LPM Pabelan

Cahaya mentari mulai memasuki kamar Karina, tetapi sang empu sudah tidak ada di atas kasurnya yang empuk dan nyaman. Remaja yang menginjak kelas sebelas Sekolah Menengah Atas (SMA) ini sudah siap dengan peralatan pikniknya. Karena Karina sudah selesai melaksanakan Ujian Akhir Semester (UAS) kelas sepuluh, oleh karena itulah Karina mendapatkan jatah libur akhir semester.

Teman-teman Karina mengajaknya pergi piknik ke telaga yang berada tak jauh dari tempat ia tinggal. Karina, Tya, Irina, Brian dan Verrel sudah merencanakan piknik ini dari sebelum UAS.

“Guys, pusing nih sebentar lagi mau ujian. Abis ini healing yuk,’’ ajak Verrel pada teman-temannya.

“Setuju sih, mau kemana nih?” tanya Brian ikut nimbrung dengan teman-temannya yang sedang makan di kantin Sekolah.

“Gimana kalo di museum sejarah kerajaan yang ada di dekat sini, katanya di sana banyak spot fotonya,” seru Irina pada yang lain.

“Sama aja boong dong Rinaaa….,di sana nanti kita belajar lagi pusing lagi,’’ ujar Verrel tak setuju

“Kalau gitu gimana kalo di telaga yang ada di atas bukit sana? Kita piknik disana,” ujar Irina memberikan saran tempat yang bisa mereka kunjungi setelah menjalankan ujian yang memusingkan.

“Boleh tuh setuju setuju setuju” ujar yang lain kompak.

Karina sudah menunggu saat-saat liburan ini karena piknik itu bertujuan melepas penat setelah menjalani UAS, karena itu Karina tidak sabar dari kemarin sampai-sampai Karina tidak bisa tidur semalam. Waktu sudah menunjukan pukul 10.00 Waktu Indonesia Barat (WIB) tetapi Verrel dan Brian belum kelihatan batang hidungnya dan itu membuat Tya, Irina dan Karina sedikit kesal karena Verrel dan Brian sudah terlambat dari jadwal yang mereka sepakati.

“Halo Rel, Dimana? tau ga ini jam berapa?” tanya Karina kepada Verrel di ujung telepon, karena Verrel dan Brian tak kunjung datang.

“Halo Na, iya-iya sabar dulu ya macet ini, sudah mau sampai kok,” ujar Verrel dari ujung telepon, mendengar gemuruh motor diseberang dan suara klakson motor yang bersahutan membuat Karina percaya bahwa kedua temannya itu sudah berada di jalan menuju kerumah Karina.

Jelas awalnya karina tidak percaya lantaran temannya itu selalu saja bilang dijalan tapi nyatanya dia masih ada diatas kasur dan kembali tidur lagi.

Setelah 30 menit Karina, Tya dan Irina menunggu, akhirnya Verrel dan Brian sampai di rumah Karina. Akhirnya, mereka berangkat menggunakan motor masing-masing.

Di jalan Karina dan teman-temannya disuguhkan dengan pemandangan yang indah nan sejuk, dilihat kanan kiri banyak pedesaan dan sawah-sawah yang terbentang sangat luas sehingga sejauh mata memandang tampak hijau.

Sesampainya di telaga menunjukan waktu makan siang, akhirnya mereka segera menyiapkan tempat piknik mereka dan menyantap bekal yang mereka bawa lalu menyantapnya bersama-sama. Di sana mereka bersenang-senang bercanda dan bermain ke sana-ke sini hingga tak sadar bahwa waktu sudah semakin malam.

Ketika matahari mulai tenggelam bukannya mereka segera beberes mereka menetap untuk melihat senja di telaga.

“Temen-temen pulang yuk, nanti keburu gelap,” pujuk Irina kepada teman-temannya.

“Bentar deh Na, lihat tuh senjanya bagus banget untuk di nikmati dan diabadikan,” jawab Brian

“Iya nih Na, sekali-sekali dong biar kita kayak anak-anak indie hahaha lihat senja sambil ditemani kopi terus kita ngomongnya pake majas-majas gitu behhhh udah mirip banget,” Ujar Verrel yang berlagak seperti anak-anak penikmat senja.

“Lebay banget sih kamu Rel, sok-sokan lihat senja sambil minum kopi, kamu aja minum kopi sedikit mencret,” ujar Tya membuat teman-temannya yang lain tergelak dengan perkataannya. Karena jelas Karina dan teman-temannya tahu bahwa Verrel mempunyai asam lambung sehingga tidak bisa minum kopi.

“Irina tunggu ya jarang-jarang loh kita bisa menikmati senja seperti ini bareng-bareng ,” jelas Karina membujuk. Irina mengiyakan perkataan Karina, walau sudah merasa tidak nyaman.

Pasalnya telaga yang mereka kunjungi ini harus melewati hutan yang gelap dan sepi selama 5 menit baru akan menemukan rumah-rumah warga sampai pada kota yang mereka tinggali. Saat senja selesai mereka beranjak pulang, dijalan Karina dibonceng oleh Irina, Tya dibonceng oleh Brian dan Verrel berkendara sendiri.

Jalan menuju hutan sangatlah sepi, hanya ada lampu-lampu yang ada di jalan. Beberapa kali Karina melihat kain putih yang lewat secara cepat di samping kanan atau kiri motornya yang seolah-olah menyalip berkali-kali kendaraannya. Melihat itu karina tidak mau berpikir yang tidak-tidak sehingga Karina tidak menggubrisnya.

Sesampainya di rumah Karina, teman-temannya langsung pamit untuk pulang karena langit sudah gelap dan hari semakin malam.

“Tya,Rina menginap semalam di rumahku kan besok masih libur, aku izinkan deh ke mama dan bunda kalian,” ajak Karina yang sejujurnya masih takut tentang hal tadi dijalan. Tetapi ajakan itu ditolak dengan Tya dan Irina ,karena mereka sudah seharian pergi main.

Assalamualaikum Yah, Bu.” Salam Karina memasuki rumah.

Waalaikumsalam, Nak. Sana mandi dan ganti baju. Jangan langsung tidur ya kan kamu dari luar seharian.” Ucap Ayah memerintah.

Karena Karina terlalu capek dia tidak menghiraukan perintah Ayah untuk mandi dan ganti baju, karena kelelahan Karina langsung menjatuhkan tubuhnya ke kasur dan tertidur.

Setelah berada di dalam alam mimpi Karina mengalami mimpi buruk dimana di dalam mimpinya Karina kembali ke waktu dimana Karina dan teman-temannya melewati hutan yang berada di dekat telaga.

Di dalam mimpinya Karina melihat kain putih yang tadi dia lihat di hutan ternyata bukan kain putih tetapi berubah menjadi sosok perempuan yang tersenyum menyeringai padanya dengan bola mata yang putih penuh dan sebuah sobekan di pipi kanannya yang terbuka dan dipenuhi oleh belatung, sosok itu melihat Karina yang sedang duduk di bonceng oleh Airin.

Karena Karina ketakutan dia terbangun dengan perasaan yang dipenuhi ketakutan dan nafas yang sesak, baru ia sadari bahwa tubuhnya tidak bisa digerakan seakan-akan ada sesuatu yang menali tubuhnya dan ada beban yang sangat berat menyelimutinya.

Saat matanya mulai terbuka dengan lebar dan Karina bisa melihat dengan jelas tiba-tiba sosok wanita yang ada di mimpinya sedang berada di hadapannya dengan wajah yang sama menyeramkannya dan senyumannya yang membuat Karina ketakutan setengah mati. Karina terus berupaya menggerakan badannya. Tetapi saat karina berusaha karina mendengar sosok itu berbicara.

“ Tadi aku melihatmu… jadilah temanku yaa… hihihihi” ucap sosok itu dengan suara tertawanya yang melengking.

“AAAAAAA AYAH IBU KARINA TAKUTTTT…” Teriak Karina kuat setelah terbebas dari sesuatu yang mengikatnya. Ayah dan Ibu yang berada di depan television terperanjat dan lari ke kamar Karina anak semata wayangnya.

Astagfirullah karina ada apa Nak ?” tanya Ibu khawatir. Melihat Ibunya Karina memeluknya dan menceritakan hal yang baru saja terjadi.

“Karina tadi Ayah sudah beritahu untuk mandi dan berganti bajukan Sayang? “ tanya Ayah.

“Maaf Ayah Karina lupa karena Karina terlalu capek” jawab Karina merasa menyesal.

“Ya sudah, segeralah mandi dan berganti baju jangan lupa beribadah, sebelum tidur bacalah doa terlebih dahulu, sehingga kamu selalu dalam lindungan Tuhan Yang Maha Esa.” Ujar Ayah menenangkan Karina.

Setelah Ibu menenangkan Karina yang masih ketakutan, Karina beranjak mandi dan shalat dan beranjak tidur ditemani Ibunya di kamar pada malam itu. Karina merasa kapok karena tidak mendengarkan kata Ayahnya tadi.

Penulis: Anisyahida Aulia Alvirra

Mahasiswa Aktif Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Surakarta

Editor: Seliana Putri

 

 

Also Read

Tinggalkan komentar