Pabelan-online.com, UMS – Penerapan kebijakan pemisahan lift menggunakan stiker penanda gender di Gedung Fakultas Ilmu Kesehatan (FIK) dan Fakultas Agama Islam (FAI) baru-baru ini bertujuan agar menerapkan Ilmu Al Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK), dalam kehidupan sehari-hari. Kesadaran mahasiswa terhadap kebijakan itu tergolong rendah, sehingga beberapa oknum menyengaja memasuki lift yang tidak sesuai dengan gendernya.
Wakil Dekan III FIK UMS, Noor Alis Setyadi menyatakan, kebijakan itu terinspirasi dari Fakultas Kedokteran dan usulan Kepala Program Studi (Kaprodi) Gizi dalam rapat koordinasi struktural untuk memisahkan lift antara laki-laki dengan perempuan. Usulan ini mendapat respon baik dari pihak fakultas.
“Prinsipnya menghindari hal-hal yang tidak diinginkan,” ujarnya Selasa, (12/06/2025).
Noor pernah menyaksikan adanya mahasiswa yang sengaja memasuki lift yang salah karena sedang kosong dan ia pun langsung mengingatkannya. Tak jarang, mahasiswa mengabaikan tanda gender pada pintu lift dan memakai lift yang kosong hanya karena tidak ingin menunggu lama.
“Saya mendapati anak perempuan masuk lift laki-laki dan saya ingatkan langsung,” ucap Noor.
Menurut Noor, penyebab mahasiswa yang salah masuk lift lawan jenis bukan karena tidak adanya sosialisasi, melainkan karena minimnya kesadaran mahasiswa. Ia menilai, sosialisasinya tak perlu diadakan karena pemisahan lift dengan stiker penanda gender semacam ini sama halnya dengan pemisahan gender pada toilet.
“Sama saja kayak masuk toilet laki-laki dan perempuan. Kan tidak usah ada sosialisasi,” kata Noor.
Noor membantah soal ukuran lift yang besar sebelah. Alasannya, ukuran lift tidak mungkin berbeda jauh antara kanan dan kiri sama besarnya.
“Itu salah, keliru itu, jelas hoaks. Merasa kecil paling, satunya berada di kanan, jadi merasa kecil,” bantahnya.
Menanggapi tidak adanya pegangan pada lift sehingga menyulitkan penyandang disabilitas, Noor menyebut bahwa itu bukan tanggung jawabnya, melainkan tanggung jawab Biro Aset Universitas (BAU).
“Kita sudah mengajukan ke BAU tapi kan pembangunan tidak hanya di FIK saja,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Sarana dan Prasarana BAU, Hasyim Asyari mengaku belum menerima laporan soal tidak adanya pegangan pada lift FIK dn FAI. “Jika ke pimpinan saya belum tau,” pesannya via WhatsApp pada Selasa, (17/06/2025).
Fatimah, salah satu mahasiswa Prodi Pendidikan Agama Islam menyatakan bahwa kebijakan pemisahan gender dalam lift tersebut bagus, namun kurang efektif karena mahasiswa perlu menunggu lift terlalu lama karena kebijakan tersebut, sehingga mereka tidak bebas memakai lift yang lain.
Fatimah juga berpendapat bahwa pemisahan lift di FIK dan FAI kurang bisa diterapkan seperti di FK. Sebab, ia melihat kedisiplinan FK yang berbeda dengan FIK dan FAI dalam mematuhi penggunaan lift sesuai gender. Baginya, jika dijadikan satu, lift akan lebih efisien tanpa mengabaikan sopan santun.
“Kalau bisa, sih, ditambahin CCTV biar aman dan tetap terpantau juga,” sarannya Senin, (16/06/2025).
Reporter: Irsyada Al Mumtaz
Editor: Bagas Pangestu







