LPM Pabelan

Mahasiswa internasional menampilkan sebuah lagu Tum Hi Ho karya Arijit Singh, penyanyi asal India, dalam Ekspo UKM 2025. (25/8) Foto: Muhammad Farhan

Pabelan-online.com, UMS – Sejumlah mahasiswa Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) mengeluhkan soal adanya penampilan mahasiswa internasional dalam Ekspo UKM yang dilaksanakan pada Senin, 25 Agustus 2025 lalu. Hal itu memicu perubahan rundown sehingga memangkas durasi tampil sejumlah UKM dan membuat penampilan mereka dinilai kurang maksimal. 

Salah seorang anggota UKM Rapma FM yang tak bersedia disebutkan namanya menilai penampilan mahasiswa internasional tidak relevan dengan tujuan Ekspo yang seharusnya menjadi ruang murni bagi UKM. Menurutnya, mahasiswa asing tidak termasuk bagian Organisasi Kemahasiswaan (Ormawa) karena tidak memiliki Surat Keputusan (SK) resmi yang mengikat. 

“Memangnya mahasiswa asing termasuk bagian dari ormawa? Apakah mereka memiliki SK sah yang diputuskan oleh rektor?,” ujarnya, Kamis (28/08/2025). 

Ia juga merasa cukup terganggu dengan informasi mendadak yang berdampak pada penyesuaian internal UKM. Meski tidak sampai mengubah konsep besar, ujarnya, kondisi itu tetap mengganggu konsentrasi persiapan penampilan peserta. “Karena ini juga memengaruhi pembuatan rundown dan urutan penampilan dari masing-masing UKM,” katanya.

Ia berharap acara Ekspo mendatang, seluruhnya bisa digarap oleh rekan-rekan UKM-nya agar kreasi murni dari mereka bisa tersampaikan. Selain itu, pembuatan konsep juga bisa dilakukan jauh berbulan-bulan sebelum hari-H, serta tak perlu diadakan sama sekali instansi atau pihak luar yang masuk ke dalam rangkaian Ekspo UKM. 

“Secara garis besar, acara kemarin adalah Ekspo UKM yang seharusnya berisi kegiatan dari teman-teman UKM saja, tapi entah kenapa pihak kampus bisa memasukkan acara ‘Student Academy Awarding‘ di dalam rangkaian Ekspo,” jelasnya.

Kementerian UKM dan Orda Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UMS, Rangga Pangestu, juga menyampaikan kekecewaannya terhadap keputusan tersebut. Ia menyebut, keputusan menampilkan mahasiswa internasional dilakukan secara sepihak tanpa koordinasi dengan pihak UKM maupun BEM.

“Menurut saya (penampilan –red) dari mahasiswa internasional itu tidak ada konfirmasi dari jauh hari,” ungkapnya, Rabu (27/08/2025).

Rangga juga mengungkapkan bahwa sejak awal setiap UKM sudah ditekan untuk menyesuaikan waktu agar seefisien mungkin. Namun, dengan adanya penampilan tambahan, jadwal kembali mundur dan beberapa UKM harus rela memangkas waktu tampil mereka.

“Dari awal itu semua sudah overtime (kelebihan waktu –red) mengakibatkan UKM yang tampil di akhir seharusnya tampil lima menit menjadi tiga menit,” kata Rangga.

Ia juga menegaskan, BEM tidak memiliki kewenangan teknis dalam mengatur jalannya acara. Semua keputusan berada di tangan panitia universitas yang dinilai kerap membuat keputusan mendadak dan sepihak. 

Rangga berharap agar Ekspo UKM ke depan dapat lebih matang, dan stand Ekspo UKM dapat lebih kondusif. Ia juga menyarankan soal perlu adanya jeda waktu atau durasi yang memadai dalam penampilan antar UKM. Sebab, ujarnya, beberapa UKM merasa Ekspo kali ini kurang memperkenalkan tiap UKM-nya.

“Dan memang seharusnya Ekspo UKM lebih fokus untuk memperkenalkan UKM bukan hal lain,” ucapnya.

Menanggapi kritik tersebut, Ketua Panitia Ekspo UKM 2025, Marisa Kurnianingsih mengarahkan wawancara ke Sekretarisnya, Noor Alis Setiyadi.

Sekretaris Ekspo UKM 2025, Noor Alis Setiyadi menjelaskan, kehadiran mahasiswa asing hanyalah bersifat selingan. Menurutnya, penampilan itu dimaksudkan untuk menunjukkan keberadaan mahasiswa internasional di UMS dan memperkuat citra kampus di kancah global.

“UMS itu kan International recognize (diakui secara global –red), jadi mahasiswa internasional ditampilkan sebentar sebagai performer, bukan bagian dari UKM,” ujarnya, Kamis (28/08/2025).

Ia menegaskan, keputusan tersebut merupakan arahan langsung dari pimpinan kampus dan memang diinformasikan mendadak. Panitia hanya menyesuaikan agar penampilan itu bisa masuk tanpa mengubah konsep utama Ekspo dengan menempatkannya sebagai selingan singkat di tengah acara sehingga fokus tetap pada pengenalan UKM.

Di sisi lain, kata Noor, kehadiran mahasiswa internasional juga menjadi variasi agar acara tidak monoton. “Karena kan ini media yang bagus untuk menampilkan (mahasiswa internasional –red),” jelasnya.

Meski demikian, ia tidak menampik adanya keluhan dari UKM yang merasa dirugikan terkait durasi tampil mereka yang dipangkas. Noor menyebut, keterbatasan waktu dan aturan agar acara selesai sebelum pukul 13.00 membuat panitia harus mengambil langkah tersebut.

“Kalau kita memuaskan semua pihak memang susah, tapi kita mengakomodir semua,” tambahnya.

Reporter: Nabil Isnan Sutarno

Editor: Herlina Damayanti

Also Read

Tinggalkan komentar