LPM Pabelan

Mojolaban, pabelan-online.com – Sekitar tiga puluhan warga dengan wajah riang datang ke pendopo Desa Laban, Kecamatan Mojolaban, Sukoharjo, Sabtu pagi, (03/04/2021). Mereka tampak rapi dengan busana batik baik pria maupun wanita. Ada sebagian kecil yang berbusana putih, ada pula yang memakai warna lain lengkap dengan asesoris sepantasnya.

Berbagai warna dan jenis pakaian yang dikenakan oleh warga seakan menggambarkan kehidupan sosial mereka. Meskipun berbeda-beda tapi tetap harmoni dalam bingkai budaya.

“Kebudayaan dapat membangun narasi keberagaman dan toleransi,” kata seorang pria paruh baya di atas podium.

Pria itu bernama Wawan Gunawan. Ia merupakan seorang budayawan asal Bandung yang diundang untuk mengisi orasi kebudayaan dalam Festival Toleransi Mojolaban pagi itu. Menurutnya, banyak pelajaran yang bisa dipetik dari kegiatan tersebut. Kebudayaan yang diwariskan secara turun temurun oleh leluhur di Mojolaban menghasilkan kultur masyarakat yang inklusif.

Mulai dari muda hingga dewasa, warga Mojolaban saling bergotong royong dan turut ambil bagian dalam Festival Toleransi ini. Suasana masih terasa hangat, meski telah dibatasi dengan aturan protokol kesehatan dengan tidak bersalaman dan menjaga jarak.

Tidak hanya itu, warga lain yang tidak bisa hadir ke pendopo, juga difasilitasi adanya siaran langsung via aplikasi Zoom Meeting dan akun Facebook Imparsial (The Indonesian Human Right Monitor).

Ya, kegiatan ini memang diinisiasi oleh Imparsial bersama PSAB (Penelitian Studi Agama Dan Budaya) Surakarta. Kedua Lembaga tersebut telah bekerjasama selama setahun lebih dalam mendampingi empat desa di Kecamatan Mojolaban. Empat desa tersebut terdiri dari Desa Palur, Desa Laban, Desa Bekonang dan Desa Wirun.

Pada kesempatan itu, aktivis Imparsial Dian Andrea Sari menjelaskan alasan pemilihan Mojolaban sebagai pusat penelitian mereka terkait multikulturalisme masyarakat. Ada latar belakang dan beberapa indikator dalam sebuah proyek riset, seperti landasan estimologi, antologis dan asiologis. Menurutnya keragaman yang ada di Solo ini bisa menjadi peluang sekaligus tantangan.

“Ada sebuah desa, misalnya, di mana mayoritas masyarakatnya beragama Islam sedangkan kepala desanya beragama Hindu,” ungkap Dian, Sabtu (03/04/2021).

Narasi-narasi seperti inilah, lanjut Dian, yang hendak didengungkan kepada masyarakat luas. Bahwa sesungguhnya masyarakat ini sudah semestinya bisa hidup berdampingan dan menghindari pertikaian hanya karena masalah agama.

Di Mojolaban sendiri terdapat tiga kelompok kerja. Yaitu kelompok kerja pemuda lintas iman (Pelita), kemudian kelompok kerja yang diisi oleh para tokoh bernama Waskita, dan satu lagi kelompok kerja yang diisi oleh para perempuan yang dinamai Purwakanti. Ketiga kelompok kerja inilah yang menjadi wadah penyatukan masyarakat dan menciptakan keharmonisan antar masyarakat.

Deklarasi Desa Damai

Pada acara puncak Festival Toleransi itu dibacakan pula deklarasi desa damai dari empat desa di Kecamatan Mojoloban. Masing-masing perwakilan dari Desa Palur, Desa Laban, Desa Bengkonang dan Desa Wirun membacakan sila-sila perdamaian. Selanjutnya disematkan juga penganugrahan gelar desa damai kepada mereka atas keberhasilan membina keharmonisan dalam masyarakat tersebut.

Berdasarkan data kependudukan setempat, warga di Kecamatan Mojolaban termasuk yang memiliki tingkat heterogenitas yang tinggi dalam hal agama. Namun, berkat budaya setempat mereka tetap bisa bersatu dalam perbedaan keimanan yang ada.

“Jalur kebudayaan menciptakan sebuah harmoni dalam kearifan lokal yang ada. Masyarakat di Sukoharjo ketika sudah main karawitan misalnya, mereka sudah tidak berbicara kepentingan agama. Semua berbaur dan bekerja sama,” ungkap Dian, Sabtu (03/04/2021).

Senada dengan Dian, perwakilan kelompok kerja Purwakanti, Hanna Kusumawati, mengatakan sudah tidak ada masalah apa-apa di masyarakat Mojolaban sejak dulu. Dalam kegiatan apa saja masyarakat sudah saling membantu dan saling mengundang.

“Seperti dalam hal kegiatan apa saja, bila ada halalbihalal umat kristiani diundang, begitu pula sebaliknya, ketika natal ada perwakilan umat islam yang diundang,” papar Hanna, Sabtu (03/04/2021).

Termasuk dalam proses karawitan. Hanna menceritakan bahwa tradisi karawitan ini sudah lama ada di Mojoloban. Namun, sempat vakum karena sulitnya memainkan gamelan. Adanya Festival Toleransi ini, imbuh Hana, menjadi momentum bagi warga setempat untuk berlatih kembali dan mulai mendengungkan lagi tradisi yang hampir hilang itu.

“Ya begini memang kebudayaan itu menyatukan kami. Memang ibu-ibu ini berlatih sampai bisa, dan memang sulit, tetapi tidak menyerah karena ada motivasi tampil di festival ini,” kata Hanna bercerita usai acara.

Menurut Achmad Syafi’i, mahasiswa  Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kediri, narasi-narasi perdamaian memang harusnya disengungkan, terlebih mahasiswa dapat memberikan perannya. Ia berpendapat, bahwa kegiatan tersebut memang bagus untuk umat beragama di Solo Raya. Mengingat Solo Raya memiliki penduduk yang amat beragam.

Terlebih tindakan intoleransi yang masih menghantui di Solo Raya.  Dengan adanya kegiatan tersebut, dapat menghapus intoleransi yang ada dan menggantinya dengan rasa saling hormat antar umat beragama.

“Mahasiswa seharusnya memberikan narasi perdamaian kepada mayarakat dengan bahasa yang mudah dipaahami oleh masyarakat. Agar pesan-pesan perdamaian itu tersampaikan dengan mudah,” harap Syafi’i, Sabtu (05/04/2021).

Mojoloban hanya satu dari sekian banyak daerah di Indonesia yang masih kental dan kuat dalam merawat kerukunan. Melalui pendekatan budaya terbukti ampuh menyatukan warga tanpa saling mempertanyakan agama mereka. Narasi serupa harus diperbanyak dengan harapan supaya toleransi bisa jadi sebuah ajaran. Tidak hanya nilai yang diperdebatkan, tapi juga diterapkan dalam keseharian demi hidupnya kemanusiaan.

 

Reporter         : Tsania Laila M.

Editor              : Rio Novianto

Baca JugaKorporatisme Menjegal Perjuangan Kolektif Mahasiswa

 

Also Read

Tinggalkan komentar