LPM Pabelan

Poster Diskusi Tematik Satgas PPKPT UMS. Foto: Dok. Pribadi

Pabelan-online.com, UMS – Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Perguruan Tinggi (Satgas PPKPT) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) mengadakan diskusi tematik bertajuk “UMS Cantik: Kemunduran Moral atau Fenomena Budaya Digital”. Acara ini diselenggarakan di Kantin Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) pada Kamis, 17 Oktober 2025, untuk merespons adanya fenomena kampus cantik yang bermunculan.

Diskusi yang digelar oleh Satgas PPKPT UMS itu dimoderatori oleh Fernanda selaku Koordinator Komisariat UMS, serta dipantik oleh Ketua Satgas PPKPT Marisa Kurnianingsih dan Alfin Nur Ridwan dari Pimpinan Cabang (PC) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Sukoharjo. Di Kantin FKIP, mereka berdiskusi bahwasanya terdapat pro dan kontra terhadap eksistensi akun UMS Cantik.

Ketua Satgas PPKPT Marisa Kurnianingsih mengatakan standar perempuan di Indonesia itu luar biasa. Misalnya, untuk dianggap cantik harus memiliki hidung tinggi, bibirnya harus tipis, harus berkulit putih, dan harus berambut panjang. “Orang mau dikatakan cantik itu tuh harus mulai dari kepala sampai ujung kakinya ini sesuai dengan standar,” ujar Marisa, Kamis, (16/10/2025).

Adanya UMS Cantik/UMS Ganteng, kata Marisa, secara tidak langsung telah mengkotak-kotakkan mahasiswa: yang memenuhi standar kecantikan dan yang tidak memenuhi standar kecantikan. Padahal, efek dari tindakan mengkotak-kotakkan itu, ujarnya, luar biasa.

“Oh, ini kalau pagi jilbaban, kalau malam ‘bisa’. Nanti larinya kemana? Di DM (direct massage-red). Tanpa UMS Cantik saja banyak laporan mahasiswi kita di DM. Ngajak-ngajak, ‘Bisa open dulu?’, ‘Bisa begini?’ Itu sudah banyak. Berapa banyak mahasiswi kita dikirimi foto alat kelamin? Ini real,” jelasnya memberi contoh.

Hanya, laporan-laporan seperti itu, pelakunya tidak diketahui karena mereka menggunakan akun anonim. Meskipun korban menyepakati atau konsensual dengan fotonya diunggah di akun itu, sebenarnya, kata Marisa, mereka sedang menjadi korban kekerasan untuk kedua kalinya. 

“Sudah dieksploitasi, ya ditampilkan, ditambah dengan kemungkinan mereka bisa menjadi korban eksploitasi yang lain,” kata Marisa tegas.

Ia menjelaskan, dengan diunggahnya foto perempuan cantik di akun tersebut, mereka akan mendapat pengakuan bahwa dirinya cantik. Maka, dari situ motifnya sudah berubah menjadi mendapatkan followers yang banyak, sehingga mendapatkan endorsement. “Pergeseran-pergeseran ini sudah nyata,” kata Marisa.

Marisa menyebut bahwa perlindungan dari diri sendiri pun sudah sangat tipis karena membuka jalan kasus itu terjadi. “Jadi sebenarnya, kenapa kok terjadi kekerasan itu, bukan karena tidak ada perlindungan, bukan cuma karena pelakunya termotivasi, tapi juga karena korbannya tepat,” tuturnya.

Melihat adanya akun UMS Cantik semacam ini, Fernanda selaku moderator, berkomentar bahwa banyak dari mereka berfoto di tempat-tempat yang mahal seperti kafe-kafe dan pelataran hotel. Hal itu, kata Fernanda, mengakibatkan kecemburuan sosial karena ketimpangan ekonomi. Bahwa standar gaul dan cantik berarti harus demikian. 

“Orang-orang rela merogoh kocek atau uang yang lebih untuk mendapatkan hal itu, mulai dari mereka jual diri, judol, atau bahkan berbohong kepada orang tua”. ujarnya, Kamis, (16/10/2025).

Lebih lanjut, Fernanda berharap sebagaimana yang disampaikan Marisa, dengan adanya agenda seperti ini, mahasiswa-mahasiswa dapat tersosialisasikan dengan baik. “Aku harap setiap fakultas itu ada komunitas-komunitasnya gitu. Karena penting banget komunitas berkaitan dengan consent-nya terhadap perempuan ini harus hadir di setiap fakultas,” harap Fernanda.

Surya Agritama selaku peserta mengatakan, meskipun setelah dikonfirmasi bahwa foto atau video yang diunggah oleh ums cantik sudah mendapat persetujuan dari pihak-pihak yang bersangkutan, masalah yang lebih besar justru bermunculan. Contohnya, soal muncul bentuk-bentuk pelecehan melalui kolom komentar, bahkan ada yang sampai dikirimi foto tak senonoh oleh orang yang tak bertanggungjawab.

Sebab, kata Surya, nyatanya para pihak yang diunggah ke akun tersebut tidak siap dengan konsekuensinya. “Konsekuensi yang paling jelas ialah menjadi objek KBGO (Kekerasan Berbasis Gender Online –red), dan sejumlah tindak pelecehan. Mereka yang menyetujui tidak paham bahwa di UMS sendiri khususnya, belum ada kesadaran gender yang mumpuni, terutama untuk menyikapi unggahan tersebut,” ujarnya via WhatsApp, Jumat, (17/10/2025).

Reporter: Muhammad Nurul Afif

Editor: Muhammad Farhan

Also Read

Tinggalkan komentar