LPM Pabelan

Seorang mahasiswi sedang membaca-baca buku yang ada di rak buku UMS Bookstore. (4/10) Foto: Pabelan Online/Mg. Jameyra Anne Kanaya

Pabelan-online.com, UMS – Sejumlah mahasiswa tak sengaja menukar voucer semesteran miliknya dengan buku bajakan yang ada di UMS Bookstore. Pihak Bookstore meminta maaf dan bersedia menerima pengembalian buku bajakan untuk ditukar dengan yang asli.

Seorang mahasiswi Program Studi Pendidikan Biologi, Tum (bukan nama sebenarnya) bercerita ketika menukar voucer Bookstore semesteran miliknya. Rencananya, ia hendak menukar voucer itu dengan buku-buku mata kuliah, tetapi urung karena ia telah membeli buku yang ia kehendaki di toko buku lain.

“Akhirnya saya sama temen saya satunya lagi memutuskan untuk menukar voucer itu dengan dua novel series-nya Tere Liye,” ujar Tum saat diwawancarai via WhatsApp, Selasa, (30/9/2025).

Tum menukarnya dengan novel Nebula, sementara temannya menukar voucernya dengan novel Lumpu. Setibanya di rumah, Tum curiga karena buku yang barusan ia bawa pulang tak ada penanda halaman. Padahal, setiap buku Tere Liye selalu ada pembatas bukunya. 

“Tulisan di bukunya itu miring, sama ada beberapa halaman itu kebalik-balik” tuturnya.

Selain Tum dan temannya, ada Anif (nama samaran) yang juga menjadi korban membeli buku bajakan di Bookstore. Biasanya, Anif menggunakan voucer itu untuk membeli buku mata kuliah. Namun, waktu itu ia menukarnya dengan novel Teruslah Bodoh, Jangan Pintar, karya Tere Liye—penulis yang sama dengan buku milik Tum. 

Novel bajakan Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye milik Anif (nama samaran) yang didapat dari menukar voucer semesteran di UMS Bookstore. Foto: Dok. Pribadi

“Seingatku, itu waktu aku semester dua. Kalau komplain belum pernah, tapi pernah sharing ke temen yang memiliki kejadian serupa,” kata Anif, Rabu, (1/10/2025).

Menteri Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat, Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta (BEM UMS), Jody Julian Putra Caesar, mengaku sudah mendengar laporan adanya buku bajakan di Bookstore. Ia berencana bakal langsung menindaklanjuti lewat bidangnya.

“Ini saya rasa perlu dievaluasi kembali di UMS Bookstore itu. Sekelas UMS Bookstore seharusnya tidak menjual buku bajakan. Seharusnya dia menjual buku-buku yang memang berlisensi,” kata Jody, Jumat, (3/10/2025) 

Jody menyayangkan UMS Bookstore yang lalai karena tidak menjunjung tinggi keberhargaan penulis. Seharusnya, kata Jody, mereka mengambil dari penerbit yang pemasukan dari buku-buku tersebut langsung ke penulis. Ia berharap agar UMS Bookstore bertanggung jawab mengganti rugi korban buku bajakan. 

“Saya harap juga korban dalam hal ini yang mendapatkan buku bajakan itu juga diberikan ganti rugi, karena ternyata pas waktu beli itu tidak ada struk pembayaran,” harapnya di akhir wawancara.

Rossi selaku Person In Charge (PIC) Pengadaan Buku dan Barang membenarkan adanya buku bajakan UMS Bookstore. Sebelumnya, pihaknya sempat tidak menyadari bahwa novel karya Tere Liye itu adalah buku bajakan, karena buku itu diambil dari distributor langganan. 

“Soalnya sudah distributor lama, sudah langganan di situ juga,” kata Rossi, Jumat, (3/10/2025).

Rossi mengatakan pihaknya baru mengetahui buku tersebut terindikasi tidak orisinil ketika ada yang melapor kepada Customer Service (CS) melalui WhatsApp. Pihaknya langsung mengecek buku Tere Liye yang tersisa di display dan menarik buku yang terindikasi bajakan untuk diganti dengan yang asli. 

Selain itu, Rossi mengaku tidak memiliki data mahasiswa yang sudah mengambil buku bajakan tersebut lantaran sistem Bookstore sempat mengalami kendala. “Soalnya kemarin itu sistem kami kan baru ke-hack gitu kan. Baru down, kita baru ganti aplikasi yang baru, ini masih proses,” ujarnya. 

Ia menghimbau kepada para mahasiswa yang sudah terlanjur membeli buku bajakan agar dapat menukarnya lagi dengan buku yang asli dengan menghubungi CS Bookstore maupun langsung datang ke UMS Bookstore. 

Rossi membantah soal dugaan buku bajakan itu diberikan lantaran untuk voucer gratisan. Hal itu, ujar Rossi, adalah penipuan. “Buku teks itu kita ambilnya dari penerbitnya resmi. Bukan karena gratis terus kita kasih yang itu. Itu namanya penipuan,” ucapnya.

Selama ini pihaknya memesan buku dalam jumlah yang tidak sedikit dan hal itu tidak memunculkan rasa kecurigaan karena sudah berlangganan cukup lama, “Kita kan ordernya selalu banyak, kita juga nggak curiga sama sekali ya, udah langganan lama gitu kan,” ujarnya.

Pihak Bookstore meminta maaf dan bertanggung jawab dengan mengganti buku yang asli. Ia juga mengatakan tidak berniat untuk menjatuhkan nama UMS dengan melakukan hal-hal seperti itu. Kejadian ini baru pertama kali dan selanjutnya, pihak Bookstore akan mencoba mencari distributor yang lain. 

“Ini bukan kami sengaja. Bukan ada niatan tertentu,” ujar Rossi di akhir wawancara. 

Wakil Rektor II Bidang Keuangan, Investasi dan Aset UMS Muhammad Da’i tidak membantah ihwal adanya buku bajakan di Bookstore. “Kita tentu harus lebih berhati-hati lagi untuk order. Nanti akan saya verifikasi,” kata Da’i saat ditemui di ruangannya, Rabu, (8/10/2025).

Reporter: Mg. Jameyra Anne Kanaya & Mg. Arlinda Putri Kusumaningtyas

Editor: Muhammad Farhan

Also Read

Tags

Tinggalkan komentar