LPM Pabelan

Ilustrasi: Pabelan Online/Shafina Novelia Aryanti

Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) mendapat banjir kritik setelah menyelenggarakan Tanwir XXXIII IMM di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Dalam acara Tanwir yang ke-33 itu, IMM mengundang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia hadir sebagai keynote speaker pada Rabu, 29 Oktober 2025 lalu.

Hadirnya Menteri Bahlil di Malang memicu pro dan kontra, baik dari pihak luar maupun sesama IMM, dari cabang, daerah, maupun komisariat. Hasil survei berbagai lembaga NGO (Non Government Organization) menunjukkan bahwa Bahlil adalah salah satu menteri dengan kinerja terburuk. Namun, DPP IMM justru memilih untuk mengundang Menteri ESDM yang dinilai kontroversial itu.

Lewat pernyataan yang ditulis di Instagram, Pimpinan Cabang (PC) IMM Surakarta menegaskan bahwa fungsi Tanwir tidak boleh direduksi menjadi sekedar ruang pencitraan politik atau arena normalisasi hubungan dengan elit kekuasaan. Kamis, 6 November 2025, reporter pabelan-online.com ntuk mewawancarai Ahmad Farras Musyayyaf, Kepala bidang Hikmah Politik Dan Kebijakan Publik (HPKP) PC IMM Surakarta, untuk mengulik pandangannya perihal kontroversi dari acara Tanwir XXXIII.

Apakah DPP IMM memang sengaja mengundang Bahlil?

Sejauh analisis kemarin dan sudah dibuktikan dengan fakta dilapangan saat proses Tanwir, memang benar teman-teman DPP IMM mengundang Bahlil dan hadir pada forum tersebut.

Ada yang menyebut Bahlil diundang dadakan. Itu benar?

Kalau masalah diundang mendadak atau tidaknya, kami juga kurang tahu, sebenarnya informasi mengenai Tanwir tidak sepenuhnya teman-teman tataran cabang tahu secara detail.

Apa alasan IMM Surakarta menentang Bahlil diundang pada acara Tanwir kemarin?

Berdasarkan survei dari lembaga NGO (Non Governmental Organization) mengatakan bahwa bahlil sebagai salah satu menteri dengan kinerja terburuk. Karena itu kami juga mempertanyakan alasan DPP IMM mengundang Bahlil, Kalau memang harus mengundang menteri, kenapa bukan menteri dari Muhammadiyah, kan lumayan banyak juga seperti, Abdul Mu’ti ataupun yang sekiranya dulu di IMM. Ada Fajar Riza Ul Haq.

Anda tidak sinis atau keberatan dengan IMM yang mengundang Bahlil?

Bukan masalah sinisnya. Tapi kalau dibilang tidak nyaman bukan karena fisik atau organisasi, tapi bagaimana pemahaman dan akal pikiran yang mungkin terdapat miskomunikasi  antara teman-teman DPP dengan teman-teman cabang. Kita beda pendapat atau beda pikiran dengan hal tersebut, jadi mungkin dari situlah muncul tulisan yang kami upload.

Sejak sebelum dan setelah Tanwir apakah tidak ada komunikasi dengan pihak DPP?

Tidak ada komunikasi. Kita berangkat dari kesadaran pribadi, dari hasil analisis kita, dan dari teman-teman cabang Surakarta, untuk membuat sebuah masukan atau kritik ke teman-teman DPP IMM yang harapannya akan ada evaluasi di akhir.

Kenapa sampai saat ini belum ada tanggapan dari DPP IMM setelah mendapat kritik dari publik?

Secara kelembagaan atas nama cabang dan nama pribadi, kami belum tahu dari teman-teman DPP kenapa belum ada tanggapan terhadap beberapa kritikan dari terselenggaranya acara Tanwir.

Menurut anda apakah pusat akan menggubris masalah ini?

Menurut pribadi saya mungkin masih fifty-fifty (50:50/belum pasti-red), mungkin dari DPP punya fokusan yang berbeda, kemudian tidak atau belum seluruh kritikan itu akan ditanggapi secara langsung oleh teman-teman DPP.

Banyak publik yang menduga bahwa IMM dan PP sudah terkena gula-gula. Bagaimana Anda menilai ini?

Dari kami kurang tahu secara mendalam, karena kami tidak terlalu fokus di sana, fokus kami dan teman-teman cabang itu untuk merawat bagaimana nalar kritis teman-teman ikatan cabang maupun di komisariat, dan memang kami tidak terlalu fokus untuk menanyakan politik.

Apakah di internal IMM terpolarisasi?

Kalau di internal IMM Surakarta kami tidak terpecah belah sama sekali, karena setelah  munculnya  postingan kritikan untuk Tanwir dari cabang Surakarta, dari internal sudah menginstruksikan untuk diskusi dan membahas bagaimana peristiwa Tanwir ini.

Kalau dari DPP IMM dan IMM cabang atau komisariat saja tidak ada komunikasi, dan malah berujung menimbulkan pertentangan mengenai Tanwir, bisakah dikatakan bahwa IMM tidak solid?

Bukan tidak solid kalau di ranah teman-teman. Entah di semua organisasi itu sebetulnya memang butuh yang namanya mitra kritis, tidak sepenuhnya yang bawah itu benar dan yang di atas itu benar, tapi itu namanya kritik-kritikan.

Sejauh ini Pemuda Muhammadiyah cukup dekat dengan pemerintah. Setahu Anda, apakah itu juga mengimbas DPP?

Kurang tahu juga dari Pemuda Muhammadiyah sampai DPP pun kami tidak mengikuti berita secara detail di tingkat nasional, karena kami juga tidak komunikasi sama sekali mengenai bagaimana  persiapan mulai dari sebelum sampai berlangsungnya acara kami tidak tahu.

Menurut Anda bagaimana DPP seharusnya dalam bersikap?

Harapan kami buat DPP sebenarnya ada hal positif yang harus diambil dengan timbulnya kritikan  ataupun postingan yang memang mengarah ke hal negatif. Setelah acara Tanwir, harapan kami menganggap dari tubuh ikatan itu sendiri masih ada yang namanya mitra kritis. Yang artinya masih ada sekelompok cabang, komisariat, maupun ditingkat daerah yang memang perlu dilakukan, yang kaitannya dengan kritik, saran untuk dijajarkan secara nasional. 

Jadi gunanya mitra kritis sebenarnya disitu: untuk menjaga marwah dari temen IMM, menjaga kekritisan, menjaga pola pikir dan tidak gegabah dalam bertindak. Perlu juga untuk transfer knowledge, transfer power, transfer value yang ada di atas ataupun di bawah entah dalam bentuk diskusi atau yang lainnya, itu bisa sama-sama kita komunikasikan.

Reporter: Aulya Rahma Santi

Editor: Farhat Abdillah

Also Read

Tinggalkan komentar