dengan suasana haru yang dipaksakan.

Dari judulnya How to Make Millions Before Grandma Dies, yang artinya “bagaimana cara menghasilkan sejuta sebelum nenek meninggal”, bukan bermakna secara harfiah menjelaskan cara atau upaya yang dilakukan agar mendapatkan uang sejuta sebelum neneknya meninggal. Melainkan, film ini menceritakan apa saja tindakan bermakna yang dilakukan oleh sang cucu M (Putthipong Assaratanakul) kepada neneknya Amah (Usha Seamkhum) di penghujung hidupnya hingga meninggal dunia.

Cerita film ini bermula saat cucu-cucu Amah menerima kabar bahwa Amah didiagnosis menderita kanker. Penyebabnya adalah anak-anaknya yang sudah berpisah rumah dan dari keempat anaknya, hanya satu yang keuangannya sanggup merawat Amah, dengan syarat harus tinggal di rumah anaknya. Namun sayangnya, Amah tidak mau tinggal di rumah anaknya dan bersikeras tetap tinggal di rumahnya sendiri agar bisa merawat rumah sekaligus berjualan Congee (bubur beras)  di pasar setiap subuh.

Oleh sebab itu, Chew atau Ibu dari M (Sarinrat Thomas) mencoba membujuk M agar mau merawat Amah di penghujung usianya, sekaligus tinggal di rumah Amahnya. Sutradara Pat Boonnitipat mampu mengembangkan karakter M dari yang sebelumnya tampak seperti cucu yang hendak mencari warisan, berubah menjadi cucu yang sangat tulus ingin merawat neneknya.

Meski di saat awal M merawat Amah hubungan mereka tampak seperti tak akur, namun seiring berjalannya waktu dengan karakter humor dan sarkas Amah. Perangai M yang cuek tapi peduli justru menjadikan mereka seperti keluarga yang saling menjaga. Hubungan antara Amah dan M seharusnya menunjukkan kasih sayang yang jelas seperti hubungan pada umumnya, namun pada kenyataannya hubungan mereka diwarnai dengan candaan. Kasih sayang yang Amah tunjukkan tidak hanya melalui tindakan langsung, melainkan melalui perhatian terhadap hal kecil.

Bentuk kasih sayang itu ditunjukkan dengan Amah yang selalu mengingat detail-detail kecil yang diinginkan atau yang dialami oleh M di masa kecil. Seperti ketika masih kecil, M menginginkan buah delima saat pohonnya masih belum berbuah, lalu Amah menjaganya untuk diberikan kepada M saat delima itu sudah masak untuk dikonsumsi.

Selain itu, karakter Amah dibangun begitu apa adanya sebagaimana yang terdapat pada salah satu adegan yaitu di saat Amah merintih kesakitan dan mengadu pada ibunya yang telah lama tiada. Hal itu menunjukkan bahwa Amah tetaplah manusia yang masih bisa saja mengeluh dan menangis karena sakitnya.

Cerita Lahn Mah begitu nyata dengan kehidupan saat ini, terlebih pada kompleksitas hubungan keluarga yang toxic. Tak hanya itu, film ini juga menunjukkan fenomena yang begitu lekat dengan bagaimana generasi anak muda sekarang, dimana kerap kali ingin memperoleh sesuatu dengan mudah. Sebagaimana saat M memandang Mui (Tontawan Tantivejakul), sepupu dari M yang tampak seperti mudah saja mendapatkan uang dari pekerjaannya (merawat kakeknya) dan berjualan konten di OnlyFans.

Lahn Mah menunjukkan bagaimana kehidupan pinggiran kaum kelas menengah ke bawah di Thailand yang apa adanya. Suasana dan karakter pemainnya dibangun dengan serealistis mungkin agar dapat membuat penonton merasa relevan dengan film tersebut.

Di akhir film, mimpi Amah supaya kelak dimakamkan di makam yang indah dengan harga yang cukup mahal pun terkabul. Terkabulnya mimpi Amah, tidak lain tidak bukan adalah berkat dirinya sendiri yang telah mengingat dan mewujudkan keinginan M agar Amah terus menabung uang untuknya di bank, supaya kelak di masa tua, giliran M (dengan uang tabungan tersebut) dapat membelikannya rumah (makam Amah) yang indah di persemayaman terakhirnya.

 

Penulis: Han

Editor: Kania Aulia Nazmah Nabilla

Also Read

Tinggalkan komentar