Ada sebuah pepatah lama mengatakan,”Jangan sekali kali tabu pada revolusi”. Revolusi haruslah ditekankan dan diagendakan. Seorang Goenawan Muhammad mengatakan,”Revolusi bagai durian montong, ia harus dipesan dari jauh jauh hari”. Artinya revolusi harus benar bnear dipersiapkan secara matang dan tersistematis. Mahasiswa adalah salah satu subjek revolusi, ia salah satu pelaku revolusi. Dalam kampus ia dididik untuk menciptakan revolusi untuk bangsa ini, tentunya revolusi yang berwujud kebaikan.
Korupsi adalah sebuah kejahatan, dan menghilangkanya adalah sebuah kebaikan tersendiri. Nah, gerakan revolusi dari mahasiswa adalah salah satu solusi menghlangkan korupsi. Gerkana revolusi mahasiswa bisa dimulai dari percaturan politik di kampus. Politik kampus bisa menjadi kawah candradimuka bagi para mahasiswa untuk bisa mewujudkan sebuah revolusi untuk menghapus korupsi dari bangsa ini tentunya.
Namun, disinlah justru letak masalahnya.politik kampus yang dimanifestasikan dengan parpol ala kampus saat ini tidak punya isu yang jelas, isu yang digarap ada di wilayah abu abu. Dan target dari partai politik dalam kampus itu sendiri dalam memberi pendidikan politik untuk mahasiswa sangat sulit terwujud.
Sebuah pertanyaan mengapung, apa bedanya partai politik kampus dengan partai nasional sekarang ini. Ia hanya tampi saat ada Event saja, seperti pemilwa misalnya. Partai politik kampus sekarang layaknya EO hanya bekerja saat ada event saja. Sepanjang kegiatanya berlangsung, jarang ada kegiatan kegiatan dari politik kampus yang melibatkan mahasiswa, lalu dimanakah pendidikan politik yang katanya digembar gemborkan.
Intisari diskusi rutin LPM Pabelan pada hari Kamis, 28 Februari 2013 dengan tema politik






