USF Gelar Pentas Teater ‘Dhemit’ sebagai Bentuk Kritik Lingkungan

LPM Pabelan

Pementasan teater Dhemit yang disutradarai oleh Liu Danang Ardiyanto diselenggarakan di Taman Budaya Jawa Tengah. (11/11) Foto: Pabelan Online/Aulia Freyaniti Rengganis

Pabelan-online.com, UMS – Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Unit Seni dan Film (USF) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menggelar pementasan teater berjudul Dhemit di Taman Budaya Jawa Tengah pada Selasa, 11 November 2025. Pertunjukan bergenre horor komedi itu mengangkat isu lingkungan tentang penggundulan hutan dan kerusakan alam.

Ketua Panitia pementasan teater Dhemit Rengga Dimas Pramuditya mengatakan judul tersebut diambil dari bahasa Jawa yang berarti makhluk halus penjaga hutan. Dhemit mengisahkan tentang penggundulan hutan oleh kontraktor yang membuat rumah para dedemit rusak. 

“Mungkin bisa dibilang horor komedi. Ceritanya nanti berkaitan dengan penggundulan atau penebangan hutan dan lain sebagainya,” ujar Rengga di Taman Budaya Jawa Tengah, Selasa, (11/11/2025).

Rengga menambahkan, pementasan ini merupakan bentuk kritik terhadap para kontraktor, yakni mereka yang memaksakan hutan asri itu ditebangi. “Jadi mungkin bukan pemerintah. Lebih ke kontraktor,” ucapnya.

Liu Danang Ardiyanto selaku sutradara, bercerita bahwa teater ini mengangkat isu sosial karena sekarang banyak hutan digunduli untuk dijadikan perumahan dan pabrik. Lewat Dhemit, ia menyampaikan pesan agar sesama makhluk hidup saling berdampingan dan saling membantu.

“Kita saling berhubungan satu sama lain alam dan makhluk hidup karena kita berhubungan dan saling membantu baik yang percaya maupun tidak,” tegas Liu di depan para peserta usai pementasan Dhemit rampung, Selasa, (11/11/2025).

Salah satu penonton, Nuri mengungkapkan bahwa ia penasaran dengan alur ceritanya karena saat masih Sekolah Menengah Atas (SMA) belum pernah menemukan teater yang bertema Dhemit. Nuri sangat terkesan pada bagian tarian karena bisa berkolaborasi dengan teater kidung.

“Teater kidung itu bagian teaternya. Jadi, di USF itu sub-unitnya beda-beda, ada sub-unit tari sama teater. Teater di USF itu disebutnya teater kidung,” ujarnya, Selasa, (11/11/2025).

Naufal Akmal Putra Marsera sebagai penonton UKM Teater dari Universitas Sahid Surakarta turut hadir karena juga aktif dalam UKM yang sama. Ia mengaku kerap menghadiri pementasan teater serupa.

“Untuk menambah referensi dan lain-lain, saya juga menghadiri acara-acara teater lain,” kata Naufal, Selasa, (11/11/2025).

Penampilan yang paling berkesan bagi Naufal adalah koreografi dan gerakan tarian. Alasannya, kata Naufal, tak semua teater mau melakukan koreografi sebanyak yang ditampilkan di pentas Dhemit ini. “Menurut kami itu sudah bagus banget,” tuturnya.

Reporter : Arlinda Putri Kusumaningtyas

Editor : Nadia Kusuma Ningrum

Also Read

Tinggalkan komentar