LPM Pabelan

Salah satu pendiri Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Pabelan, Agus Sumiyanto dalam acara Milad yang ke-48. (18/5) Foto: Pabelan Online/Aqnan Syandi Syahsena

Pabelan-online.com, UMS – Pendiri Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Pabelan, Agus Sumiyanto turut menghadiri acara Milad LPM Pabelan yang ke-48. Dalam forum Temu Alumni, ia berbagi cerita masa lalu dan meresahkan kelangkaan kualifikasi mahasiswa aktivis.

Setelah sesi press carnival yang dihadiri oleh 20 LPM se-Solo Raya, acara dilanjutkan dengan sesi Temu Alumni. Acara tersebut difungsikan untuk mempererat tali silaturahmi antara para anggota dengan para pendahulunya. Pada acara itu juga dihadiri langsung oleh pendiri LPM Pabelan, Agus Sumiyanto, yang mendirikan pada tahun 1977 silam.

Inisiator dari berdirinya LPM Pabelan itu menegaskan bahwa pers kampus adalah wadah untuk mahasiswa yang ingin merawat tradisi intelektualitasnya. Intelektual yang dimaksudnya memiliki tiga sifat, yakni kritis, idealis, dan masih muda.

“Tiga hal ini sebetulnya harus dikembangkan di (LPM–red) Pabelan selama itu. Kita sudah membuatkan wilayah akademik, iklim akademik,” kata Agus dalam forum Temu Alumni pada Minggu (18/5/2025).

Berkaca pada zaman sekarang, ia menyoroti mahasiswa aktivis yang semakin tergerus jumlahnya. Terdapat mahasiswa hedonis dan biasa yang menunjukkan angka sampai 91 persen dari penelitian. Sementara, hanya 2 dan 4 persennya adalah mahasiswa aktivis.

“Kualifikasi mahasiswa aktivis sangat langka,” ujarnya.

Agus mengajak para mahasiswa untuk mengembangkan tradisi literasi. Meski dirinya genap berusia 75 tahun di bulan Agustus nanti, ada sebuah kebiasaan yang hingga kini masih ia lakukan: menulis. Saat ini, ia sedang menulis sebuah catatan tentang Rektor Pertama Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Djazman Al-Kindi dan bagaimana rekan-rekan di sekitarnya memandang Djazman.

“Bukunya sudah 70 persen, (berisi tentang–red) tantangan Pak Djazman sebagai pendiri UMS. Saya meletakkan (LPM–red) Pabelan bagian dari dinamika UMS yang sejak awal didirikan tahun 81,” ucap Agus dengan bangga.

Bagi Agus, UMS tidak semerta-merta menjadi besar semacam ini. Dulunya, mahasiswa Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Muhammadiyah hanya berjumlah sekitar 500 orang dan enggan bergabung dengan banyak perguruan tinggi di Surakarta yang kemudian menjadi Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS).

“Justru bergabung dengan Institut Muhammadiyah Surakarta. Waktu itu hanya ada UMS dan UNS,” tutur Agus.

Dalam perkembangannya tersebut, Djazman kala itu menyebutnya sebagai “rahmat yang tersembunyi”. Agus pun menghimbau pada seluruh mahasiswa agar jangan sampai menjadi mahasiswa yang pragmatis tanpa memiliki idealisme, yang hanya sekadar lulus kemudian mencari pekerjaan. 

“Saya kira itu bukan watak pers kampus,” kata Agus dengan tegas.

Reporter: Muhammad Farhan

Editor: Alfin Nur Ridwan

Also Read

Satu pemikiran pada “Hadiri Milad ke-48, Pendiri LPM Pabelan: Jangan jadi Mahasiswa Pragmatis Tanpa Idealisme”

  1. saya tertarik dengan buku yg sedang ditulis, kebetulan saya pengelola koleksi khusus djazman al kindi di perpustakaan, semoga segera jadi bukunya.

    Reply

Tinggalkan komentar