Pabelan-online.com, UMS – Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Teater Lugu Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menggelar pentas besar berjudul Sayang Ada Orang Lain di Taman Budaya Jawa Tengah pada Senin, 24 November 2025. Pertunjukan ini mengandung unsur romansa, psikologis, dan realisme sosial.
Dua pembawa acara, Fiki dan Herlita menyebut pentas besar ini merupakan acara tahunan dari UKM Teater Lugu Fakultas Psikologi. Naskah drama yang berjudul Sayang Ada Orang Lain itu ditulis oleh Utuy Tatang Sontani, realis beraliran kiri yang aktif menulis pada tahun 1958–1959 dan telah dipentaskan pada tahun 1960–1961.
Faris Bintang Prasetya selaku sutradara mengatakan cerita ini memberikan ruang bagi pemain untuk mengeksplorasi emosi secara lebih mendalam sehingga mampu memberikan kilas balik yang nyata, hidup, dan penuh dinamika.
“Karena sampai sekarang kalau kita tilik lagi, kisahnya masih relate-relate (berhubungan –red) gitu dengan masyarakat, jadi kita menyampaikannya itu enak,” ujar Faris di Teater Arena, Taman Budaya Jawa Tengah, Senin (24/11/25).
Alasannya mengangkat isu ini adalah ingin menggarisbawahi penolakan terhadap anggapan bahwa perempuan selalu menggunakan perasaan dan laki-laki mengedepankan logika dalam menghadapi masalah. Faris berharap penonton dapat melihat bahwa pola pikir manusia jauh lebih kompleks daripada stereotip gender yang selama ini berkembang.
“Pada akhirnya, saat seseorang sudah berkeluarga, insting keibuan seorang wanita akan tumbuh. Otomatis, wanita akan lebih materialistis, akan lebih logis dalam jalan kehidupan,” kata Faris tegas.
Sayang Ada Orang Lain bercerita tentang kisah hubungan manusia yang penuh dengan tarik–ulur perasaan, komitmen, dan realitas sosial. Kisahnya menceritakan tentang Suminta, buruh yang hidup di tengah problematika sosial-ekonomi Indonesia. Ia memiliki istri bernama Mini.
Jalan cerita keduanya menggambarkan krisis ekonomi dan konflik rumah tangga yang tidak hanya terpusat pada perselingkuhan, tetapi juga tekanan ekonomi serta keseriusan dalam jenjang pernikahan.
Salah satu penonton, Nabil Aqila, mengaku sangat terkesan dengan penampilan Sayang Ada Orang Lain, terlebih, ini adalah kali pertamanya ia menonton teater. Ia menambahkan bahwa pencahayaan dan pembawaannya sangat bagus dan mampu membuatnya terbawa suasana.
“Lihatnya tuh bagus banget gitu loh. Kayak, waduh, ternyata ada lighting-nya, ada pembawaannya juga. Wah, gila, bikin merinding parah,” ujarnya, Senin (24/11/2025).
Adapun Selvia Rianti, yang sangat menyukai kesenian, menilai bahwa pentas ini tak kalah seru dengan pentas-pentas di tahun sebelumnya. Ia merasa diingatkan pada momen itu.
“Jadi saya itu sering banget nonton kayak gini. Biasanya saya nonton wayang. Tapi kali ini saya menonton di fakultas yang paling dekat dulu. Karena saya juga pernah ngadain yang seperti ini,” kata Selvia, Senin (24/11/2025).
Bagi Selvia, pesan yang didapat dari pementasan tersebut adalah seseorang biasanya tidak bisa memahami perasaan orang lain kalau belum mengalami hal yang sama. Saat seseorang sedang tenggelam dalam emosi, misalnya patah hati, benci, atau dendam, kata Selvia, ia akan berkata dirinya sedang tak bisa berpikir rasional, meskipun orang lain sudah menasihati dengan logis, ia tetap terpaku pada perasaannya dan tidak peduli.
“Yang awalnya itu kayak kita itu tidak bisa merasakan apa yang orang lain rasakan, kecuali kita itu sudah mengalami hal yang sama seperti itu,” ujar Selvia.
Reporter: Fatima Anutya
Editor: Muhammad Farhan







