
Reporter: Livia
UMS-Berakit-rakit kehulu, berenang-renang ketepian. Bersakit- sakit dahulu, bersenang- senang kemudian. Pantun zaman Sekolah Dasar (SD) tersebut sangat cocok untuk menggambarlan prinsip hidup pria berkacamata, kelahiran tahun 1995 ini. Meskipun tugas kuliah bertubi-tubi, dan masih disibukkan dengan kuliah di Shabran tiap pagi, malam dan kegiatan organisasi tak ada habisnya, sama sekali bukan penghalang bagi Nur Rizqi Febriandika untuk menjadi wisudawan terbaik, tercepat, dan termuda se-universitas periode 2015.
Rizqi mengaku untuk mencapai apa yang ditargetkannya, ia akan melakukan apapun untuk menggapai hasil yang diinginkannya, tentunya dengan cara yang halal. Tak hanya itu, pria asal Jepara ini mengungkapkan bahwa ia juga memberlakukan punishment untuk dirinya sendiri bila target yang dibuat tidak terpenuhi, agar kelak bisa menjadi lebih baik lagi. “Ketika aku tidak menjadi wiudawan terbaik se-universitas aku bakal cukur plontos kayak tuyul, tapi Alhamdulillah nggak”, akunya, Kamis (3/12/2015)
Goresan prestasi akademik Rizqi benar-benar membentuk rangkaian melodi dan syair nan indah. Diantara prestasi tersebut yaitu, ia pernah terpilih menjadi mahasiswa berprestasi (Mawapres) tingkat Fakultas Agama Islam (FAI). Untuk ranah nasional mahasiswa Program studi (Prodi) Hukum Ekonomi Syariah (HES) ini pernah masuk finalis lima besar lomba Essay Ocean Competition UNS dan menjadi juara 1 lomba karya tulis ilmiah Lembaga Pers Mahasiswa (Lapma) Sinergi HMI Cabang Yogyakarta.
Pria yang awalnya lebih memilih membaca buku, dibanding berorganisasi ini ternyata malah berujung menjadi aktivis, dengan berbagai jenis Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) diikutinya. Demisioner Pemimpin Redaksi Majalah LPM Pabelan yang awalnya hanya coba-coba ini, mengatakan bahwa organisasi membantunya membagi waktu dengan baik, ditengah ramainya kegiatan. “Dulu aku itu kan kalau belajar ya fokusnya belajar, nggak bisa ke yang lain, tapi semenjak masuk organisasi, aku itu bisa ngurus organisasi, sambil belajar gitu loh”, kata Rizqi.
Seperti lagu Camelia Malik, bahwa hidup itu penuh liku-liku, kadang suka kadang duka. Dibalik prestasi yang menyilaukan bak berlian termahal di dunia, Rizqi pernah mengalami kegagalan, stres dan rasa putus asa. Namun, Hal tersebut dapat diatasinya dengan berdoa kepada Allah dan makan. “Cara ngilangin stres kan tidur kalau nggak makan, daripada aku tidur nanti nggak produktif mending aku makan sambil menyelesaikan berbagai tugas, meskipun nanti resikonya gendut. Ya harus ada yang dikorbaninlah”, tutur Rizqi.
Editor: RK






