
UMS, Pabelan-Online.com – Kepala Lembaga Pengembangan Ilmu Dasar dan Bahasa (LPIDB), Muhammad Toyibi, membantah isu bahwa English Tutorial Program (ETP) hanya dilaksanakan selama satu semester saja. Menurutnya, sejak awal ETP memang sudah ditetapkan selama dua semester karena didorong oleh tuntutan lulusan yang mampu memiliki kecakapan dalam berbahasa Inggris.
Menurut Muhammad Toyibi selaku kepala LPIDB, memang dari awal perencanaan ETP dilaksanakan satu tahun. Karena pembelajaran Bahasa Inggris di kelas belumlah cukup, harus ditambahi dengan kegiatan di luar kelas yang lebih ditekankan pada percakapan. “Hal ini dilakukan agar mahasiswa percaya diri berbicara Bahasa Inggris dan pembicaraannya dapat dipahami lawan bicara,” ujarnya, Rabu (2/3/2016).
Menurut Toyibi, mulai tahun 2015, ETP diwajibkan bagi mahasiswa baru meskipun tahun-tahun sebelumnya belum diwajibkan. Bahkan bagi mahasiswa baru, nilai ETP masuk dalam proses penilaian mata kuliah Bahasa Inggris. Hal ini ditekankan karena pembelajaran Bahasa Inggris di kelas belumlah cukup, harus ditambahi dengan kegiatan di luar kelas yang lebih ditekankan pada percakapan. “Soal berita yang katanya ETP hanya satu semester, itu hanya kesalahpahaman. Karena yang baru ada di TOT (Training of Trainer–red) kan baru ETP yang semester satu,” jelasnya.
Toyibi menambahkan, pihaknya belum bisa melakukan evaluasi secara keseluruhan terhadap ETP yang telah berjalan selama satu semester ini karena masih terlalu dini. “Namun kami berusaha memupuk mahasiswa agar bisa melakukan presentasi dalam Bahasa Inggris, syukur-syukur mampu membuat tulisan dengan menggunakan bahasa Inggris,” tambahnya.
Koreksi untuk ETP
Menurut salah satu tutor ETP dari Fakultas Ilmu Kesehatan, Ratih Tri Saputri, bahwa keefektifan penyelenggaraan ETP masih kurang. Terutama dalam hal fasilitas, tempat, dan kemahiran tutornya dalam berbahasa Inggris. Namun ia merasa senang dapat membagikan kemampuan berbahasa Innggrisnya kepada peserta ETP meskipun hanya sedikit. “Sebaiknya kalau untuk ETP, tutornya yang lebih mapan lagi ilmunya,” ujarnya, Sabtu (5/3/2016).
Ratih menambahkan, tutor sebenarnya sudah mendapatkan training untuk mendalami Bahasa Inggris dan mendapatkan metode tentang pengajaran Bahasa Inggris untuk diaplikasikan dengan baik. “Training itu sangat membantu para tutor dalam menjalankan tugasnya, terkhusus saya,” tambahnya.
Salah satu peserta ETP dari Fakultas Psikologi, Deden Ilham Barokah, mengungkapkan bahwa pelaksanaan ETP masih lumayan kacau. Terlihat dari koordinasi tutor dengan peserta yang dirasa kurang, serta penyampaian materinya yang juga kurang menarik. “Kurang efektif ETP nya, karena materinya kurang jelas dan koordinasi antara tutor dan pesertanya pun sangat kurang,” ujarnya, Sabtu (5/3).
Penulis: Reporter Metanisa Rofi Hamtina
Editor: Ritmika Serenady






