
UMS, pabelan-online.com – Gerakan Mahasiswa Peduli HIV/AIDS (Gempha) Kesehatan Masyarakat (Kesmas) Fakultas Ilmu Kesehatan (FIK) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) mengadakan webinar Gempha Issue Discussion (GID) 2021 secara daring pada Minggu, 11 April 2021 lalu. Webinar tersebut membahas mengenai HIV/AIDS, hingga pemberian vaksin Covid-19 terhadap Orang dengan HIV/AIDS (ODHA).
Webinar yang mengusung tema “Amankah Vaksinasi COVID-19 pada ODHA?” tersebut menghadirkan tiga pembicara yakni Tanjung Anitasari selaku dosen Prodi Kesmas UMS, Garis Subandi selaku Koordinator Yayasan Sehat Peduli Kasih, dan Satrio Budhi Susilo selaku fasilitator HIV/AIDS Provinsi Jawa Tengah.
Kegiatan webinar GID bertujuan untuk mengkaji mengenai isu-isu terkini, di mana saat ini pemerintah sedang menggalakkan program vaksinasi Covid-19. Melalui kegiatan webinar tersebut diharapkan dapat mengupas tuntas bagaimana pemberian vaksin Covid-19 terhadap Orang dengan HIV/AIDS (ODHA).
Tanjung Anitasari, selaku pembicara pertama menyampaikan bahwa Human Immunodeficiency Virus (HIV) telah menjadi isu global di bidang kesehatan masyarakat, hal ini dibuktikan oleh status summary HIV/AIDS yang menyebutkan terdapat sekitar 38 juta jiwa dengan penderita HIV pada akhir tahun 2019. Infeksi HIV dapat diukur melalui jumlah virus HIV dalam darah dan CD4 atau sel yang melindungi tubuh dari infeksi.
Dalam seminar tersebut, Tanjung juga menjelaskan bahwa di Indonesia telah mengalami peningkatan stigma dan diskriminasi terhadap ODHA setelah Philiphina. Penderita ODHA masih mengalami diskriminasi yang tinggi di lingkungan masyarakat, padahal kenyataannya HIV tidak menular dengan berjabat tangan ataupun pemakaian kamar mandi bersama.
“Penularan HIV hanya akan terjadi melalui pertukaran cairan tubuh dari penderita seperti darah, cairan mani dan ibu yang menyusui. Sehingga hal ini perlu perhatian khusus untuk memiliki kesadaran diri untuk mencegah,” ujarnya, Minggu (11/4/2021).
Baca Juga: Ikut Program Pertukaran Mahasiswa, Peserta Dapat Konversi 20 SKS
Selaku pembicara kedua, Garis Subandi menyatakan bahwa dirinya sepakat dengan Tanjung mengenai diskriminasi terhadap ODHA di masyarakat masih sangat tinggi. Ia memberikan penjelasan bahwa stigma dan diskriminasi terhadap penderita HIV di masyarakat perlu untuk diminimalisir.
“80% staff di yayasan kami merupakan penderita HIV, ini berarti membuktikan bahwa kami dapat bekerja sama dengan baik kepada siapa pun,” tuturnya, Minggu (11/4/2021).
Pembicara ketiga, Setio Budhi Susilo menjelaskan secara lengkap mengenai pemberian vaksin Covid-19 terhadap penderita HIV/AIDS. Ia menjelaskan bahwa saat ini pemerintah Indonesia sedang menggalakkan program vaksinasi Covid-19 guna meningkatkan sistem kekebalan pada tubuh manusia. Dengan adanya program tersebut, maka seluruh masyarakat Indonesia berhak untuk melakukan vaksinasi Covid-19, tak terkecuali bagi penderita HIV/AIDS.
“Penderita HIV/AIDS bisa melakukan vaksinasi asalkan memenuhi beberapa persyaratan seperti Cluster of Differentiation 4 diatas 200, viral load yang tidak terdeteksi, dan harus terdapat jarak sekitar enam bulan setelah ARV dan dalam kondisi sehat,” ungkapnya, Minggu (11/4/2021).
Salah satu peserta webinar, Laili Nur Fitri mahasiswi Program Studi (Prodi) Kesehatan Masyarakat memberikan tanggapannya terkait acara tersebut. Ia mengatakan bahwa webinar tersebut sangat bermanfaat bagi masyarakat umum, baik untuk ODHA ataupun bukan.
Menurutnya, pembicara dalam webinar tersebut dalam segi penyampaian materinya sangat menarik dan mudah diterima oleh peserta. “Semoga kedepannya dapat mengadakan acara menarik lainnya yang membahas isu-isu kesehatan,” harapnya, saat dihubungi via WhatsApp, Minggu (11/4/2021).
Reporter : Budi Rahayu
Editor : Jannah Arruum Sari






