
(Tulisan ini pernah dimuat di Tabloid Pabelan Pos edisi 113 rubrik Liputan Utama pada tahun 2017, ditulis oleh Ritmika Serendy dan ditulis ulang oleh Jannah Arruum Sari)
Buku adalah jendela kehidupan. Hidup tanpa buku bagaikan ruang gelap tak berlampu. Buku adalah jendela dunia, dimana kita bisa melihat isi dunia tanpa melakukan perjalanan, cukup dengan membaca sebuah halaman kertas.
Mahasiswa dan buku merupakan dua hal yang tak terpisahkan. Mahasiswa sebagai agent of change dituntut harus memiliki kecakapan dalam hal literasi. Mahasiswa sebagai kaum intelektual yang nantinya akan membawa perubahan pada bangsa ini sudah sepatutnya menjadikan buku sebagai bagian dari hidupnya. Dengan giat membaca semasa masih menyandang identitas sebagai mahasiswa, maka akan menghantarkan mahasiswa pada masa depan yang gemilang dan berguna di mata dunia.
Namun, pada kenyataannya, membaca bukanlah suatu pekerjaan yang mudah. Sebagian besar mahasiswa sulit untuk melakukan kegiatan tersebut. Kebiasaan membaca buku kerap kali ditinggalkan oleh mahasiswa dengan berbagai alasan, mulai dari alasan sibuk hingga malas. Mahasiswa hari ini, cenderung lebih suka untuk menikmati hal-hal secara instan, misalnya saja ketika ada tugas, mahasiswa lebih memilih untuk search di Google daripada membaca buku.
Di zaman yang canggih ini, mahasiswa lebih memilih gadget ketimbang membaca buku. Lantaran gadget dapat dibawa kemana saja dengan ringan, tak heran jika mahasiswa jarang membawa buku dan lebih sering membawa gadget. Kebiasaan-kebiasaan inilah yang membuat minat baca mahasiswa di era sekarang menurun, sehingga daya pikir kritis perlahan-lahan akan mulai luntur. Minat baca mahasiswa yang rendah akan mengakibatkan kurangnya wawasan yang menyebabkan mahasiswa kurang menguasai beberapa cabang ilmu sehingga akan menimbulkan kemampuan yang kurang produktif.
Sebagai salah satu perguruan tinggi yang mempunyai filosofi wacana keilmuwan dan keislaman, Universitas Muhammadiyah Surakarta telah menyediakan perpustakaan untuk menumbuhkan minat baca di kalangan mahasiswa. Mustofa, selaku kepala perpustakaan UMS tahun 2015 menuturkan, koleksi buku yang dimiliki perpustakaan UMS sudah cukup lengkap, terutama buku-buku penunjang kegiatan perkuliahan. Perpustakaan UMS selalu memperbarui koleksinya dan membuka kesempatan para civitas academica agar memberikan usulan judul buku yang dibutuhkan. “Kalau masalah minat baca tergantung mahasiswanya sendiri, tetapi kita sebagai perpustakaan, peran dan fungsinya, kan, untuk memfasilitasi agar mahasiswa lebih meningkatkan minat bacanya,” ucap Pak Mus.
Seiring dengan pesatnya kemajuan teknologi informasi, perpustakaan UMS berupaya memberikan kemudahan dan kecepatan akses informasi. Semua layanan sudah terkomputerisasi. Hal ini dibuktikan dengan tersedianya layanan penelusuran informasi berbasis web dengan sentuhan teknologi informasi dalam setiap aktivitasnya. Proses penyediaan akses tersebut diharapkan dapat mendukung minat baca mahasiswa.
Selain perpustakaan, UMS juga telah menyediakan akses baca bagi mahasiswa yaitu UMS Bookstore. Setiap semester, UMS Bookstore menyediakan fasilitas berupa voucher senilai Rp100.000,00 kepada mahasiswa aktif untuk ditukarkan dengan buku. Menurut manajer UMS Bookstore, Syaiful Achyar menyampaikan, ketersediaan stok yang ada secara langsung di bookstore ini tergantung dari jumlah buku yang dipesan dari pihak lain. Untuk pemasokan buku sendiri diambil dari penerbit langsung seperti Solo, Jogja, Surabaya, Jakarta, dan yang paling banyak dari Jogja.
Namun, pada kenyataannya, tidak banyak mahasiswa yang memanfaatkan voucher tersebut dengan baik. Ada banyak yang antusias, ada banyak pula yang acuh. Ada juga yang menjual voucher milik pribadi pada orang lain dengan separuh harga, atau memberikannya secara cuma-cuma pada orang lain. Bahkan, ada yang tidak mempergunakan voucher sama sekali hingga batas waktu penggunaan voucher habis. Mahasiswa semacam ini adalah para mahasiswa yang tidak menaruh minatnya, tidak berminat karena tidak ada buku yang disukai, atau tidak berminat karena tidak ada gairah baca sama sekali.
Adanya fasilitas di kampus seperti perpustakaan dan bookstore harusnya mampu membangkitkan minat baca mahasiswa. Adanya fasilitas tersebut, harusnya mampu membantu mahasiswa untuk membawa peran besar atas kemajuan bangsa melalui inovasi dan pemikiran yang dihasilkan. Namun sayangnya, mahasiswa hari ini lebih nyaman dengan hadirnya berbagai fitur-fitur teknologi seperti game online dan media sosial (medsos). Hadirnya fitur-fitur teknologi membuat mahasiswa berjam-jam memainkannya sehingga mereka lupa akan pentingnya membaca buku guna mendapatkan ilmu pengetahuan dan menambah wawasan baru.
Kemajuan teknologi seharusnya bisa membawa manfaat yang besar bagi kemajuan bangsa ini, bukan justru menumbuhkan hal-hal yang negatif. Dengan kemajuan teknologi, maka dapat mendorong terciptanya perpustakaan digital, sehingga minat baca mahasiswa akan meningkat. Bagi generasi milenial, membaca melalui media digital lebih akrab dibandingkan membaca buku cetak. Dengan adanya digitalisasi, maka literasi membaca dan juga minat baca mahasiswa dapat lebih optimal, terutama di masa pandemi seperti saat ini.
Editor : Akhdan Muhammad Alfawwaz






